Cerita Anak-Anak Pendek Si Bungsu Dan Burung Kenui

FOTO: dongengceritarakyat.com/indolinear.com
Senin, 13 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Suatu hari, ada tujuh gadis yang berjalan tanpa tujuan. Berhari-hari mereka berjalan dan akhirnya tiba di suatu desa yang sepi. Gadis-gadis itu pun tinggal di desa tersebut. Mereka mendirikan tujuh gubuk dan membuat tujuh ladang. Mereka menanam jagung dan bunga di ladang tersebut.

Hasil panen ketujuh ladang tersebut melimpah dan bunganya menyebarkan bau harum. Wangi itu mengundang seekor burung kenui untuk membuat sarang. Dari semua gadis, hanya si Bungsu yang mengizinkan burung itu membuat sarang. Setelah beberapa hari, burung kenui itu bertelur lalu terbang pergi.

Suatu hari, si Bungsu mencium bau harum masakan. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pemuda tampan di dapurnya. Si Bungsu pun menanyakan siapa gerangan pemuda itu, dilansir dari Dongengceritarakyat.com (12/09/2021).

Kemudian, pemuda itu menceritakan asal-usulnya. Ternyata, ia keluar dari telur burung kenui yang ditinggalkan induknya. Mendengar cerita itu, si Bungsu jadi tidak takut. Mereka lalu menjadi akrab dan akhirnya menikah. Namun, kebahagiaan si bungsu menimbulkan kecemburuan pada keenam kakaknya. Kemudian, muncul niat jahat mereka untuk menyingkirkan si Bungsu.

Suatu hari, si Bungsu mencuci di sungai. Keenam kakaknya mengendap-endap di belakang, lalu mendorong si Bungsu ke sungai. Si Bungsu tak bisa melawan arus hingga terbawa jauh aliran sungai.

Di ujung sungai, si Bungsu ditelan ikan raksasa. Karena kekenyangan, ikan itu tidur di pinggir sungai. Saat itu, seorang nenek melintas dan melihat ikan tersebut. Saat si Nenek mendekat, si Bungsu keluar dari mulut ikan tersebut. Betapa terkejutnya si Nenek. Si Nenek pun menanyakan asal-usul si Bungsu.

Si Bungsu menceritakan apa yang terjadi pada si Nenek. Karena terharu, ia pun mengajak si Bungsu untuk tinggal dengannya.

Di tempat lain, suami si Bungsu bingung mencari istrinya. Ia mencari istrinya dengan menyusuri sungai. Perjalanan pria itu berhenti di sebuah desa di ujung sungai. Ia sangat kelelahan. Ia pun mengetuk pintu suatu gubuk untuk menumpang beristirahat.

Si Bungsu merasa mengenali suara itu. Ia bergegas membukakan pintu. Betapa bahagianya si Bungsu karena suaminya yang mengetuk pintu. Tak berapa lama, si Bungsu dan suaminya berpamitan kepada si Nenek.

Saat sampai rumah, keenam kakaknya menyambut si Bungsu dengan perasaan bersalah. Mereka pun segera minta maaf. Setelah peristiwa itu, ketujuh kakak-beradik tersebut hidup rukun dan damai. (Uli)