Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (9)

FOTO: Eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 10 Februari 2019
Oleh : Moh. Ali Fadillah

Dunia Melayu dari Perspektif Barat

Lantas, bagaimana kontribusi sumber-sumber Eropa bagi sejarah keagamaan Barus? Kita hanya mempunyai teks berbahasa Armenia, yang dikaji dengan baik oleh Keram Kevonian (2002).

Tema teks memang sekitar nama-nama geografi dan potensi sumberdaya alam di lautan timur; sangat penting bagi dunia Mediteranea. Dengan terhimpun dalam manuskrip yang tersimpan di Yerusalam dan Matenadaran, teks yang sesungguhnya diilhami Ptolomeus dan dilengkapi oleh penulis-penulis Arab dan Persia.

Terkagum-kagum pada Oske Gestin, istilah Armenia untuk menyebut Swarnabhumi dalam Ramayana atau Khryse dari penulis Yunani, bagaimanapun ‘pulau emas’ selalu menarik perhatian raja dan pedagang manapun. Tetapi sayangnya, gambaran menyesatkan masih belum terlupakan, karena tanah emas itu dihuni para ‘kanibal’. 

Justeru kehadiran teks Armenia ini untuk memastikan, bahwa kanibalisme berjalan dalam konteks lokal, sebagai konsekuensi dari ‘perang’ antarsuku di pedalaman negeri Zabaj (Sumatra), yang tidak dikenakan pada para pedagang. Sesungguhnyalah bukan kasus unik, karena kebiasaan itu juga dikenal di Kalimantan dalam tradisi kayau seperti digambarkan para penulis Barat sampai awal abad XX.

Pentingnya teks Armenia dalam kajian keagamaan, karena ia mengungkapkan diversitas budaya lebih kompleks dari pada teks sebelumnya dalam teritori kekhalifahan Abbasiyah. Orang Kristen Timur, kerap disebut penganut Nestorian, menjadi anutan banyak orang Syiria dan Armenia. Bersama penganut lainnya: Yahudi, Zoroastrisme dan lainya menjadi bagian dari keluarga-keluarga terkemuka di Timur Dekat, malahan sebelum jatuhnya bekas wilayah Sassanid itu ke tangan penguasa Islam.

Dan Dinasti Abbasiyah, rupanya hanya melakukan hegemoni atas teritori luas dengan komitmen tetap melindungi penganut lain. Sebut misalnya, dalam kekuasaan Umayyah berpusat di Damas, pernah ditemukan sebuah piring keramik bermotif cuerda seca (warisan teknik keramik Byzantium), tertera aksara Arab yang menyebut ‘dibuat oleh perajin Kristen untuk Pangeran Sulaiman yang taat (Soustiel, 1985).

Sayangnya teks manuskrip Armenia kurang memberi perhatian pada sebaran tempat ibadat Syria – Babylonia. Demikian pula hierarkinya di Asia. Tetapi harus dicatat menaiknya peran politik Abbasiyah di Bagdad (abad IX-XII) dengan aktor-aktor eksekutif dari Dinasti Seljuk (pseudo-Turki), kemudian dilanjutkan dengan dinasti Buyid (Iran) menjadi stimulan tersebarnya komunitas Kristen dan Islam dalam jalur niaga maritim; jalan alternatif setelah jalur sutra banyak mengalami gangguan dari manuver suku-suku perang dari daerah Mongolia.

Proposisi ini bisa sejajar dengan teks yang mengindikasikan adanya komunitas Kristen dalam jalur perniagaan timur ini. Diterangkan bahwa pada abad IX seorang Uskup Syria yang dikirim Quilon (?) ditugaskan untuk melindungi kepentingan Kristen dan Yahudi dan mengawasi masalah timbangan dalam transaski ekonomi (Neil, 1984: 45-46).

Beberapa indikasi arkeologis kelihatannya dapat sedikit menjelaskan keberadaan mereka di Timur Jauh. Jacq-Hergoual’ch (1992) menginformasikan telah ditemukan struktur bangunan yang diduga bekas kapel (chapelle) di situs Bukit Penjara, Kedah Selatan, Malaysia. Struktur bangunan beratap melengkung itu, kiblatnya ke barat.

Maka bukan kebetulan jika pada situs itu ditemukan pecahan keramik dan kaca Timur Tengah (Suhaimi & Othman Yatim, 1982). Kedah Selatan dikenal sebagai pelabuhan niaga internasional sejak abad V Masehi,. Selanjutnya, Kevonian mengutip beberapa manuskrip lain yang mengatakan bahwa beberapa tempat ibadah pernah ada di Fansur dalam lingkup keuskupan Syria-Babylonia.

*Penulis adalah Anggota Banten Heritage