Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (8)

FOTO : Eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 9 Desember 2018
Oleh : Moh. Ali Fadillah

 Tapak Tamaddun Islam

Sumber informasi lainnya berupa prasasti-prasasti yang tertuang pada nisan-nisan kubur di Barus sendiri dari abad XVI-XVII, yang banyak menyebut nama ulama bergelar ‘syekh’ dan ada pengakuan sebagai murid Samsuddin dan pasti menjadi murid tidak langsung Hamzah Fansuri. Kepentingan nisan kubur lokal di sini bukan lagi soal nama, tetapi penyertaan syair-syair dalam dua bahasa: Arab dan Persia.

Sejauh ini ahli Indonesia belum mampu untuk mengungkapkannya, harapan lantas bertumpu pada Dr. Ludvik Kalus, ahli epigrafi Prancis yang baru mempublikasikan teks-teks nisan kubur Barus dalam edisi Perancis di bawah judul “Les sources épigraphiques musulmanes de Barus“ (Guillot, 2003).

Dengan semua kualitas itu, Barus bisa dikatakan sebagai satu-satunya tempat di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang kaya dengan bukti-bukti terserapnya peradaban Arab-Persia. Lahirnya sufi-sufi besar dan kontribusinya bagi kesultanan Aceh dan lainnya di Nusantara telah mewarnai muqadimah dan ketentuan hukum ketatanegaraan kesultanan seperti ‘Undang-undang Malaka’, ‘Bustanusalatin’, ‘Tajusalatin’ di Aceh, ‘Hukum Qanun’ di Pontianak dan juga ‘Kuthara Taranggana’ di Demak dan Banjarmasin, dan juga Undang-Undang Kesultanan Banten. 

Tampak di sini ada transfer pengetahuan: norma-norma agama dalam tata pemerintahan dan kemasyarakatan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan Jawa, yang pada gilirannya menandai kemantapan etika dalam konteks administrasi pemerintahan. Jadi semua sumber tekstual itu telah mempresentasikan sebuah elit agama, sumber inspirasi, pengayom dan pengendali kehidupan, bukan hanya dalam lokalitas Barus melainkan juga hampir di seluruh pusat perniagaan yang begitu cepat tumbuhnya mulai abad XV dan XVI.

Para elit agama itu, bukan saja menjadi mediator bagi hubungan sang Pencipta dan mahluknya, tetapi juga hubungan penguasa bumi dan yang dikuasainya, meskipun kerap harus berhadapan dengan despotisme suatu rezim akibat perbedaan-perbedaan penafsiran dan prakteknya. Dalam kondisi seperti itu, Barus terbukti menjadi tempat ‘merdeka’ bagi para martir dan penganut setia sufisme yang terpinggirkan atau memang sengaja mengisolasi diri dari hiruk-pikuk lingkungan istana Kesultanan Aceh sepeninggal Syeikh Syamsuddin, dan baru menaik lagi perannya dalam nuansa pembaharuan Syekh Abdul Rauf Singkel, yang tetap mengaku sebagai ‘Asal Bangsa Fansuri’ (Fatturahman, 1999).

Baca Juga :  Melihat Istana Para Pemangku Adat Aceh

Prasasti-prasasti Tamil juga telah menjelaskan tampilnya gilde pedagang India penganut Siwa. Religiusitas itu meski tersembunyi dalam konteks perniagaan regional India, tetapi menjadi elemen spiritual penting dalam berbagai transaksi ekonomi di luar wilayah budaya asalnya di semenanjung selatan India. Aplikasinya ditunjukkan dalam prasasti melalui “berjalan di atas kain” untuk memperoleh “kebaikan”  dalam transaksi di bawah perlindungan Dewi Durga atau Parameswari.

Prasasti-prasasti Arab dan Persia pun demikian. Religiusitas Islam bukannya berjalan sendiri di antara para pedagang, tetapi memerlukan kehadiran elit agama; pastilah menjadi sumber acuan kebenaran moral dalam berbagai pranata sosial. Demikian pula berkembangnya seni bermasyarakat, telah diajarkan oleh Hamzah Fansuri, bahwa Islam tak mengenal suku, ras dan bangsa serta tingkatan apapun, keculi keimanannya kepada Tuhan.

Sastra Islam telah menjadi media penyampai pesan, mengajarkan nilai kebaikan dan kebajikan dalam rangka meningkatkan keimanan melalui bahasa dan tutur yang indah dalam syair-syair Persia; sebuah tradisi tua yang telah lama berkembang di lembah Eufrat, warisan kebudayaan Partha dan Sassanid yang kemudian mendapat sentuhan Islam.

*Penulis adalah Anggota Banten Heritage

%d blogger menyukai ini: