Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (7)

FOTO : Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 2 Desember 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

 Hamzah al-Fansuri, Sufi Melayu dari Barus

Ketika menyebut negeri Fansur, orang segera teringat pada penyair sufistik besar, Syekh Hamzah al-Fansuri. Sumber informasi tentang dirinya diberikan oleh epitaph nisan kubur di kompleks Bab Ma’la, Mekah, sebagai tanda dimakamkannya Hamzah Fansuri: Wafat pada 9 Rajab 933 Hijrah atau 11 April 1527 M (Guillot & Kalus, 2000).

Kepentingannya, epitaph nisan itu menyebut nama Hamzah bin Abdullah sekaligus toponim: Fansur, yang dianggap sebagai negeri asal almarhum. Istilah ”fansur” telah dapat dikenali untuk menyebut Pancur (tempat berhimpunnya aliran air) di teluk Barus.

Dan sekarang penduduk setempat masih mengenangnya sebagai Pancur, yang dalam teks Arab dialih-aksarakan menjadi Fansur atau kerap disebut juga Al-Fansur, nama tempat dimana Hamzah Al-Fansuri pernah berdiam di sekitar kota Baru Tua.

Tetapi yang terpenting bagi kita, nisan itu mengindikasikan eksistensi seorang intelektual Melayu dalam komunitas muslim di Mekah, pusat suci umat Islam dunia. Dengan menyantumkan ayat suci al-Quran (QS. 10:62) alla inna auliya Allah la khaufun alaihim wa laa hum yahzanuun, menjadi referensi utama kedudukan sang wali dari negeri Jawi, Hamzah Fansuri di dunia Timur Tengah, jauh sebelum dikenalnya Wali Songo di Jawa yang amat masyhur di Indonesia.

Melalui gelar kehormatan yang diberikan, sayyidina, Hamzah mungkin berada pada hierarki tinggi dalam jajaran sufi. Ia mendapat legitimasi sebagai ‘syeikh’ yang taat dan yang mengabdikan dirinya hanya kepada Allah. Bahkan, dalam baris penutup disebutnya sebagai syeikh al-marabath. Dr. C. Guillot dan Dr. L. Kalus (2000) menerjemahkannya sebagai combattant à la frontière, ‘pejuang di garis depan’.

Secara historis, temuan nisan kubur Hamzah telah dengan sendirinya menghentikan silang pendapat para pakar keislaman seperti Prof. Syeid Naguib Al-Atas (1970), Vladimir Braginsky (1999) dan terakhir Dr. Abdul Hadi WM (2002) yang mengkaji Hamzah Fansuri hanya melalui karya-karya puisi mistiknya, tetapi selalu ragu untuk menjawab asal-usul, riwayat hidup dan yang penting, di mana pusaranya.

Baca Juga :  Pesta Budaya Suku Asmat Ditunda Menjadi Awal Tahun Depan

Dengan penemuan kubur Hamzah Fansuri di Bab Ma’la, Mekah itu, sejak saat itu ada kepastian. Dengan begitu, artikel Abdul Hadi di majalah Panjimas No. 03 / vol. I (30 Okt – 12 Nov 2002); terbit sesudah seminar tentang Barus di TMII dua minggu sebelumnya, yang memperkirakan Hamzah Fansuri hidup di Barus pada pertengahan abad XVI dan awal abad XVII, yang makamnya di Singkel (Aceh), dari sekarang sudah terkoreksi, karena Hamzah Fansuri hidup di Barus pada akhir abad XV dan awal abad XVI, kemudian wafat tahun 1527 di kota suci Mekah.

Maka beralasan, berkat kedudukan dan karyanya, ia mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Ia telah tampil sebagai penerus dan bahkan pengembang pertama ajaran sufi besar Syekh Abdul Qadir Zaelani, penggagas tasawuf mazhab al-Baghdadi. Pengaruhnya tampak nyata setelah dilanjutkan oleh Syamsuddin as-Sumatrani, Abdul Rauf Singkel di Aceh, dan belakangan, tidak tertutup kemungkinan, mencapai Jawa Barat melalui Syekh Abdul Muhyi dan di Sulawesi Selatan melalui Syekh Yusuf al-Mangkasari dengan tarekat syattariyah.

*Penulis adalah Anggota Banten Heritage

%d blogger menyukai ini: