Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (6)

FOTO: Moh. Ali Fadillah For Indolinear.com
Senin, 26 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Melacak Peradaban Timur Tengah

Sumber utama peradaban Islam yang ditemukan di situs Lobu Tua berupa benda kaca hijau yang panjangnya hanya 15 mm, menyerupai mata kalung atau cincin, tetapi Dr. Kalus (2000: 23-24) menduga sebagai le sceau-talisman (jimat bercap). Jejak itu, yang penting adalah karena benda ini mengandung inskripsi kaligrafi Arab berbunyi ‘Allah’, ‘Muhammad’ pada posisi ‘negatif’.

Artefak impor ini diperkirakan berasal dari kota Khurasan (Iran) dari abad X-XI M yang banyak diproduksi selama periode Dinasti Seljuk dalam kekhalifahan Abbasiyah. Ludvik Kalus (2000) menyebutnya sebagai salah satu inskripsi Islam tertua di dunia Melayu, setelah nisan Fatimah binti Maimun tahun 1082 di Leran (Gresik), Jawa Timur.

Benda ini mestinya terasosiasi dengan keberadaan komunitas Muslim di Barus, mungkin sekadar hiasan, tetapi terkandung maksud pemakainya untuk mendapatkan perlindungan Tuhan dan berkah Nabi. Namun karena posisinya terbalik, bisa jadi berfungsi sebagai cap atau stempel yang biasa melekat pada cincin, dalam asosiasinya dengan kegiatan niaga; instrumen ijab qabul dalam sistem pertukaran Islam.

Temuan ini juga dengan sendirinya menunjukkan variasi etnik dari komposisi muslim di Barus; yakni saksi keberadaan orang Persia.  Bukti lebih kuat lagi ditunjukkan oleh fragmen-fragmen tembikar berglasir buatan Nichapour atau Suse; terkenal sebagai pabrik wadah keramik di negeri Persia dengan ciri khasnya berupa motif sgraffiato (goresan) dan percikan-percikan tiga warna di bawah glasir timah hitam transparan, menyerupai keramik Sanchai produksi Dinasti T’ang (abad IX-XI).

Namun orang Persia tak sendiri, ada indikasi bangsa-bangsa lain seperti Syiria dan Mesir yang pada abad-abad IX-XI memang telah meramaikan perekonomian Teluk Persia di bawah kekuasaan Abbasiyah. Satu bukti penting misalnya ditunjukkan oleh fragmen benda kaca dalam jumlah besar, yang bisa jadi dibuat di Iran, tetapi kebanyakan gayanya menunjukkan produk  Fostat, sebuah kota yang dibangun sejak era kekhalifahan Umayah di tepi sungai Nil, Mesir.

Jadi, dalam religiusitas Islam sendiri, identitas budaya beragam ditampakkan oleh jejak-jejak teknologi Timur Tengah dan Mediteranea. Maka, keberadaan artefak Islam bisa dikirakan berasal dari abad IX-X Masehi, saat kekuasaan politik dipegang oleh Dinasti Abbasiyah. Dalam konteks ini besar kemungkinan di antara mereka terdapat dua penganut yang pada waktu itu sedang menaik tensinya, antara kelompok sunni dan syi’ah, yang memotivasi suksesi kekhalifahan.

Tentu saja kita tidak melupakan peran yang dimainkan budaya Yunani-Romawi, yang melalui pengaruh Byzantium dapat memasuki ranah budaya Islam. Jadi, komunitas Islam tidak berarti homogen dalam memanifestasikan keimanan, karena paham keagamaan asal juga memberikan ciri kultural sendiri.

*Penulis Merupakan Anggota Banten Heritage

INDOLINEAR.TV