Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (5)

FOTO: eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 18 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Komunitas Asal India Selatan

Berbagai potensi arkeologis seperti diuraikan di atas, mau tidak mau, memaksa kita memberi karakter kota niaga pada Barus, artinya interpretasi lebih diarahkan pada aspek sejarah ekonomi. Sebuah konsekuensi lain, sebaliknya menjadi terabaikan. Sebagai efek kemakmuran suatu masyarakat, elemen-elemen religiusitas dari suatu entitas multi-kultural dan bahkan multi-rasial, mestinya telah lama terungkap.

Sayangnya, berbagai kajian lebih terarah, kecuali pada perilaku ekonomi, selebihnya tercurah pada kehidupan elitis tokoh-tokoh (pelaku sejarah) utama seperti Hamzah Fansuri, Samsuddin as-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel yang berbasis pada karya-karya sufistik mereka. Tetapi bagaimana dengan kehidupan common man, tulang punggung kehidupan pemukiman pesisir dan pedalaman, sejak munculnya Barus pada awal abad pertengahan? Masih tetap ‘membisu’.

Aktor-aktor sejarah yang ‘diam’ ini memang luput diungkapkan dalam fieldwork arkeologi. Justeru disinilah diskusi kita menemukan ‘relevance’ untuk mengangkat kembali kepentingan religiusitas Barus. Gagasan orisinal ini akan memaksa kita menggunakan arkeologi dalam taraf sintesis dan komparatif, yang menempatkan arkeologi bukan sekadar kajian objet d’art, tetapi menunju ke arah study of human behaviour  (Redman, 1973). Sekurang-kurangnya mengetahui latar etnik dan budaya lainnya. Untuk memulainya pertama-tama kita akan memeriksa teks-teks tertua yang pernah ditemukan tentang Barus.

Sumber utama, prasasti Tamil (1088 M) yang ditemukan di situs Lobu Tua tahun 1873 dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Sejauh ini para ahli lebih tertarik melihat prasasti sebagai batu peringatan adanya kumpulan pedagang Tamil yang tergabung dalam asosiasi ‘Lima Ratus’; sebuah jaringan ekspansi ekonomi di bawah pengaruh Dinasti Chola dan Andhara di India Selatan.

Kepentingan historiknya terletak pada ultimatum untuk memastikan lokasi Barus atau Fansur setelah lama dalam perdebatan. Keunikan prasasti tidak menyebut nama raja, tetapi menggunakan pertanggalan Saka; yang telah lazim digunakan prasasti-prasasti Jawa dan Sumatra. Prasasti ini memang merupakan ungkapan ‘bisnis murni’, tetapi beberapa kata kunci menyiratkan religiusitas komunitas Tamil di Barus.

Mari mulai dari ungkapan: varocana matankari vallavat teci uyyakkonta pattinattu velapurattu. Secara harafiah bisa diartikan “negeri varocu yang dikasihi oleh matankari, yang melindungi pattinam di velapuram. Dengan pendekatan sosio-linguistik, Subbarayalu (2002) menafsirkan bahwa varocana atau varocu adalah kata Tamil untuk menyebut Barus, sebuah negeri di bawah perlindungan Matankari; tokoh mitos berwujud induk para gajah (Ganesha?) atau perwujudan Dewi Durga dalam manifestasi Matankari atau Parameswari. Ini bisa jadi merupakan metafora; sebuah harapan agar seluruh warga kota mendapat perlindungan divine power, baik di dalam kota (pattinam) maupun di pelabuhan (velapuram). Metafora itu merupakan refleksi dari religiusitas yang sudah mengakar di Kerajaan Andhara.

Dari arti harafiah itu, interpretasi diarahkan pada suatu keadaan di mana para pedagang Tamil adalah penganut Hindu yang memuja Dewa Siwa, karena Parameswari atau Durga adalah çakti Siwa. Terkandung dalam pengertian itu adalah puji-pujian dan harapan agar Dewa yang dipuja merestui asosiasi pedagang, pemilik kapal (marakkalam), nakhoda (marakkala-naya) dan pekerja pelabuhan (kevi). Bisa jadi, ini menunjukkan bahwa setiap orang dan aktivitas tunduk di bawah suatu norma religius warisan India. Memang tak ada bukti arsitektural berupa candi misalnya, tetapi pernah ditemukan sebuah fragmen batu granit kecoklatan diupam sangat halus, sangat mungkin potongan kaki arca; bahan yang biasa digunakan untuk membuat arca-arca India Selatan.

*Penulis Adalah Anggota Banten Heritage