Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (4)

FOTO: eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Sabtu, 17 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Hibriditas Budaya Urban

Sebuah perjalanan mesti dilakukan untuk mencapai tempat lain yang terindikasi korelatif dengan Lobu Tua. Bukit Hasang adalah situs terpilih, yang terletak di sebelah timur laut kota Barus modern, di sekitar kaki perbukitan. Situs ini merupakan areal pemukiman terbuka dan sekarang dipadati rumah-rumah penduduk.

Kekunaan situs yang mempunyai keluasan sekitar 5 ha itu, kecuali ditandai oleh sebaran pecahan keramik dan tembikar, juga terdapat kompleks makam Tuanku Batu Badan, seorang mubaligh yang sangat mungkin hidup pada abad XVII. Pada kompleks ini terdapat pula sebuah batu nisan bertanggal 1206-7 Masehi (Ambary, 1979: 13).

Situs yang ketiga adalah Kedai Gedang, yang terletak di pantai tenggara kota Barus, dikelilingi rawa dan pohon nipa. Ia mengalami aktivitas intensif dari pemanfaatan rawa oleh penduduk. Banyak ditemukan mata uang Belanda, Spanyol, Cina abad XVIII. Pecahan keramik dan gerabah juga ditemukan pada areal seluas 2 hektar.

Dan situs terakhir adalah Barus Mudik. Terletak di sebelah utara kota Barus, pada tepian sungai Silahar, situs sangat padat dengan perumahan penduduk. Namun, bencana banjir besar tahun 1935 menjadi penyebab kerusakan berat.

Perubahan aliran sungai telah menghancurkan keraton Ketua Marga Pohan. Seperti situs Lobu Tua, pada situs ini ditemukan benteng tanah, tetapi sebagian besar (sisi barat) hilang oleh perubahan aliran sungai sedangkan batas timur menjadi hunian penduduk.

Dari bukti-bukti arkeologis tersebut, baik secara kronologis maupun keruangan, situs pemukiman di Barus telah dapat ditentukan wataknya. Bermula dari pertengahan abad IX sampai abad XI, kota Barus tua terpusat pada situs Lobu Tua.

Peran situs ini tampaknya sekadar pelabuhan tempat orang-orang asing datang mencari produk kamper dan lainnya. Tentu saja beberapa di antaranya ada yang menetap lama dan ada juga yang temporer.

Para pedagang itu datang dari berbagai pelabuhan di sepanjang lautan India sampai sejauh Teluk Persia: seperti dari daerah Tamil, Srilangka, Timur Tengah, Persia dengan ideologi dan agama berbeda-beda. Tidak tertutup kemungkinan juga dari Jawa telah mencapai pelabuhan ini.

Sudah tentu, untuk memenuhi kebutuhan mereka, penduduk lokal ikut berpartisipasi mencari dan memasok kamper dan kemenyan dari pedalaman. Sebaliknya para pedagang asing itu memasok barang-barang impor dari negerinya masing-masing seperti telah disebutkan di atas.

Dengan interaksi itu, pertukaran kebudayaan dengan sendirinya berlangsung pada sebuah areal yang tidak terlalu besar, namun cukup dapat memberikan pijakan awal bagi perkembangan sebuah peradaban di era berikutnya. Dan kita tahu, pada akhirnya, Islam memainkan peran yang kontinu dalam membentuk peradaban kota setelah situs Lobu Tua mengalami deklinasi selamanya.

Di sini tampaknya ada alasan kuat bagi Bukit Hasang untuk menggantikan perannya, sedini abad XIII dan XIV, sebelum akhirnya terbuka pemukiman baru di Barus Mudik antara abad XVIII dan XIX; embrio kota Barus yang ada sekarang. Sementara kawasan Bukit Hasang kini menjadi pemukiman yang padat dengan munculnya bangunan-bangunan gereja, memberi warna baru bagi tipe ‘regional’ Barus modern.

*Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

INDOLINEAR.TV