Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (3)

FOTO: eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 11 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Tapak Arkeologi Barus

Untuk pertama kalinya penelitian arkeologi di Barus dilakukan tahun 1978 dan 1985. Pekerjaan rintisan itu telah berhasil mengidentifikasi beberapa situs penting dan mengajukan kronologi sementara dari empat lokasi yang pernah diokupasi secara suksesif: Lobu Tua, Bukit Hasang, Kedai Gadang dan Barus Mudik (Ambary, 1979; Nurhakim, 1989).

Dengan mendasarkan diri pada data pertanggalan relatif yang diberikan sejumlah fragmen keramik Cina (antara Dinasti T’ang, Ming dan Qing) yang ditemukan di keempat situs, disimpulkan bahwa situs Lobu Tua dianggap mempunyai bentang waktu yang amat panjang mulai dari abad VII sampai dengan abad XIII, demikian pula situs-situs lainnya: Bukit Hasang mulai dari abad XII, Kedai Gedang mulai dari abad XIII dan Barus Mudik mulai dari abad XVIII.

Sudah tentu kronologi itu  belum memberi kepastian mengenai sekuensi waktu dari ke empat situs tersebut. Oleh karena itu penelitian arkeologi tahun 1995 sampai tahun-tahun berikutnya, mencoba mencari jawaban yang agak persis mengenai masa huni dari situs-situs pemukiman kuna tersebut, sekaligus menentukan situs-situs pemukiman yang terkait dengan periode berkelanjutan itu.

Rupanya, setelah sepuluh tahun masa penantian, Dr. Claude Guillot bersama tim dari Centre National de la Rechereche Scientifique (CNRS) dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, setelah sukses merampungkan proyek penelitian kota Banten pra-Islam, terpanggil untuk memasuki dunia Barus. Sebuah ambisi, di sini, telah menemukan relevansinya.

Penelitian tahun 1995 itu, telah memberi kita data arkeologi yang luar biasa dari jumlah dan kualitasnya. Temuan terpenting bisa disebutkan mendekati kebenaran hipotesis tentang kronologi tertua (sekitar abad IX) dan menetapkan Lobu Tua sebagai pelabuhan terawal dari situs-situs lainnya. Untuk memastikan bahwa situs Lobu Tua merupakan pusat hunian para pedagang, sekurang-kurangnya sejak abad IX sampai abad XI, maka penelitian tahun 1996 sampai tahun-tahun berikutnya telah memberi petunjuk baru, bahwa pada kurun dua abad itu telah tumbuh sebuah peradaban kota niaga, sejenis urban civilization di pesisir barat pegunungan Batak; ciri-ciri masyarakat kosmopolit telah menapak di Barus, menjadi tidak terbantahkan. Oleh karena itu, mari kita lihat satu demi satu situs-situsnya.

Pertama-tama boleh disebut situs Lobu Tua. Terletak di sebelah barat laut kota Barus sekarang, situs itu berupa areal kebun dengan keluasan sekitar 2,5 ha di pesisir pantai yang pada bagian daratnya dikelilingi oleh benteng tanah. Di dalam benteng tersebut telah ditemukan sejumlah besar sisa-sisa hunian yang padat seperti fragmen keramik, tembikar, manik-manik, kaca, logam, fragmen batu dan bata.

Dengan spesifikasi atribut arkeologinya, artefak tersebut secara keseluruhan, tetapi terutama menurut pertanggalan relatif dari keramik dan kaca, memberi bentang waktu antara pertengahan abad IX sampai sekitar abad XII (Dupoizat, 1998; Daniel Perret & Riyanto, 1998; Guillot & Wibisono, 1998). Pada situs ini pula dulu pernah ditemukan inskripsi berbahasa Tamil dari tahun 1088 Masehi, yang menyebut asosiasi gilde pedagang Tamil yang disebut kelompok Lima Ratus (Sastri, 1932; Subbarayalu, 1998).(Bersambung)

*Penulis Merupakan Anggota Banten Heritage