Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (2)

FOTO: eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Sabtu, 10 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Komoditas Parfum Dunia

Pertanyaan kita sekarang mengarah pada dimensi ruang dan waktu atas dua toponim itu: apakah Barus dan Fansur adalah dua nama untuk tempat yang sama atau sebaliknya? Dan, apakah kedua nama itu dikenal dalam waktu yang bersamaan? Yang pasti kedua tempat itu, tidak diragukan lagi, sebagai negeri penghasil ‘kamper’ (Driobalanops aromatica) paling bermutu.

Maka beralasan, tempat itu telah menarik pedagang dari berbagai penjuru dunia, sejauh Mediteranea di belahan barat dan negeri Cina di belahan timur, untuk datang, berdagang dan sangat mungkin bermukim di tempat itu; temporer atau permanen. 

Berkat produk kamper itulah, Barus atau Fansur, bukan mustahil, menjadi salah satu tempat tertua di antara negeri-negeri di bawah angin (Nusantara), di mana berbagai bangsa dengan cara pandang, agama, budaya dan bahasa yang berbeda-beda berkumpul dalam satu ruang mukim Barus Bandar Tua.

Kota Barus, begitulah kini sejarawan menyebutnya, situs arkeologi itu sekarang lebih dikenal dengan nama Lobu Tua, sekitar 60 km di timur laut Sibolga, Tapanuli Selatan. Namun berkat perannya begitu penting di masa lalu, tidak keliru jika kita sekarang ingin mengkategorikan Barus sebagai sebuah interaction sphere.

Tetapi, mungkinkah kedatangan para pedagang dari berbagai penjuru dunia itu semata-mata untuk transaksi niaga? Tidakkah akan terjadi asimilasi, akulturasi, atau bahkan dominasi, entah itu bersifat politis, ekonomis atau kultural? Lalu, kebudayaan apa yang kemudian menjadi ‘payung’ dari masyarakat multi-rasial, atau lebih tepatnya multi-kultural itu, jenis peradaban apa yang dihasilkan, dan kapan itu terjadi.

Terakhir, pertanyaan yang paling esensial buat kita, apa pengaruhnya bagi kebudayaan setempat dan bagaimana populasi lokal menghadapi berbagai peradaban dunia yang datang di hadapan mereka, sedini abad VII? Inilah sederet isu paling penting yang diseminarkan dengan tema “Peranan Barus Raya sebagai Pusat Peradaban dan Bandar Niaga Internasional sejak abad I – XVII Masehi” di Gedung Bayt al-Quran, TMII Jakarta.

Kepentingan seminar, meskipun telah enam belas tahun berlalu, terletak pada presentasi berbagai kesaksian yang benar-benar baru bagi bangsa Indonesia. Apa yang selama ini menjadi teka-teki tentang peranan Barus: apakah sebagai ‘kota kelahiran’ penyair dan sufi besar Hamzah Fansuri ataukah sebagai bandar tua di dunia, mulai mendapatkan titik terang.

Malahan, sanggup mematahkan hipotesis semisal Prof. O.W. Wolters (1967) yang pernah mengemukakan, ‘Kalau pun benar ada pelabuhan Barus, seharusnya terletak di pesisir timur Sumatra antara pantai Aceh utara dan Tanjung Intan’. Sejak hari itu, kita harus menentukan sendiri, Barus atau Fansur terletak di sekitar kota Barus sekarang, di pantai barat laut Sumatra. Tetapi untuk persisnya, mari kita mendiskusikan itu bersama.

Tulisan kecil ini sekadar mengkomunikasikan kembali hasil-hasil penelitian arkeologi dan beberapa tinjauan yang belum sempat diterbitkan dalam edisi populer. Urgensinya terletak pada reposisi kita pada upaya pemaknaan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya berkaitan dengan aspek-aspek keagamaan; yang biasanya menjadi elemen paling resistan dalam menghadapi perubahan-peruahan sosial, politik dan ekonomi di berbagai kawasan Indonesia dan juga Asia Tenggara.

Religiusitas itu, kendati bersumber pada berbagai peradaban besar dunia: India, Timur Tengah, Cina dan Barat, tetapi beberapa kasus di Indonesia menyisakan jejak-jejak adaptasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu dengan akar budaya keindonesiaan. Pada kesempatan ini, kita mencoba melihat Barus, bagaimana lokalitas itu menampilkan dirinya berdasarkan sumber-sumber sejarah: arkeologis dan tekstual.(bersambung)

*Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

INDOLINEAR.TV