Catatan Budaya : Kapur Itu Dari Barus, Jejak Peradaban Dunia (1)

Eksklusif Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 4 November 2018
Oleh : MOH. ALI FADILLAH

Harumnya Kapur Surgawi

Sampai tahun 2000-an masih banyak orang belum mengenal Barus. Alih-alih sejarah, lokasi pun tidak tahu, darimana asalnya, dimana adanya? Orang hanya tahu, Kapur Barus itu harum baunya.

Disinilah hak untuk mengetahui peristiwa sejarah terabaikan. Alasan mendasar, bahwa sedini abad XVII, saat kemerosotan peran Barus di bawah bayang-bayang dominasi ekonomi politik Aceh-Darussalam; Barus tidak lebih dari sebuah desa nelayan kecil, yang kadang tidak tampak dalam peta Indonesia. Kalau ada tokoh yang mesti diberi penghargaan dalam konteks historisitas Barus, seharusnya Hamzah Fansuri lah, karena puisi-puisi sufistiknya tidak pernah henti menggemakan The Golden Age of Barus, seperti banyak dikaji oleh Syed Naguib al-Atas (1970) dan Abdul Hadi W.M. (2002).

Keawaman orang tentang Barus juga amat menyedihkan. Kita biasa menggunakan ‘kamper’ sebagai pengharum: di lemari pakaian, di rak buku, juga di toilette. Pengharum itu begitu dekat dalam keseharian kita, tetapi tahukah, terbuat dari apa benda itu, dari mana asalnya dan bagaimana mengolahnya sebelum dikemas menjadi berbagai produk siap pakai? Sayang sekali, setumpuk pertanyaan awam itu tidak terungkap dengan jelas sebelum seminar tentang penemuan benda-benda bersejarah dari Barus pada 14-15 Oktober 2002 di gedung Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Padahal, justeru karena benda ‘sorgawi’ itulah Barus menjadi terkenal di belahan barat dan timur planet kita sejak abad-abad pertama Masehi, seperti pernah dicatat Claudius Ptolemeus dalam bukunya, Geographia. Dulu, orang Indonesia dan juga Melayu biasa menamai benda itu ‘kapur barus’, tetapi entah gejala apa yang terjadi, orang lebih suka menyebutnya ‘kamper’. Pasti itu diambil dari kata alcanfor, camphor atau camphre, cara orang Barat mengeja kata aslinya dari bahasa Melayu: ‘kapur’. Jika kemudian orang menyebutnya ‘Kapur Barus’; seperti halnya para musafir Cina, sekurang- kurangnya sejak abad VI, menyebutnya gubu pö-lu.  Maka artinya ‘kapur’ itu berasal dari Barus.

Lain halnya dengan para penulis Timur Tengah, entah itu dalam bahasa Persia, Turki atau Arab, sedini abad IX, selalu menamai kristal getah pohon Drybalanops aromatica itu dengan sebutan al-kafur, seperti juga nama itu disebutkan dalam Al-Quran (QS 76: 5-6): “Sesungguhnya orang-orang baik, mereka meminum minuman di dalam gelas, ialah minuman yang terdiri dari campuran kapur, yaitu mata air dari mana hamba-hamba Allah dapat minum; mengalir ke tempatnya masing-masing dengan semudah-mudahnya”.

Dalam konteks itu, al-Quran memberikan sebuah metofora tentang sorga yang dijanjikan dalam keharuman ‘kapur’, yang sekaligus mengindikasikan luasnya pengetahuan Timur Tengah akan kualitas kapur dari negeri Balüs atau Fansur; dua toponim yang kerap mengaburkan pengertian.(bersambung)

*Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

%d blogger menyukai ini: