Cadangan Nikel Untuk Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik Di Indonesia Tahan 30 Tahun

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 2 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Indonesia tengah serius membangun ekosistem kendaraan listrik nasional. Bahkan, untuk industri baterai mobil dan motor listrik, pemerintah memiliki target yang tidak main-main, yaitu sebagai pemain penting di dunia.

Hal tersebut, kemudian didukung oleh pernyataan Ketua Tim Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana, jika PT Aneka Tambang (Antam) memiliki cadangan nikel untuk menopang bisnis industri baterai listrik Indonesia yang dapat bertahan hingga 30 tahun.

“Antam ini merupakan pemilik cadangan nikel yang akan digunakan dan sudah dihitung akan mampu hingga 30 tahun,” ujar Agus seperti dikutip dari Liputan6.com, (31/05/2021).

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir telah mengumumkan pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC), sebagai basis pembentukan industri baterai kendaraan listrik (EV battery) di Tanah Air.

Holding ini terdiri dari empat perusahaan BUMN, di antaranya PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

Dijelaskan Erick, pembentukan IBC ini jadi bukti kesuksesan rencana pemerintah selama satu tahun terakhir. Menurut dia, alam Indonesia juga diuntungkan lantaran banyak menyimpan nikel sebagai bahan dasar pembentukan EV battery.

“Alhamdulillah yang sudah kita jalankan sama-sama, kita mau, kompak, ini bisa terbukti. Apalagi kita dikasih anugerah kekayaan nikel hampir 24 persen dunia,” kata Erick beberapa waktu lalu.

Ekonomi ramah lingkungan

Sementara itu, kehadiran EV battery juga nantinya akan membuat Indonesia lebih bersahabat dengan ekonomi ramah lingkungan (green economy).

Pembentukan Indonesia Battery Corporation ini juga disebutnya sebagai bukti bahwa pemerintah yang tidak ingin terlambat lagi jadi pemain dunia dalam suatu bidang.

“Alhamdulillah kita manfaatkan momentum sangat penting, inovasi EV battery berbasis nikel, kita ambil langkah cukup berani, tak mau kalah sama RTT (Republik Rakyat Tiongkok), Amerika Serikat (AS), Korea. Kita bisa jadi pemain global,” tutur Erick Thohir. (Uli)