Bumi Berputar Kencang, Mengapa Manusia Tak Ikut Terlempar?

Rabu, 28 Oktober 2015
Iptek | Uploader Arif
loading...

Indolinear – Jika kita menempelkan sebutir nasi pada sebuah gangsing yang sedang berputar, maka nasi itu akan terlempar langsung. Lalu, mengapa manusia tidak mengalami hal yang sama saat berada di Bumi?

Bumi berputar sangat cepat

Ya, setiap hari, selama 24 jam penuh Bumi terus berputar pada porosnya, mirip gasing. Aktivitas ini kerap disebut rotasi. Rotasi Bumi juga lah yang menyebabkan adanya siang dan malam.

Perlu diketahui, Bumi berputar sangat cepat, mencapai kecepatan 1.600 kilometer per jam di bagian khatulistiwa. Namun, kita sama sekali tidak merasakan getaran dari putaran Bumi itu bukan? Padahal, saat gempa Bumi terjadi, kita dengan mudah ikut bergetar.

Rasanya sama saat naik pesawat

Sebelum mengetahui alasannya, pernahkah Anda naik pesawat terbang? Apabila pernah, ketika terpejam atau menutup mata, tentu Anda tidak merasa bergerak sama sekali. Padahal, pesawat bisa terbang dengan kecepatan 800 kilometer per jam, setengah kecepatan rotasi Bumi.

Alasannya, ternyata pesawat dan semua penumpang di dalamnya bergerak dengan kecepatan sama dan tetap. Sehingga tidak akan dirasakan getaran, kecuali saat pesawat mengurangi kecepatan saat akan mendarat atau saat pesawat meningkatkan kecepatan saat mau take-off.

Jawabannya: Bumi berputar cepat dan konstan

Nah, Bumi sama dengan pesawat tadi, semua gunung, lautan, dan makhluk hidup di dalamnya sejatinya ikut berputar bersamaan dengan Bumi. Rahasia lainnya adalah Bumi berputar dan bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan tetap. Alhasil, dua hal tersebut membuat manusia tidak merasakan putaran atau terlempar akibat putaran tadi.

Manusia baru akan bisa merasakan putaran Bumi jika kecepatan putaran Bumi melambat atau meningkat dengan tiba-tiba. Sama seperti laju mobil di tengah kemacetan, gerakan maju dan berhenti tiba-tiba tentu sangat bisa penumpang rasakan.

Manusia zaman dulu ‘tertipu’

Tahu kah Anda bila hal yang menyebabkan manusia zaman dulu, di masa Yunani kuno menjadikan Bumi sebagai pusat tata surya, bukannya matahari, adalah tidak terasanya putaran Bumi? Yang manusia tahu dulu adalah Bulan dan matahari, serta gugusan bintang lewat di atas Bumi. Sehingga banyak filsuf zaman dulu yang percaya bila Bumi itu tak bergerak dan menjadi pusat alam semesta.

Teori Bumi berputar mengelilingi matahari sendiri baru benar-benar diakui pada abad ke 16, bermula dari teori heliosentris di buku Nicolaus Copernicus yang berjudul On the Revolutions of the Heavenly Spheres (mengenai perputaran bola-bola langit), yang diterbitkan pada tahun 1543.

Apa yang terjadi saat Bumi berhenti berputar?

Pertama-tama terjadi adalah tubuh kita akan terbang dengan kecepatan 465 meter per detik. Kecepatan tersebut mampu mengubah tubuh manusia menjadi bongkahan kecil berukuran beberapa inci saja.

Ada kemungkinan manusia atau makhluk hidup lain yang berada di sekitar kutub selamat sebab di kedua ujung bumi itu gaya lempar yang terjadi tidak akan begitu terasa. Yang membuat mereka musnah adalah angin topan super dengan kekuatan setara dengan ledakan bom atom. Saking cepatnya, angin tersebut akan nampak membakar seluruh benda-benda yang dilewatinya.

Parahnya, topan super itu diperkirakan bisa menyebabkan erosi besar-besaran pada kerak bumi. Pegunungan-pegunungan tinggi seperti Himalaya di Nepal dan Jaya Wijaya di Indonesia akan mengecil bahkan memendek akibat kibasan angin itu.

Kemudian bencana berikutnya yang berasal dari laut berupa tsunami raksasa akan menyapu seluruh permukaan bumi. Hal tersebut sama persis dengan apa yang digambarkan oleh film fiksi ilmiah ‘2012’.

Parahnya, topan super itu diperkirakan bisa menyebabkan erosi besar-besaran pada kerak bumi. Pegunungan-pegunungan tinggi seperti Himalaya di Nepal dan Jaya Wijaya di Indonesia akan mengecil bahkan memendek akibat kibasan angin itu.

Saat bumi berhenti berputar, lapisan inti bumi akan berhenti berputar pula. Padahal gerakan inti bumi adalah sumber dari seluruh lapisan magnetik yang melindungi bumi dari serangan radiasi matahari. Pada akhirnya, matahari lah yang benar-benar membunuh seluruh makhluk hidup yang ada di bumi lewat sinar ultraviolet-nya. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com