Bukan Copet, Bang Pi’ie Santri Sakti Asli Betawi

Kamis, 22 Oktober 2015
Tokoh | Uploader Arif
loading...

Indolinear, Jakarta – Nama Bang Pi’ie memang terpendam terlalu lama. Apalagi pada masa orde baru, cerita sejarah tentang mantan menteri di era Soekarno itu dibelokkan sebagai raja copet yang mujur hingga akhirnya menjadi menteri. Namun kepada anak dari istri ke empatnya, Edi Syafi’ie, Bang Pi’ie memberikan cerita lain.

Begini kisahnya, seperti diceritakan Edi. Sebelum wafat pada 1982, Syafi’ie mengatakan jika sebagai putra Betawi pantang buat jadi pencopet. Apalagi nilai-nilai budaya betawi mengajarkan dia untuk rajin mengaji dan tidak melupakan ajaran agama.

“Bapak bukan raja copet,” kata Edi saat berbincang di Hotel Milenium, Tanah Abang, JakartaPusat.

Sebelum pergi menghadap sang khalik, Bang Pi’ie memang banyak bercerita soal kehidupannya kepada anaknya. Apalagi, sejarah orde baru menyudutkan dia menjadi dedengkot pelaku bisnis hitam. Cerita Bang Pi’ie itu ditulis langsung dalam catatan kecil perjalanan pahlawan yang ikut memerdekakan negeri ini oleh Edi.

Edi memberikan semua dokumen perbincangan Bang Pi’ie termasuk juga dokumen soal perjuangannya ketika aktif sebagai tentara di Batalyon Siliwangi, Bandung, Jawa Barat.

Sumbangsih Bang Pi’ie tak sebanding dengan jasa yang telah dia berikan. Dia meninggal setelah sakit usai mendekam di Rumah Tahanan Militer Pondok Gede selama 5 tahun. Bang Pi’ie, seperti ditulis berdasarkan ceritanya kepada Edi, memang besar di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Jika dia dikenal sebagai pendiri organisasi P4 sen, Bang Pi’ie meluruskan kepada anaknya jika waktu dia hanya meneruskan pengelolaan organisasi tersebut. P4 sen didirikan pada 1935 sebagai induk organisasi dari Persatuan Pekerja Harian, Persatuan Sopir Taksi, Oplet dan Becak, Persatuan Pedagang Sayur dan Buah-buahan serta Persatuan Para Jawara.

Pada 1940, organisasi P4 sen berubah nama menjadi Oesaha Pedagang Indonesia (O.P.I). Saat itu Bang Pi’ie duduk sebagai Ketua I. Anggota dari organisasi itu meliputi pedagang, sopir hingga jawara dari Jakarta, Tanggerang hingga Bogor. “Sebenarnya saya bukan pendiri organisasi P4 sen. Saya adalah generasi kedua yang diserahkan untuk memimpin,” kata Bang Pi’ie kepada anaknya.

Jika melongok sebelum Bang Pi’ie terjun untuk memimpin organisasi, masa mudanya memang dikenal mengkoordinir para jawara di sekitaran Pasar Senen. Bang Pi’ie muda dikenal memang kerap berkelana. Dia tercatat pernah ‘nyantren’ di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Perginya bang Pi’ie ke Tebuireng bukan tanpa sebab, KH Hasyim Ashari, kakek mendiang Abdurrahman Wahid memang menyiapkan pejuang handal dari para santri untuk berperang melawan penjajah Belanda.

Selama 2,5 tahun Syafi’ie muda berguru kepada KH Hasyim Ashari. Di sana juga dia bisa membaca dan menulis lantaran diajarkan menulis dan membaca huruf latin. Selain ilmu agama, kakek mendiang Gusdur itu juga menurunkan ilmu beladiri. Syafi’ie diberi kesaktian berupa Ilmu Tapak Srigunting. Ilmu ini juga yang menjadi bekal Bang Pi’ie melumpuhkan para bandit di sekitar Jakarta termasuk ditakuti di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

“Bapak bertemu dengan kiai kesohor itu (Hasyim Asyari) dan diminta memperlihatkan kebiasaan ilmu yang telah dimiliki,” kata Edi menegaskan. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com