Budi Daya Maggot, Petani Di Bekasi Bisa Meraup Omzet Rp12 Juta Per Bulan

FOTO: jpnn.com/indolinear.com
Sabtu, 13 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Bekasi – Petani maggot asal Kota Bekasi, Rahman mampu meraup omzet sebesar Rp12 juta sebulan meski dihantam pandemi Covid-19.

Warga RT 015/004 Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur itu mengaku memulai bisnis budi daya maggot sejak Agustus 2020 saat dampak pandemi mulai terasa di semua lini.

“Alhamdulillah sekarang dalam sebulan saya sudah bisa menghasilkan Rp12 juta, itu hanya dari penjualan maggot saja, belum terhitung dari penjualan budi daya lele yang saya kelola juga,” katanya di Bekasi, dilansir dari Jpnn.com(12/02/2021).

Dia mengaku larva lalat Black Soldier Fly yang memiliki nama latin ‘Hermetia illucens’ itu bisa dijadikan usaha bisnis baru bagi masyarakat. Selain murah meriah dan mudah, maggot memiliki nilai ekonomis tinggi. Maggot kering bisa dijual seharga Rp20 ribu-Rp30 ribu per 100 gram.

“Bisa dibilang ini solusi alternatif warga yang terdampak pandemi Covid-19. Kalau saya sendiri saat ini terus terang saja semakin menekuni budi daya maggot ini, selain ternak ikan lele juga,” katanya.

Selain bernilai ekonomis tinggi, kata Rahmat, maggot juga bisa menjadi solusi mengurangi sampah organik di Kota Bekasi. Dia menjelaskan, sejak masih berwujud telur lalat, maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh hingga nanti siap dipanen. “Maggot mampu mengubah material organik menjadi biomassanya. Beda dengan jenis lalat biasa karena larva yang dihasilkan bukan larva yang menjadi medium penularan penyakit,” katanya.

Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik satu hingga tiga kali lipat dari bobot tubuhnya selama 24 jam bahkan bisa sampai lima kali lipat. Setelah mati, bangkainya digunakan sebagai pakan ternak.

Bahkan kepompong maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk sehingga tidak menjadi sampah baru. Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahjono mengaku terkesan dengan upaya Rahman menjalankan usaha yang tetap produktif dan berpenghasilan melebihin standar upah.

Melihat keterampilan yang dimiliki oleh Rahman, Tri memintanya membuka pelatihan budi daya maggot kepada masyarakat luas. Tri berharap budi daya tersebut bisa menjadi peluang membuka lahan bisnis baru yang kemudian berimbas kepada terbukanya lapangan-lapangan kerja baru.

“Sekaligus mengurangi bobot tonase sampah yang hendak dibuang ke TPA Sumur Batu dan Bantargebang, Kota Bekasi,” pungkasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: