BPIP Dan MPR RI Berkolaborasi Dalam Pemantapan Ideologi Bangsa

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 12 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo mengatakan ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sudah hilang.

Hal tersebut disampaikan Romo Benny saat menjadi pembicara dalam acara seminar nasional yang di selenggarakan oleh SETARA Institute di Hotel Ashley, Senin (11/11/2019).

Seminar tersebut mengambil tema ‘Merawat Kemajemukan, Merawat Negara Pancasila: Agenda Nasional Promosi Toleransi Pada Kepemimpinan Baru’.

“Ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sudah hilang. Kita harus mengembalikan kembali sejarah awal bangsa dengan penuh kerukanan ditengah perbedaan. Ekosistem Pancasila adalah ekosistem yang menerima perbedaan dan pandangan hidup bahwa berbeda itu saling melengkapi dan saling merajut persatuan,” ujar Romo Benny, dilansir dari Tribunnews.com (11/11/2019).

Romo Benny menegaskan untuk mengembalikan ekosistem Pancasila ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak yang kemudian menjadikannya habituasi.

“Pendidikan Pancasila bukan lagi dengan cara doktrinisasi, tetapi dengan habituasi menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak untuk mengenal keragaman dan kemajemukan,” kata Romo Benny.

Dia melanjutkan terdapat hal pokok yang harus ditanamkan dan menjadi habituasi sejak dini dalam pendidikan karakater yaitu mengajari perbedaan dan memberikan pemahaman bahwa berbeda itu saling melengkapi.

“Guru dan orang tua harus membangun Ekosistem Pancasila ini. Menghayati bukan didoktrin, tetapi bisa lewat dongeng, pembelajaran, kesenian, hingga permainan. Sehingga menjadi habituasi sejak dini sudah menhayati pancasila dalam hidup yg saling melengkapi,” ungkap Romo Benny.

Lebih lanjut, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam kesempatan yang sama menegaskan toleransi harus menjadi sebuah kebutuhan.

“Tolerensi haruslah menjadi kebutuhan bagi kita semua karena kebhinekaan adalah pembentuk bangsa. Bukan sesuatu yg sifatnya given tapi harus diperjuangkan,” ujar Bambang Soesatyo.

Bambang Soesatyo mengatakan radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme melalui kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrim.

“Radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme dengan ciri seperti intoleransi, fanatik selalu merasa benar sendiri, eksklusifisme, hingga kekerasan dalam bentuk lain,” katanya.

Karena itu, Bambang Soesatyo berpendapat Presiden Jokowi memiliki komitmen tinggi untuk menjaga ideologi bangsa dengan membuat dua lembaga untuk pemantapan ideologi bangsa yaitu MPR dan BPIP.

“MPR dan BPIP adalah dua lembaga yang harus bekerjasama dalam pemantapan ideologi bangsa dalam mengawal dan menumbuhkan keyakinan terhadap Ideologi Panacsila,” kata Bambang Soesatyo. (Uli)

INDOLINEAR.TV