Bom Bunuh Diri Yerusalem Hambat Proses Perdamaian Israel-Palestina

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 5 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Yerusalem – 24 tahun yang lalu, delapan orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka dalam aksi bom bunuh diri di pusat kota Yerusalem. Tiga pembom, yang di antaranya ikut tewas meledakkan bom paku di kawasan pejalan kaki yang padat sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Dilansir dari dari Liputan6.com (03/10/2021), kelompok militan Palestina, Hamas mengklaim melakukan pengeboman. Tak sampai satu menit, ledakan terjadi silih berganti dan menyebabkan kerusakan maksimal pada penduduk-penduduk sipil.

Orang yang selamat dalam kejadian mengatakan kepada wartawan tentang pengeboman itu, dan menyebabkan kebingungan setelah serangan itu.

“Saya mendengar teman saya berteriak dan kemudian saya mendengar ledakan lagi, saya melihat darah di mana-mana”, katanya.

Keesokan harinya, dipastikan sebanyak tujuh orang tewas, dan jumlah korban yang terluka meningkat jadi 170. Tiga bom bunuh diri ini dipandang sebagai peningkatan yang signifikan dalam konflik Israel Palestina.

Perdamaian yang Rapuh

Para pemimpin Palestina dengan cepat mengutuk kekerasan tersebut. Sekretaris Kabinet Otoritas Palestina, Amin Abdul Rahman, menyebut pemboman itu sebagai kejahatan terhadap rakyat sipil.

Namun, pemerintah Israel menuduh Palestina tidak berbuat cukup untuk menghentikan kelompok-kelompok seperti Hamas.

“Ketika kami melihat mereka menyeret kaki mereka dalam serangan melawan teror, maka saya pikir kami memiliki hak untuk mengarahkan jari ke arah mereka,” kata seorang juru bicara pemerintah.

Proses perdamaian yang sudah rapuh setelah bom bunuh diri di pasar Mahane, Yehuda lima minggu lalu, kini hampir runtuh akibat serangan itu.

Dua hari kemudian Perdana Menteri Israel, Binyamin Netanyahu, mengumumkan dia merasa tidak lagi terikat oleh perjanjian damai dengan Palestina dan akan menangguhkan penarikan Israel dari Tepi Barat.

Meskipun adanya dugaan serangan itu untuk menyabotase misi perdamaian Menteri Luar Negeri AS, Madeleine Albright, tetapi dia tetap melakukan kunjungannya ke wilayah tersebut. Namun, proses perdamaian itu kurang berhasil.  (Uli)