Bisnis Lobster Air Tawar, Pemuda Karawang Mengantongi Cuan Menggiurkan

FOTO: detik.com/indolinear.com
Sabtu, 1 Januari 2022
loading...

Indolinear.com,Karawang – Tinggal di tengah kota yang banyak warganya bekerja buruh pabrik, Aulia Azfar Mucharamsyah malah memilih menjadi petani. Butuh dua tahun ia sukses mengembangkan budi daya lobster air tawar di Karawang.

Lelaki yang akrab disapa Apank ini berusia 24 tahun. “Saya sudah optimistis bisa mewujudkan semua impian saya, melalui budi daya lobster ini,” kata Apank yang juga Ketua Asosiasi Budidaya Lobster Air Tawar Karawang, saat diwawancarai di lokasi peternakannya, Sabtu (5/6/2021) pagi.

Dia mampu menjual lobster air tawar mencapai 10 ribu bibit per bulan. Dari penjualan itu, ia kini bisa menghidupi dirinya sendiri, tanpa banyak meminta ke orang tua.

Tempat budi daya ini berada di lahan seluas 1.000 meter persegi. Ada 19 kolam dengan ukuran 3×3 meter di lahan tersebut. Apank mematok harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per kilogram lobster air tawar.

Tiap bulannya, Apank mengantongi cuan yang menggiurkan. “Omzet 35 juta rupiah per bulan. Alhamdulillah, bisa buat diri saya sendiri, tanpa merepotkan kedua orang tua,” ujarnya.

Dia berkisah terjun menekuni budi daya lobster air tawar ini berawal dari perjuangan ayahnya melakoni bisnis ikan tawar. Sang ayah meninggal empat tahun lalu.

“Almarhum dulu itu usaha pembudidayaan ikan air tawar. Kemudian, ada kawan yang menawari lobster air tawar, dari situlah saya mulai berpikir untuk membudidayakannya dengan semangat almarhum yang seorang pembudidaya,” kata Apank, dilansir dari Detik.com (30/12/2021).

Sejak itu Apank bersemangat dan serius di bisnis ini. Dia mengaku pernah mengalami hal pahit saat merintis budi daya lobster.

“Ribuan ekor lobster mati karena gagal adaptasi, lumayan buat saya pusing,” ujarnya.

Kini Apank membuka area bernama Lataz Farm. Tempat ini sebagai sarana budi daya, edukasi, serta merangkul pebisnis lobster air tawar di Karawang.

“Sekarang saya bisa menikmati hasil jerih payah, meski ini masih panjang perjalanannya. Cita-cita saya ke depan ingin bangun sekolah tentang budi daya lobster dan membuat restoran dengan olahan pangan dari lobster air tawar,” tutur Apank menegaskan.

Banyak orang dari berbagai daerah datang ke lokasinya untuk belajar dan memesan bibit lobster air tawar. Apank menyambutnya penuh antusias. “Ada mahasiswa sampai orang dinas. Pemesan juga banyak dari luar daerah, kayak Surabaya, dan Bali,” kata Apank.

“Semua hasil jerih payah saya sendiri, dengan modal awal 90 juta. Alhamdulillah selama setengah tahun sudah balik modal,” dia menambahkan.

Soal adanya tawaran program, misalnya petani milenial, ia menegaskan tidak ingin berpangku tangan kepada pemerintah. Meski begitu, ia mengakui ada tawaran program tersebut.

“Saya tidak terlalu berharap, bahkan berpangku tangan menunggu bantuan,” ucap Apank. (Uli)