Bima Arya Panggil Ahli Bencana, Minta Beberkan Ancaman di Bogor

FOTO: kotabogor.go.id/indolinear.com
Rabu, 7 November 2018
Bogor | Uploader puspita

Indolinear.com, Bogor – Walikota Bogor Bima Arya memimpin briefing staff di Ruang Paseban Sri Bima, Gedung Balaikota Bogor, Selasa (6/11/2018). Selain membahas program-program Pemerintah Kota Bogor, dalam pertemuan tersebut juga turut dipaparkan mengenai potensi bencana yang mengancam Kota Bogor dari pandangan para ahli.

Tampak hadir dalam pertemuan itu Pusat Studi Bencana dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, para kepala SKPD, para camat dan para lurah.

“Ancaman bencana itu bisa datang kapan saja. Bisa saja nanti malam atau puluhan tahun lagi. Tapi kita harus siap apapun yang terjadi. Jadi forum ini kita ingin dalami potensi itu dekat atau jauh secara kalkulasi manusia. Baik itu yang datangnya dari erupsi Gunung Salak maupun patahan-patahan. Sejauh mana kita bisa membaca itu,” ungkap Bima dilansir dari kotabogor.go.id.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan meminimalisir adanya korban jiwa dari dampak bencana tersebut.

“Kita ingin fokus ke potensi yang nyata ini. Bahwa kita harus menyiapkan mitigasinya, itu iya,” jelasnya.

Menurut Kepala Pusat Studi Bencana IPB Yonvitner menyatakan bahwa posisi Gunung Salak cukup jauh dari sesar aktif.

“Sesar aktifnya ada di selatan Jawa. Aktifnya Gunung Salak, tergantung sesar di selatan Jawa, seperti Sukabumi atau Ujung Kulon. Kalau gempa sudah semakin sering di wilayah tersebut, maka kita harus jaga-jaga. Gunung Salak terakhir meleteus 1600-an,” kata Yonvitner.

Ditambahkan Perdinan selaku Sekretaris Pusat Studi Bencana IPB, secara geografis posisi Kota Bogor termasuk aman terkait potensi bencana gempa maupun letusan gunung berapi. Namun, ia menyebut bukan berarti harus santai dalam menghadapi ancaman bencana.

“Beruntungnya Bogor jaraknya agak jauh dari sesar aktif. Tapi bukan berarti santai saja, yang perlu menjadi kewaspadaan adalah terkait dengan iklim, seperti bencana angin puting beliung, banjir dan longsor. Bogor luar biasa, curah hujannya tertinggi se-Indonesia dengan mencapai 4.000 mm per tahun,” jelasnya.

“Dijuluki kota hujan karena Bogor punya Kebun Raya. Kalau Kebun Raya itu hilang, hilang juga predikat Bogor sebagai kota hujan. Karena pohon yang ada di Kebun Raya itu yang memicu terjadinya hujan di sekitar Kota Bogor. Dengan kata lain, kalau Pak Wali menjaga Kebun Raya Bogor, berarti ikut menjaga dunia ini dari banyak masalah,” bebernya.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, sepanjang 2015 hingga 6 November 2018 ini, terdapat 1.273 peristiwa bencana terjadi di kota hujan ini. 34 persen diantaranya didominasi oleh longsor, 19 persen rumah roboh akibat cuaca ekstrim, 17 persen kebakaran, 15 persen pohon tumbang, 8 persen banjir, puting beliung 3 persen, tanah amblas 1 persen dan lain sebagainya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Bogor, Ganjar Gunawan menjelaskan, pembahas ancaman bencana ini sebagai langkah awal kesiapsiagaan kita menghadapi ancaman bencana yang lebih besar lagi.

“Sekaligus momen ini untuk memberikan laporan secara persis mengenai update terkini kondisi ancaman bencana bagi Kota Bogor. Sehingga bisa diambil kebijakan-kebijakan strategis. Ini langkah awal untuk terus bersinergi kedepannya bersama para ahli dibidangnya masing-masing,” pungkasnya.(pit)

%d blogger menyukai ini: