Bertakhtanya Kaisar Wanita Pertama China, Bengis dan ‘Nakal’

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Sabtu, 16 November 2019

Indolinear.com, Beijing – Imperium China punya sejarah panjang hampir 4.000 tahun. Selama itu, hanya ada satu kaisar perempuan yang pernah bertakhta, yaitu Wu Zetian.

Memerintah pada Abad ke-7 Masehi, Wu menjadi penguasa yang kontroversial dan memegang kekuasaan sedemikian besar.

Meski memiliki segudang prestasi, karakter aslinya (hingga kini) tetap misterius dan kerap diselubungi narasi bernada penghinaan.

Salah satunya adalah: “Ia berhati ular dan memiliki sifat seperti serigala,” demikian dikutip dari Liputan6.com (14/11/2019).

Sejarawan lain menulis, “Ia membunuh saudarinya sendiri, membantai kakak-kakak lelakinya, menghabisi nyawa para penguasa, dan meracuni ibunya. Ia dibenci para Dewa, juga manusia.”

Selama berabad-abad, Wu dicela oleh para ahli sejarah. Ia identik dengan perampas yang kejam dan perempuan ‘nakal’. Sosoknya yang menonjol bahkan disebut-sebut karena kesediaannya memenuhi selera seksual Kaisar Taizong yang tak biasa.

Namun, seberapa akurat gambaran tersebut masih jadi perdebatan sengit. Mungkin benar, demikianlah kelakuan sang maharani atau jangan-jangan, sejarah ditulis oleh mereka yang punya pemikiran berseberangan.

Yang jelas perjalanan Wu menuju takhta diwarnai intrik kekuasaan. Lahir pada 624 Masehi, ia masuk ke istana pada usia 14 tahun sebagai selir Kaisar Taizong, penguasa Dinasti Tang yang lebih pantas jadi kakeknya.

Wu tak hanya cantik, orangtuanya yang kaya dan dari kalangan darah biru memberinya bekal pengetahuan menulis dan membaca sastra klasik China.

Wu pun pandai main musik. Kelebihannya itu yang konon membuat Wu ‘bersinar’ dari perempuan lain di istana dan mampu bersaing dengan selir-selir yang jumlahnya hampir 30 orang. Kaisar pun menjadikannya sebagai wanita favorit.

Pada 649, ketika sang penguasa mangkat, Wu dikirim ke biara untuk menghabiskan masa hidupnya di sana.

Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali ke istana. Pesona Wu memikat sang pewaris takhta, Kaisar Gaozong — yang menjadikannya selir 3 tahun setelah ayahnya tiada. Wu secara bertahap mendapatkan kepercayaan dan dukungan Gaozong.

Setelah melahirkan 2 putra, ia mulai bersaing dengan Ratu Wang dan selir senior Xiaoshu untuk memperebutkan perhatian sang kaisar.

Agar tujuannya tercapai, Wu menghabisi orang-orang yang menghalangi jalannya. Ia bahkan sampai hati membunuh putrinya sendiri yang masih bayi dan menjadikan Ratu Wang — yang terakhir memegang bocah itu — sebagai kambing hitam.

Setelah berhasil menjadi ratu pada 655, Wu memerintahkan Wang dan selir Xiaoshu dihabisi. Jasad keduanya bahkan dimutilasi dan dimasukkan dalam tong anggur.

Wu kemudian mengangkat kerabatnya untuk mengisi jabatan penting. Perlahan, perempuan itu ikut memerintah bersama suaminya.

China Sejahtera

Setelah kematian Gaozong pada 683, Wu tetap mengendalikan kekuasaan sebagai ibu suri. Ia mengangkat putranya Li Xian sebagai Kaisar Zhongzong.

Tak sampai setahun, kaisar baru yang sulit dikendalikan ia gulingkan. Wu lalu mengangkat putra keempatnya Li Dan sebagai Kaisar Ruizong, dan pada 16 Oktober 690, Wu merebut takhta dan mendirikan wangsa baru, Dinasti Zhou yang dikendalikan dari ibu kota Luoyang.

Pemerintahannya diwarnai skandal. Wu tak tak punya belas kasih pada orang-orang yang gagal memenuhi keinginannya atau tak ia sukai. Ganjarannya penjara atau bahkan eksekusi mati. Tak terkecuali jika pelakunya adalah saudara atau kerabatnya sendiri, pun dengan orang-orang yang berjasa mendirikan dinasti.

Wu juga disebut-sebut memiliki semacam harem yang dipenuhi pria muda. Di sisi lain, Wu adalah penguasa yang berhasil. Masa pemerintahannya berlangsung damai dan sejahtera.

Ia memperkenalkan sistem meritokrasi dan ujian masuk bagi para calon birokrat. Di bawah kuasanya, Tiongkok juga menghindar dari perang. Wu juga menerima kunjungan sejumlah duta besar, termasuk dari Bizantium.

Wu memerintahkan penulisan biografi para perempuan terkenal dan memerintahkan para anak untuk berduka bagi kematian kedua orangtua mereka –bukan hanya ayah.

Ia mengangkat seorang penasihat perempuan, Shangguan Wan’er yang disebut-sebut sebagai perdana menterinya.

“Di bawah pemerintahan Wu, biaya militer dipangkas, pajak dipotong, gaji pegawai berprestasi dinaikkan, pensiun diberi tunjangan, dan tanah luas dekat ibu kota diubah menjadi lahan pertanian,” tulis Mary Anderson dalam bukunya, ‘Hidden Power’.

Kekuasaan Wu meredup pada 705 Masehi, saat usianya sudah lebih dari 80 tahun. Ia dilengserkan putranya sendiri. Kesalahan terbesarnya adalah menikahkan anak ini dengan seorang selir yang amat mirip dengannya: kejam nan ambisius. (Uli)

INDOLINEAR.TV