Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi Di Festival Film Cannes

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 19 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersembunyi dari kejaran Nazi di Amsterdam, Belanda, selama Perang Dunia II, pernah diadaptasi menjadi film pemenang Oscar satu dekade atau lebih setelah buku itu diterbitkan tahun 1947. Sekarang, hampir 75 tahun kemudian, cerita itu kembali tampil ke layar lebar, kali ini sebagai film animasi “Where Is Anne Frank” di ajang bergengsi Festival Film Cannes.

Versi cerita ini berfokus pada Kitty, teman imajiner dan alter-ego Anne Frank, yang menjadi curahan hati gadis itu di buku hariannya. Bertempat di Amsterdam masa kini, Kitty berangkat untuk menemui Anne Frank dengan merenungkan kembali isi buku harian itu. Film ini juga tentang romansa, petualangan, tentang seorang remaja cerdas yang mencintai kehidupan, yang menjaga adiknya Margot dan sering berkonflik dengan ibunya.

Muncul di Eropa masa kini, Kitty juga bertemu dengan orang-orang muda lain yang berada dalam bahaya dan melarikan diri dari konflik. “Ini mengingatkan Kitty pada Anne, dan fakta bahwa Anne tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri selama waktu persembunyiannya yang relatif singkat,” kata sutradara Israel Ari Folman. “Pengalaman ini mengubah Kitty menjadi seorang aktivis. Pada saat yang sama, dia menyadari kekuatannya untuk mempromosikan gerakan membela hak-hak anak.” Dilansir dari Tribunnews.com (18/07/2021).

Menarik remaja mengenal kisah Anne Frank

Direktur artistik film itu, Lena Grubman, mengatakan bahwa tujuan penggunaan animasi adalah untuk membuat film ini “lebih mudah diakses” generasi remaja muda, yang tumbuh dengan internet dan yang mungkin cenderung tidak membaca buku Anne Frank. Film yang menceritakan kisah Anne Frank sepenuhnya dalam gambar dan animasi ini menggunakan gaya animasi yang hidup, dengan menggunakan 159.000 gambar yang dibuat di 15 negara.

Hasil akhirnya telah dipuji oleh para kritikus pada debut di Festival Film Cannes pekan lalu. “Kitty, teman imajiner yang disebutkan dalam buku harian Anne Frank, melompat dari halaman buku menjadi seorang gadis versi pena-dan-tinta yang hidup dalam darah dan daging dalam karya Ari Folman yang mengesankan,” tulis Hollywood Reporter.

Film ini juga menarik penonton muda melalui sketsa bergaya budaya pop yang lucu, seperti ketika penyanyi superstar Justin Bieber muncul di Museum Anne Frank. Film ini juga menampilkan soundtrack meriah Karen O dari band Yeah Yeah Yeahs.

Refleksi kontemporer tentang pengungsi muda

Berbekal buku harian Anne Frank, Kitty dibantu dalam pencariannya oleh Peter, yang menjalankan tempat penampungan rahasia untuk pengungsi tanpa dokumen. Bersama-sama, mereka menelusuri kembali kehidupan Anne bersama keluarganya hingga akhir yang tragis, saat dia menjadi korban Holocaust.

“[Kitty] juga menemukan situasi saat ini di Eropa, dibanjiri pengungsi dari seluruh dunia, melarikan diri dari zona perang,” jelas Ari Folman.

Kecewa dengan ketidakadilan yang dialami pengungsi anak-anak, Kitty ingin memenuhi misi Anne dan memberikan harapan bagi generasi mendatang.

“Setelah Kitty mengetahui bahwa Anne telah meninggal, dan kemudian menemukan batu pusara di Bergen-Belsen yang bertuliskan namanya, dia menulis surat kepadanya dan berjanji untuk mewujudkan impian Anne, untuk menyelamatkan setiap orang yang dapat diselamatkan,” kata Folman. “Dan dia berjanji untuk memenuhi mimpi Anne untuk jatuh cinta. Ini semacam sumpah persahabatan di antara kedua gadis itu.” (Uli)