Beri Makanan Gratis Dan Jual Jeruk, Aksi Kebaikan Dari Makanan

FOTO: detik.com/indolinear.com
Senin, 22 Maret 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Aksi kebaikan bisa dilakukan siapa saja, tanpa memandang kaya atau miskin. Lima kisah inspiratif ini membuktikan, bahwa aksi kebaikan bisa dimulai dari makanan, tanpa memandang status sosial penyumbang.

Beramal atau menyumbangkan uang hingga makanan, sering dilakukan oleh orang-orang yang sudah berkecukupan, dan memiliki banyak orang. Tapi ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Siapa saja bisa menjadi dermawan, dan beramal, hingga membantu orang lain, tanpa perlu memandang status sosial.

Bahkan beberapa dari orang-orang yang berhati mulia ini, hidup dalam keterbatasan, dan kekurangan. Namun, mereka tidak pernah berhenti untuk melakukan dan berbagi kebaikan kepada sesama. Banyak diantaranya yang melakukannya lewat makanan.

Dilansir dari Detik.com (20/03/2021), berikut lima kisah inspiratif aksi kebaikan yang dimulai dari makanan.

Aksi kebaikan ini dilakukan oleh seorang nenek berusia 70 tahun, yang berasal dari Agni Tirtham, Rameswaram, India. Nenek bernama Rani ini sehari-harinya berjualan idli, makanan tradisional dari India, yang terbuat dari sayuran dan populer sebagai menu sarapan.

Meski Rani bergantung penuh pada pendapatannya menjual idli, tapi Rani tetap beramal dan berbuat kebaikan. Ia selalu memberikan makanan gratis pada orang-orang yang tidak mampu. Selain itu ia juga menjual harga makanannya dengan sangat murah, sehingga orang lain tetap bisa membelinya.

Menurut Rani, ia melakukan semua kebaikan ini, karena ia menganggap bahwa semua orang yang datang ke kedai sederhananya adalah keluarganya.

“Saya tidak memiliki kedai makanan yang layak. Orang-orang yang datang kemari adalah orang-orang yang saya sayangi. Saya tidak pernah menganggap mereka sebagai pembeli, saya sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri,” tutur Rani.

Aksi mulia dan kebaikan selanjutnya, dilakukan oleh sekelompok driver ojek online (ojol), yang rela menghabiskan uang pendapatannya untuk membelikan makanan gratis, pada tunawisma yang kelaparan.

Semua aksinya ini menggunakan uangnya sendiri. Kelompok driver ojol asal Singapura ini, mengumpulkan uang dari dompet mereka masing-masing untuk membelikan makanan ringan, makanan instan, minuman, hingga perlengkapan lainnya untuk dibagikan ke tunawisma.

Mereka melakukannya tanpa paksaan, dan membuat tali persahabatan antar driver ojol di sana jadi semakin akrab. Tentu saja aksi ini mendapatkan banyak pujian dari para netizen, apalagi Singapura terkenal sebagai negara modern yang mewah, sehingga kehadiran tunawisma di sana sedikit tertutup dengan glamornya negara tersebut.

Kebaikan bisa dimulai dari mana saja, salah satunya dari makanan. Beberapa waktu yang lalu seorang nenek asal Bulacan, Filipina, sempat viral di media sosial karena aksi kebaikannya. Sehari-harinya ia merupakan penjual makanan.

Namun, yang membuatnya dipuji oleh banyak orang, karena ia sengaja menjual makanannya dengan sangat murah. Sehingga para siswa kurang mampu di Bulacan, bisa mengisi perut mereka sebelum pergi ke sekolah.

Wanita bernama Nanay Mel itu setiap harinya selalu bangun lebih pagi, untuk belanja dan mempersiapkan dagangannya. Semua makanannya dijual dengan harga Php 5 atau sekitar Rp 1.300 saja per buah. Makanan yang dijualnya ada menudo, sosis, bopis, hingga kare-kare yang mengenyangkan.

Berlandaskan solidaritas dan persahabatan yang kuat, ada 32 siswa di Sree Gokulam SNGM Catering College di Kerala, India, yang memutuskan untuk membuka restoran atau warung makan di pinggir jalan. Para siswa ini, membuka warung makan sederhana itu untuk mengumpulkan dana.

Setelah diketahui lebih lanjut, para siswa berdagang makanan setelah mengetahui salah satu kakak dari teman sekelas mereka menderita gagal ginjal stadium akhir. Dengan biaya pengobatan yang cukup besar, dan tidak sedikit.

Mendengar kesulitan yang dialami oleh salah satu temannya, para siswa ini kompak membuka warung makan, di mana sebagian besar hasil keuntungannya akan disumbangkan untuk biaya pengobatan kakak teman mereka.

Seorang penjual jeruk keliling yang sudah berusia 68 tahun dari India, berhasil mendapatkan penghargaan tertinggi dari pemerintah India, karena jasanya di bidang pendidikan. Pria bernama Harekala Hajabba diketahui menyumbangkan seluruh uangnya untuk membangun sekolah di kampungnya.

Harekala mengaku bahwa ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah, dan ia tidak ingin generasi selanjutnya bernasib sama seperti dirinya. Dengan kegigihannya, selama lebih dari belasan tahun, ia mengumpulkan uang hasil menjual jeruk keliling.

Setiap harinya Harekala mampu mengumpulkan uang sebanyak Rs. 150 (Rp 28,687) dari berjualan jeruk keliling. Walau penghasilannya jauh dari kata banyak, tapi itu semua tidak menurunkan semangat dan kemuliaan hati Harekala untuk membangun sekolah gratis di kampungnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: