Berharta Rp68 T, Kakek Ini Pernah Menjadi Loper Koran

FOTO: detik.com/indolinear.com
Minggu, 15 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ken Langone adalah salah satu dari empat pendiri Home Depot yang menjadi miliarder. Menurut data Forbes, kakek berusia 82 tahun ini memiliki harta US$ 4,6 miliar atau setara Rp 68 triliun (kurs Rp 14.800).

Seluruh kekayaan Langone itu berawal dari hidup yang sederhana. Melansir dari Detik.com (13/08/2021), Langone tumbuh di Long Island, New York. Orang tuanya hidup sederhana yang hanya bergantung dari gaji seadanya.

Memiliki sumber daya keuangan yang terbatas membuat Langone harus melakukan banyak pekerjaan. Tapi itu justru membuatnya menjadi orang yang terampil dan perspektif yang kemudian dia manfaatkan untuk menjadi sukses sebagai pengusaha.

“Saya mulai bekerja ketika saya berusia 11 atau 12 tahun. Salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah menjual beberapa karangan bunga Natal. Dan juga mengumpulkan [memo] karton karena saya tahu itu bernilai uang,” ujarnya.

Pada saat dia berusia 14 atau 15 tahun Langone mulai bekerja sebagai pengantar surat kabar atau loper koran. Dia juga sempat bekerja di sebuah toko daging, menjadi caddy golf, bahkan pernah bekerja sebagai tukang potong rumput.

“Dan kemudian saya mulai bekerja di bidang konstruksi pada usia 16 dan 17 tahun,” kenangnya.

Motivasi Langone dalam menjalankan hidupnya yang terus bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya sebenarnya sangat sederhana. Langone hanya ingin punya uang yang tentunya tidak bisa dia dapat dari orangtuanya. Dari situ dia bersedia untuk melakukan pekerjaan dengan keras.

“Saya ingin menghasilkan uang! Ayah saya adalah seorang tukang ledeng, ibu saya bekerja di kantin sekolah. Uang tidak banyak. Orang tua saya hidup dari gaji ke gaji,” kata multi-miliuner itu.

“Kami memiliki rumah kecil yang bagus, hangat di musim dingin dan panas di musim panas karena tidak ada AC. Kami punya banyak makanan enak. Tapi saya memutuskan bahwa saya ingin punya uang, dan saya bersedia bekerja, dan saya bersedia bekerja keras,” tambah Langone.

Pengalaman etos kerja selama bertahun-tahun itu terbayarkan. Dia mulai bisa menghasilkan uang.

“Saya selalu merasa senang jika saya punya uang di saku. Saya merasakan kemandirian dan pencapaian tertentu,” kata Langone.

Uang yang dia dapat dari bekerja itu sebagian ditabung dan sebagian lagi dibelanjakan untuk memenuhi hasratnya. Mulai dari pergi ke bioskop hingga beli pakaian modis yang lagi ngetrend.

Saat bekerja di toko daging, dia akan membawa pulang daging untuk keluarganya dan biayanya dipotong dari gajinya.

Selain mengembangkan etos kerjanya, Langone mengaku bisa belajar membaca orang dalam pengalamannya bekerja, terutama saat dia menjadi caddy golf.

“Ketika Anda menjadi seorang caddy dan Anda membawakan tas seorang pria, sungguh menakjubkan. Ketika mereka melakukan pukulan buruk sebagian tentu tidak menyalahkan Anda. Tapi beberapa orang malah ada yang menyalahkan caddy tersebut. Padahal caddy itu tidak ada hubungannya dengan pukulan yang buruk itu kata,” Langone.

“Jadi saya belajar sejak awal untuk mencoba menilai orang, melihat tingkah laku mereka, mendengarkan cara mereka berbicara. Dan itu sangat membantu buat saya di masa yang akan datang, ketika banyak dari apa yang saya lakukan bergantung pada penilaian saya kepada orang lain,” tambahnya.

Sebagian lagi dari kesuksesanya, Langone tentu harus berterima kasih pada ibunya. Dia sendiri sekolah hanya mencapai kelas tujuh, tetapi ibunya ingin putranya mendapatkan pendidikan yang lebih dari itu.

Sewaktu kecil, Langone biasa pergi ke tempat kakek-neneknya untuk makan siang pada hari Minggu sore. Untuk sampai ke Port Washington tempat mereka tinggal, keluarganya harus berkendara dari lingkungan miskin mereka melalui bagian kota yang tempat berkumpulnya orang kaya.

“Kami dulu berkendara melalui bagian (orang) kaya bernama Roslyn Estates. Dan setiap hari Minggu ketika kami berkendara melalui perkebunan Roslyn, ibu saya hampir secara naluriah berkata, ‘Apakah Anda ingin tinggal di sini suatu hari nanti, Kenneth?’ Saya berkata, ‘Ya, ibu, saya akan melakukannya’. Dia berkata, ‘Baiklah, jika kamu ingin tinggal di sini suatu hari nanti, kamu harus bekerja keras, kamu harus mendapatkan pendidikan,” kenangnya.

Dari omongan itulah yang membuat Langone terus bekerja keras. Menurutnya untuk menjadi sukses perlu belajar sebanyak yang Anda bisa dan bekerja keras.

Langone lulus dari Universitas Bucknell dan memperoleh gelar MBA dari Sekolah Bisnis Stern Universitas New York. Setelah lulus Langone bekerja di Wall Street dan sebagai pemodal serta pengusaha sebelum dia bergabung dengan Bernie Marcus, Arthur Blank, dan Pat Farrah untuk meluncurkan Home Depot.

Toko Home Depot pertama dibuka pada Mei 1979 di Atlanta. Meskipun awal yang lambat, para pendiri tidak mampu membeli barang dagangan yang cukup untuk mengisi toko. Sehingga mereka harus mengisi rak dengan kotak-kotak kosong untuk memberikan ilusi bahwa barang dagangannya penuh.

Tidak butuh waktu lama bagi Home Depot untuk menjadi sukses. Rantai toko peralatan rumah itu go public pada tahun 1981.

Sekarang, ada lebih dari 2.200 toko Home Depot di seluruh dunia dan kapitalisasi pasar Home Depot lebih dari US$ 230 miliar. (Uli)