Bergelar Bank Digital, Inilah Pencapaian Penting Bank Neo Commerce selama 2021

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 15 Januari 2022
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Bank digital, Bank Neo Commerce (BNC), memperkuat jajaran direksi dengan bergabungnya Ricko Irwanto sebagai Direktur Risiko dan Kepatuhan baru, menggantikan Hardono Budi Prasetya yang wafat pada 30 Juni lalu. Ini salah satu hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan paparan publik yang digelar BNC.

Ricko Irwanto adalah sosok dengan pengalaman 25 tahun di dunia perbankan nasional dengan posisi terakhir sebagai Direktur Kepatuhan di PT Bank MNC Internasional Tbk.

Pada paparan publlik tersebut, perseroan memaparkan berbagai capaian penting. Antara lain kelebihan permintaan (oversubscribed) lebih 400 persen hingga 679 juta saham atau setara Rp 882,5 miliar pada Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) V pada awal Desember ini.

Jumlah saham yang ditawarkan dalam HMETD V mencapai 1.927.162.193 lembar saham dengan nilai pelaksanaan Rp 1.300 per saham. Jadi jumlah dana yang akan diterima Rp 2,5 triliun. Alhasil perseroan berhasil melewati modal inti, bahkan melebihi yang dipersyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI.

BNC juga mencatat berbagai pencapaian penting pada tahun ini yang dilansir dari Merdeka.com (14/01/2022):

Pertama, menjadi bank digital dengan jumlah nasabah terbanyak, yakni 12,7 juta nasabah

Kedua, aplikasi neobank telah diunduh lebih dari 18 juta kali sejak diluncurkan akhir Maret lalu dan menjadi aplikasi paling populer di Google PlayStore dan AppStore per Oktober 2021

Ketiga, dinobatkan ALTO sebagai bank digital dengan jumlah transaksi tertinggi, serta secara berkelanjutan memberikan berbagai inovasi pada layanan perbankan dengan menyajikan produk-produk unggulan pada tabungan Neo Now dengan bunga 6 persen per tahun dan deposito Neo Wow dengan bunga hingga 8 persen per tahun.

Tjandra Gunawan, Direktur Utama BNC, menjelaskan kami juga memberikan fitur-fitur inovatif dan interaktif di aplikasi neobank dengan menyajikan games, chat yang memungkinkan sesama nasabah mengirimkan pesan, Neo Jurnal untuk membantu nasabah mengatur keuangan nasabah, dan kupon experience sebagai fitur edukasi untuk mengajak nasabah berinvestasi.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2021, perseroan mencatat peningkatan 49,16 persen aset dan 69,3 persen untuk perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK). Perseroan juga mencatat kerugian bersih Rp 264 miliar, akibat sebagian besar dana digunakan dan dialokasikan ke berbagai bentuk investasi. Antara lain pada investasi teknologi dan keamanan digital, pengembangan sumber daya manusia, serta promosi dan edukasi berkelanjutan tentang bank digital.

Bank Neo Commerce sebelumnya dikenal sebagai Bank Yudha Bhakti, bank nasional yang berkiprah selama 30 tahun di dunia perbankan di Indonesia. Sejak 2019, Akulaku mulai menjadi pemegang saham Bank Neo Commerce. Pada 2020, Bank Neo Commerce bertransformasi menjadi bank digital, dimulai dengan pergantian nama dan dikukuhkan Bank Neo Commerce menjadi Bank Buku II oleh OJK. (Uli)