Berbeda Dengan Ibrahimovic, Pembalap MotoGP Valentino Rossi Sudah Saatnya Pensiun

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 27 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Dalam dunia balap motor, Valentino Rossi dikenal sebagai pembalap yang luar biasa. Pria asal Italia ini, telah meraih sembilan kali gelar juara dunia di ajang MotoGP.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, memasuki usianya ke-41, pembalap berjuluk The Doctor ini masih akan melanjutkan karirnya di ajang balap motor bergengsi tersebut musim depan. Bergabung dengan Petronas Yamaha, pemilik nomor 46 ini siap kembali bersaing dengan pembalap yang lebih muda untuk meraih gelar yang terbaik di MotoGP 2021.

Sosok tua-tua keladi dalam dunia olahraga, tidak hanya milik Rossi. Di dunia sepakbola, Zlatan Ibrahimovic menjadi salah satunya. Pada usia ke-39, pemain jangkung asal Swedia ini, menjadi salah satu top skor musim ini, dan sukses membawa klubnya AC Milan sebagai pemuncak klasemen Seria A liga Italia.

Tapi, menurut Flavio Briatore, mantan bos tim Formula1 (F1), terdapat perbedaan dari dua atlit tua ini.

“Saya menyarankan Rossi untuk berhenti, karena kami ingin mengingat dia sebagai juara yang hebat,” ujar pria berusia 70 tahun ini, dalam wawancaranya dengan Radio Radio ,seperti dikutip dari Liputan6.com (25/12/2020).

Pria yang berberan penting atas kesuksesan juara dunia Michael Schumacher dan Fernando Alonso ini menilai, Rossi sudah sampai pada titik di mana usia diperhitungkan dalam olahraga balap.

“Dia hebat, dia memenangkan segalanya. Tetapi, ada saatnya Anda tidak bisa melanjutkan karena tahun-tahun berlalu, dan motivasi tidak lagi sama,” terangnya.

Zlatan Ibrahimovic

Sementara itu, berbicara soal Zlatan Ibrahimovic, dengan usianya yang terbilang tua bagi seorang pemain sepakbola, pria berjuluk Ibrakadabra ini, justru telah memperpanjang kontraknya dengan Rossoneri. Tapi, itu adalah dua hal yang berbeda.

“Di usia 39, Ibrahimovic masih sangat kompetitif. Dia kasus khusus, dia memfokuskan seluruh hidupnya sepenuhnya pada olahraga, dia tidak pernah ceroboh,” jelasnya.

Namun berbeda dengan seorang pembalap motor, ketika seorang pesepakbola harus mendapat cedera di engkel, sementara yang lainnya harus memacu hingga 300 km/jam, salah mengambil tikungan, dan akhirnya kecelakaan.

“Menjadi pesepakbola adalah satu hal, sementara pembalap adalah hal lain. Seiring bertambahnya usia, refleks berubah-semuanya berubah,” pungkasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: