Benarkah Seumur Hidup Sultan Jogja Dilarang Melintasi Plengkung Gading?

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 23 Juni 2022

Indolinear.com, Yogyakarta – Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya merupakan pintu masuk benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dari arah selatan. Plengkung ini kerap disebut sebagai pintu masuk ke Keraton yang tidak pernah dilewati Sri Sultan Hamengku Buwono yang tengah bertahta. Benarkah demikian?

Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta KRT Jatiningrat mengungkapkan, larangan Sultan yang bertahta melewati Plengkung Gading ini merupakan aturan tak tertulis bagi raja. Atau biasa disebut dengan Paugeran.

“Salah satu paugeran bagi Raja, dilarang melewati Plengkung Nirbaya,” kata KRT Jatiningrat, dilansir dari Detik.com (22/06/2022).

Pejabat Keraton yang akrab disapa Romo Tirun ini menjelaskan, larangan Raja melewati Plengkung Gading ini, sama seperti larangan Sultan mengunjungi pajimatan atau makam. “Larangan lewat Plengkung Nirbaya ini sama seperti larangan ke pajimatan,” kata adik sepupu Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.

Larangan tersebut, kata Romo Tirun, sudah terjadi sejak Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I bertahta. Meski, pembangunan benteng Keraton yang memutari istana raja tersebut baru dibangun oleh RM Sundoro putera mahkota Sri Sultan Hamengku Buwono I.

“Sejak Sultan pertama. Walaupun pembangunan Benteng Keraton ini dibangun oleh puteranya Sri Sultan Hamengku Buwono II saat masih putera mahkota,” kata Romo Tirun.

Romo Tirun mengungkapkan, larangan tersebut karena Plengkung Nirbaya menjadi pintu keluar bagi kereta jenazah Sri Sultan Hamengku Buwono yang wafat. Paugeran Keraton, menurut Romo Tirun, mengatur dengan detail jalur iring-iringan kereta jenazah Sultan saat akan dimakamkan ke peristirahatan terakhir Panjimatan Imogiri.

“Ada paugerannya, dari mana keluarganya, lewat mana saja? Itu sudah ada,” jelasnya.

Pembangunan plengkung ini, kata Romo Tirun, ini merupakan strategi pertahanan dari RM Sundoro yang saat itu menjadi putera mahkota. Pembangunan plengkung yang menjadi bagian dari benteng Keraton, menimbulkan curiga Belanda.

“Pertama kali Belanda sudah nggak enak rasanya. Akhirnya, mereka juga membuat Benteng Vredeburg. Karena sebetulnya Vredeburg itu hunian yang dibikinkan Sultan HB pertama dengan biaya dari Keraton,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan plengkung ini bersamaan dengan pembentukan salah satu pasukan dari RM Sundoro yaitu Taruna Sura yang kini disebut sebagai Plengkung Wijilan. “Di sebelah baratnya itu, beliau melatih pemuda-pemuda yang disebut dengan Taruna Sura. Sura itu wani (berani), taruna itu muda,” katanya.

Plengkung atau jalan masuk njeron beteng, kata Romo Tirun, ada lima yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem di sebelah barat laut.

“Kemudian, Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing di sebelah selatan, dan Plengkung Madyasura atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur. Plengkung Madyasura kadang disebut juga sebagai Plengkung,” katanya.

Pembangunan tembok keliling ini, menurut Romo Tirun, dibangun Sri sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1755-1792). Bentuknya mirip persegi empat, namun lebih besar bagian timur.

Benteng keraton dari timur ke barat memiliki panjang 1200 meter, sedang arah utara ke selatan 940 meter. Benteng di sisi timur keraton diperpanjang ke utara sejauh 200 meter.

“karena di sana terletak kediaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota. Tempat tinggal putra mahkota ini dikenal juga sebagai Istana Sawojajar,” katanya. (Uli)