Batu Ini Konon Jelmaan Rubah, Membunuh Siapapun yang Nekat Menyentuhnya

FOTO: okezone.com/indolinear.com
Rabu, 5 Januari 2022
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Di Jepang, ada sebuah batu yang menyimpan kisah menyeramkan. Batu itu dijuluki ‘batu kematian’ yang konon diyakini adalah jelmaan rubah. Masyarakat Jepang menyebutnya dengan nama Sesshōseki.

Konon, batu ini mempunyai kekuatan mampu membunuh orang-orang yang berani mendekat atau menyentuhnya. Sesshōseki tepat berada di dekat sumber air panas yang paling terkenal di Jepang, bernama Nasu.

Dikutip dari Okezone.com (04/01/2022), dalam budaya tradisional Jepang, kitsune atau rubah sering digambarkan sebagai roh jahat dengan kekuatan dapat berubah bentuk. Salah satu yang paling terkenal dari jelmaan makhluk tersebut adalah Tamamo-no-Mae.

Menyerupai seorang wanita cantik, bertujuan untuk merayu Kaisar dan menjadi gundiknya pada pertengahan abad ke-12. Identitas asli Tamamo-no-Mae adalah rubah berekor sembilan, berusia lebih dari 2.000 tahun. Ia memiliki tujuan merayu beberapa bangsawan dan raja.

Keberhasilannya tercermin hingga mengakibatkan runtuhnya dinasti Shang, dan kematian 1.000 orang di kerajaan India kuno yang disebut Magadha.

Setelah seorang onmyōji (ahli mistis) mengungkap identitasnya, Tamamo-no-Mae dikejar dan diburu oleh pasukan dalam jumlah besar-besaran. Hingga berakhir kalah di dataran Nasu, kalah karena tajamnya samurai Kazusa-no-suke Hirotsune.

Diketahui tubuh Tamamo-no-Mae berubah menjadi bentuk batu. Kekuatannya dipercaya dapat merenggut nyawa yang mendekatinya, baik itu manusia maupun hewan. Penduduk setempat sangat menakutinya. Menyebabkan banyak biksu Buddha mengunjungi Sesshōseki, untuk menenangkan kehadiran rubah yang penuh dendam.

Akhirnya pada tahun 1385, seorang biarawan bernama Gen’nō memukul batu itu. Ia berhasil menghancurkannya, dan menyebarkan potongan batu kematian ke seluruh masyarakat Jepang. Sejak saat itu beberapa batu diberi nama Sesshōsekie, namun di sumber air panas Nasu merupakan wujud ‘Batu Kematian’ yang asli.

Kepercayaan untuk jangan mendekati ‘Batu Kematian’ masih diyakini masyarakat Jepang sampai saat ini. Di luar kepercayaan akan kepercayaan masyarakat terhadap legenda ceritanya.

Sebab, daerah ini dikenal akan keberadaan gunung berapi yang menghasilkan gas beracun, seperti hidrogen sulfida dan belerang dioksida. Hal tersebut juga menjadi indikasi asal mula mitos ‘Batu Kematian’.

Di dekat batu ini juga dibangun kuil untuk mendedikasikan keberadaan Rubah Ekor Sembilan. Selain itu, juga bertujuan untuk menenangkan roh Tamamo-no-Mae yang terkenal cantik namun mematikan. (Uli)