Bantu AS, Inggris Kirim 4 Ribu Tentara Ke Perang Korea

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 30 September 2021
loading...

Indolinear.com, Korea – Sekitar 4.000 ribu tentara Inggris menginjakkan kaki di Korea pada 29 Agustus 1950, di mana mereka berperan sebagai pasukan cadangan untuk ‘misi PBB’ yang dipimpin Amerika Serikat dalam Perang Korea.

Ini adalah gelombang bantuan kedua dari Inggris, setelah sebelumnya mengirim kapal perang dan beberapa skuadron udara di belakang garis pertempuran.

Sebelumnya, pasukan Amerika telah berada di Korea sejak awal Juli 1950, dan sempat ada kekhawatiran mendalam bahwa butuh waktu lama bagi Inggris untuk mengirim dukungan.

Pada akhir Juli 1950, Menteri Pertahanan Inggris, Emmanuel Shinwell, mengumumkan pasukan ekspedisi mandiri, termasuk kavaleri, artileri dan insinyur militer, serta infanteri, untuk dikirim ke Korea.

Namun dia mengatakan pasukan darat tidak akan ditarik dari Malaya atau Hong Kong untuk membentuk pasukan.

Akan tetapi, setelah permintaan mendesak dari Jenderal AS Douglas MacArthur untuk bantuan infanteri dari Inggris, Britania Raya segera tergerak untuk mengirim dukungan ke medan peperangan.

Inggris sendiri pada saat itu sudah berada di belakang garis pertempuran Perang Korea, dengan beberapa pasukan mereka bersiaga di bagian utara dan pelabuhan Pohang di pantai timur, dilansir dari Liputan6.com (28/09/2021).

Dalam Konteks

Dua juta orang tewas selama Perang Korea, yang berakhir dengan gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Juli 1953.

Dari 63.000 tentara Inggris yang dikirim ke Korea – sebagian besar berstatus wajib militer Layanan Nasional – 1.078 tewas dan lebih dari 1.000 ditawan.

Banyak yang dianiaya dan menjadi sasaran “pendidikan ulang politik”. Sekitar 82 tahanan tidak pernah kembali ke rumah dan diduga tewas.

Korea Utara dan Selatan akhirnya dipisahkan oleh garis demarkasi yang diperpanjang oleh zona demiliterisasi 2 km (1,5 mil) di kedua sisi.

Kesepakatan damai tidak pernah tercapai. Pasukan Amerika tetap ditempatkan di zona de-militerisasi di dan sekitar paralel ke-38 yang memisahkan Korea Utara dan Selatan.

Secara teknis, baik Korea Utara dan Korea Selatan masih berada di bawah status ‘dalam peperangan’ hingga saat ini. (Uli)