Baling-Baling Raksasa Sebagai Penggerak Mobil Masa Depan

liputan6com/indolinear.com
Jumat, 10 November 2017
loading...

Indolinear.com, Yokohama – Pada akhirnya, konsep teknologi yang ideal dan efisien untuk mobil listrik masa depan adalah mobil fuel cell. Dimana mobil ini meniadakan ketergantungan dengan bahan bakar minyak dan asupan listrik dari jaringan listrik kota.

Konsep ini terungkap dalam presentasi yang disampaikan General Manager New Business Planning Division Toyota Motor Corporation, Naomichi Hata di Pacifico Yokohama, Jepang, dilansir dari Liputan6.com (08/11/2017).

Namun dalam presentasinya, tidak melulu tentang mobil. Tapi bagaimana merangkai mengubah energi, rantai suplai hingga produk yang ramah lingkungan. Hidrogen menjadi bentuk energi yang cocok bagi masa depan, tidak saja cara mendapatkannya yang ramah lingkungan, tapi juga emisi yang dihasilkan juga tidak berbahaya.

Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menginisasi proyek bersama. Tujuannya mendapatkan kerjasama regional dalam pengembangan proyek teknologi hidrogen rendah emisi karbon. Proyek ini direncanakan berlangsung 4 tahun, dari 2015 hingga 2018. Dalam proyek ini terlibat sejumlah perusahaan Jepang. Ada Toyota, Toshiba, Iwani dan lainnya.

Proyek ini memanfaatkan proyek besar Hawa Wing. Nama ini sendiri merupakan kependekan dari Yokohama City Wind Power Plant. Sebuah proyek bersama pemerintah Jepang dengan dunia industri yang sudah dimulai sejak April 2007. Fasilitas penghasil hidrogen ini terletak di Kanagawa-ku, Yokohama, Kanagawa Prefecture.

Turbin angin yang digunakan adalah Vestas Wind System A/S model V80-2.0MW. Rotornya berdiameter 80 meter yang terkait di menara setinggi 78 meter. Sehingga ketinggian maksimum turbin angin menjadi 118 meter.

Kincir angin dapat berputar bila angin berhembus dengan kecepatan minimal 4 m/s atau sekitar 1,1 km/jam. Dalam kondisi maksimal, listrik yang tercipta sebesar 1.980 kW. Daya sebesar ini cukup memberi energi untuk 860 rumah di distrik Minato Mirai 21.

Namun untuk proyek kali ini, daya listrik dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen. “Listrik yang dihasilkan turbin disimpan dalam baterai yang berasal dari pemanfaatan kembali baterai mobil hybrid Toyota,” jelas Hata.

Listrik digunakan untuk ‘memecah’ air yang disuplai dari darat (bukan air laut yang berada dengan kincir angin). Air diubah dalam proses elektrolisa dari fuel stack buatan Toshiba. Hasilnya hidrogen yang disimpan dalam storage khusus.

Dari dalam tabung besar penyimpanan itu, tekanan hidrogennya belum memadai. Makanya tekanan yang semula 0,4 MPa dinaikkan hingga 45 MPa. Dalam proyek ini, hidrogen dimanfaatkan untuk mentenagai forklift. Sistem pendistribusian hidrogen ke pabrik, hidrogen disimpan di dalam truk.

Satu truk bisa digunakan untuk 12 unit forklift. Pengisian cepat hidrogen dari truk ke forklift hanya butuh sekitar 3 menit saja. Dari tangki full hidrogen itu, forklift bisa bekerja selama 8 jam.

Namun inti dari semua proses adalah bagaimana menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Sejak dari menciptakannya hingga emisi yang dikeluarkan. Perlu diingat, emisi yang dihasilkan kendaraan berpenggerak fuel cell adalah air. (Uli)

loading...