Balada Indra Yang Mengukir Karya Dan Menepis Stigma

FOTO: detik.com/indolinear.com
Jumat, 31 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Bandung – Indra Sumedi siuman. Tubuhnya terbaring lemah lunglai di ruang operasi rumah sakit. Ia perlahan membuka pandangan lebar-lebar selepas beberapa jam tak sadar.

“Waktu bangun usai dibius, saya kaget. Dua kaki sudah enggak ada,” kata Indra mengenang kisahnya saat berbincang bersama detikcom di kontrakannya, Jalan Kawaluyaan Baru 1, RT 6 RW 13, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Rabu 2 Juni 2021, dilansir dari Detik.com (29/12/2021).

Tim medis mengamputasi kaki Indra lantaran infeksi menjalar ke paha. Semenjak itu, hari-hari Indra diterkam gelombang kelam yang mengusik benak dan otak.

“Terus terang saja, saya putus asa. Sempat down,” kata pria bertato ini.

Insiden horor berujung Indra kehilangan kaki dipicu keributan di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Malam itu, tahun 1998 atau semasa reformasi Indonesia, Indra dan kelompoknya terlibat bentrok dengan kawanan pemuda.

Perkelahian sengit pecah. Kubu musuh memburu Indra. Terdesak gempuran lawan, Indra menghindar dan berlari kencang ke arah perlintasan kereta api di kawasan Cibatu.

Tiba-tiba kaki kirinya tersangkut di sela-sela rel. Nahas, kereta api ekspres jurusan Surabaya-Jakarta bergerak cepat mendekatinya. Indra panik bukan kepalang.

“Kereta menggilas kaki kiri dan kanan,” ucapnya.

Warga setempat gempar ada kabar lelaki tersambar. Mereka melihat Indra bersimbah darah. Mengenaskan.

“Tubuh ini ditutup daun pisang. Warga menyangka saya sudah meninggal,” ujar Indra.

Seorang temannya datang, lalu membuka daun itu dan mengecek napas Indra. “Tahu saya masih hidup, teman dan warga langsung membawa ke puskesmas di Garut. Setelah itu, saya dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung,” tutur Indra.

Sekelumit Rintangan Merengkuh Bangkit

Kini Indra berusia 47 tahun. Balada sebagai penyandang disabilitas dilaluinya dengan sekelumit rintangan. Selagi berupaya keras untuk merengkuh bangkit dan berproses mengembalikan kepercayaan diri, Indra diterpa stigma.

“Saya dihina. Dicela,” kata Indra sambil memperlihatkan jahitan bekas amputasi.

Orang-orang bernada sumbang saat menatapnya. Segelintir teman melirik angkuh kala berjumpa dengannya. Cerita pahit bertubi-tubi itu Indra hadapi tanpa murka.

“Ada teman yang menghina keadaan saya begini. Dia bilang nggak mungkin kayak dulu lagi. Disebutnya kalau saya nggak bisa cari duit dan nggak mungkin nikah,” tuturnya.

Indra perlu empat tahun melawan gejolak yang merongrong psikologisnya. Sempat frustrasi dan memilih mengurung diri di kamar.

Denyut optimisme menyeruak usai ibunya memberikan wejangan. “Berkat seorang ibu, saya bangkit. Ibu selalu memberikan nasihat agar saya jangan putus asa,” ucap Indra.

Sejak itu, semangat baja Indra berkobar. Ia sempat bekerja menyuplai makanan ringan ke pasar di Garut. Pernah melakoni bisnis kerajinan tangan. Kursi roda menemaninya beraktivitas.

Kendati suara miring masih terdengar, Indra memilih tetap enjoy. Dia punya cara menepis stigma. “Perjalanan hidup ini bertahap, banyak godaannya. Jangan dengarkan orang yang mencela. Jangan balik melawan dan menghina,” katanya.

Berkali-kali mentalnya ditempa, Indra mampu bertahan mengarungi kehidupan dengan segala rintangan. Dia ogah menyerah. Nyalinya tak mudah ciut.

“Harus bangkit. Jangan menyerah,” ucap Indra.

Tanpa kaki, bukan berarti Indra kehilangan gairah bekerja. Dia sanggup beraktivitas dan berkreasi yang akhirnya mendatangkan pundi-pundi.

Semangatnya tak padam. Indra yakini potensi dirinya berguna bagi semua orang. Keluarga dan rekannya pun tidak lelah melecut Indra agar selalu kokoh serta menginspirasi.

Indra membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan. Saat ini ia berpenghasilan dan hidup harmonis bersama istri dan tiga anaknya.

Mengasah Potensi

Dari Garut pindah ke Bandung. Indra bersama kawannya, Anwar Permana alias Ozzu, merintis Kelompok Kreativitas Difabel (KKD) Bandung.

Indra dan Ozzu serta sejumlah penyandang disabilitas lainnya menekuni wirausaha bidang protese. Mereka memproduksi tiruan kaki-tangan yang pemesannya tersebar seantero Indonesia.

Di tengah era digital saat ini, KKD menjaring konsumen melalui media sosial. Produk buatan KKD dipasarkan lewat Facebook dan Instagram. Respons konsumen sangat positif.

Usaha tersebut berdiri pada tahun 2010. Berkali-kali pindah tempat, kini markasnya berlokasi di samping kediaman Indra.

Mereka belajar secara autodidak merakit kaki-tangan palsu. “Terpenting kita ini bisa mengasah dan menonjolkan potensi. Perlihatkan kemampuan lebih yang kita miliki,” tutur Indra.

KKD menghimpun orang-orang disabilitas. Mereka mengusung pesan bahwa penyandang disabilitas mampu produktif bekerja. Selain itu, tujuan KKD membantu sesama disablitas yang ingin memiliki kaki-tangan palsu dengan harga terjangkau dan produk berkualitas.

“Saya dari awal menggeluti usaha ini karena ingin membantu sesama (penyandang disablitas),” ucapnya.

Tangan-tangan terampil Indra cs menghasilkan karya bermanfaat. “Alhamdulillah, sudah 10 tahun usaha kami ini mampu bertahan,” kata Indra.

Di sisi lain, ia mendorong pemerintah dan perusahaan swasta agar masif menggandeng penyandang disabilitas. Terutama soal pekerjaan. Dia berharap jangan ada diskriminasi yang merugikan difabel.

Selain itu, menurut Indra, penyandang disabilitas perlu melatih dan membekali diri dengan keterampilan. Ia pun mengingatkan para difabel tak perlu kecil hati.

“Keterbatasan tak jadi halangan untuk terus berkreasi. Tetap berkarya dan bangkit dari keterpurukan. Lakukan apa yang kita bisa dan lakukan,” ujar Indra mengakhiri obrolan. (Uli)