Bahaya Di Balik Skullbreaker Challenge Yang Viral Di TikTok

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 17 Februari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Belum lama ini, media sosial berbasis video TikTok diramaikan dengan sebuah tantangan yang berbahaya.

Yakni, Skullbreaker Challenge.

Dilihat dari namanya saja yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah Tantangan Pemecah Kepala, challenge ini sangat berbahaya.

Apalagi bila dilihat dari cara memainkannya.

Tantangan Skullbreaker Challenge dimainkan oleh tiga orang yang berdiri sejajar.

Dua orang yang berdiri mengapit seorang pemain mencoba melakukan lompatan vertikal lebih dulu.

Sedangkan orang ketiga, yang berada di tengah, menyusul melompat ketika kedua rekannya sudah kembali menjejakkan kakinya di lantai.

Ketika orang ketiga mencoba melakukan lompatan, saat itulah kedua orang lainnya menjegal kedua kakinya pada bagian betis.

Ketidakseimbangan itulah yang membuat orang ketiga kemudian terjatuh, dan otomatis membentur lantai dengan posisi telentang.

Anggota tubuh yang pertama membentur lantai atau dasar biasanya kepala dan punggung.

Tentu dengan adanya penjegalan dadakan, orang ketiga pemain Skullbreaker Challenge tak siap jika dirinya akan jatuh.

Benturan yang keras dan mendadak mengakibatkan orang ketiga yang jatuh saat melakukan Skullbreaker Challenge merasa syok sekaligus kesakitan.

Mengutip dari Tribunnews.com (16/02/2020), dampak berbahaya tantangan Skullbreaker Challenge dialami oleh seorang pelajar SMA di Miami, Florida, Amerika Serikat.

Mahasiswa baru di SMA South Dade yang tidak ingin diidentifikasi, mengatakan dia diintimidasi oleh teman-temannya untuk melakukan tantangan skullbreaker.

“Saya melompat sangat tinggi, dan saya ingat mereka menendang saya,” kata remaja itu.

Akibatnya, dia dibawa ke rumah sakit.

Seminggu kemudian, dia bilang dia masih kesakitan.

“Aku bahkan tidak tahu apakah itu bisa dijelaskan, seberapa sakitnya,” katanya.

“Tidak hanya secara fisik, tetapi secara mental,” tambahnya.

Di lain lokasi, seorang siswi di South Brook Middle School juga menjadi korban dari Skullbreaker Challenge.

Siswi bernama Aubrey Ortiz tersebut, awalnya hanya diminta untuk belajar menari.

Saat belajar menari itu, Aubrey diminta untuk melompat.

“[saat itu] Mereka menendang kedua kaki saya, dan seorang anak perempuan memegang kaki saya dan membantingnya ke lantai,” kata Aubrey.

“Saya jadi mati rasa dan tak bisa melakukan apa-apa. Untuk bangun pun, rasanya sudah kepayahan,” lanjutnya.

Kemudian, Aubrey diantar pulang ke rumah.

Sang orangtua langsung membawanya ke rumah sakit.

Dokter yang merawat mengatakan kepada orangtua Aubrey, kuciran rambut telah menyelamatkan Aubrey dari cedera kepala yang serius.

Sayangnya, tantangan ini membuat kelainan nail-patella syndrome yang telah diidap Aubrey sejak lama semakin memburuk.

Pihak Pittsburgh Public Scholls mengatakan, itu adalah ‘kejahilan yang patut disayangkan’ dan telah mendisiplinkan murid pelaku.

Namun, Ibu Aubrey meminta siswa dan siswi yang melakukan tantangan ini pada putrinya dihukum secara kriminal.

Sementara itu, Aubrey mengungkapkan dirinya tak mau lagi kembali sekolah tersebut.

Bahaya di balik Skullbreaker Challenge tak hanya mengakibatkan sekadar luka, tetapi juga cedera berat, bahkan lebih fatal lagi, kematian.

Korban dari Skullbreaker Challenge dapat mengalami gegar otak, retak pada tulang tengkorak atau patah tulang belakang, lutut, engkel, pinggul, tulang ekor, dan lainnya.

Apabila mengalami cedera berat pada tulang ekor atau tulang belakang, kemungkinan besar korban akan mengalami kelumpuhan, baik sementara maupun permanen, tergantung seberapa parahnya.

Sekolah-sekolah di sejumlah negara sudah menyebut Skullbreaker Challenge sebagai bahaya terbaru.

Ahli ortopedi di Vimhans, Dr Rajeev Sharma, mengatakan, tantangan ini jelas tidak boleh dilakukan.

Sebab, Skullbreaker Challenge dapat membuat sendi-sendi cedera atau otot/ligamen yang sobek.

Asal Skullbreaker Challenge

Tantangan yang viral ini diduga kuat berasal dari negara di Amerika Selatan, yakni Venezuela.

Di Venezuela, tantangan ini disebut Rompcr√°neos yang secara harfiah diterjemahkan artinya ‘skullbreaker’ atau ‘pemecah tengkorak’.

Mengingat betapa berbahayanya Skullbreaker Challenge maupun tantangan lainnya yang berisiko, para orangtua diimbau untuk selalu mengawasi kegiatan anak-anak mereka saat mengakses media sosial. (Uli)

INDOLINEAR.TV