Bahan Kulit Tak Lagi Menjadi Pilihan Untuk Interior Mobil Volvo

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 7 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Pada mobil tipe tertentu, bahan kulit hewan kerap menjadi pilihan untuk menghiasi sektor kabin. Umumnya, penggunaan bahan kulit ini ditemukan pada mobil-mobil premium.

Terkait penggunaan bahan kulit untuk interior, Volvo memutuskan untuk mengurangi penggunaan bahan kulit hewan.

Mengutip dari Liputan6.com (05/10/2021), alasan Volvo bahwa peternakan sapi berdampak buruk terhadap lingkungan. Pembiakan sapi secara estimasi menghasilkan 14 persen emisi greenhouse gases.

Sebagai produsen otomotif yang berkelanjutan, merek asal Swedia ini tidak hanya beralih ke mobil listrik untuk mengurangi emisi CO2, namun juga memperbaiki dan melindungi habitat dan kelangsungan hidup fauna.

“Sebagai produsen otomotif yang progresif kami harus menanggapi berbagai permasalahan terkait dengan keberlanjutan, tidak hanya emisi CO2. Sumber daya yang ramah lingkungan adalah bagian penting dari upaya tersebut, termasuk di dalamnya adalah menjaga kehidupan para hewan,” ujar Stuart Templar, Director of Global Sustainability Volvo Cars.

Sejalan dengan rencana tersebut, Volvo akan menggunakan bahan ramah lingkungan untuk kebutuhan interior mobil, mulai dari dasbor hingga jok penumpang.

“Beralih ke kabin bebas bahan kulit pada mobil listrik kami merupakan langkah yang bagus untuk menganggapi permasalahan ini,” tegasnya.

Cari Alternatif Lain yang Ramah Lingkungan

Saat ini Volvo terus mengembangkan sumber daya ramah lingkungan dengan kualitas tinggi.

Salah satunya adalah pembuatan Nordico, sebuah material sintesis yang terbuat dari campuran  botol polyethylene terephthalate (PET), bahan-bahan ramah lingkungan dari hutan-hutan khusus di Swedia dan Finlandia, serta corks dari botol anggur.

Meski sudah mempunyai Nordico, Volvo masih terus mencari sumber alternatif lain. Pemanfaatan bahan ramah lingkungan terhadap seluruh mobil Volvo akan direalisasikan setidaknya 25 persen dan 100 persen pada 2040.

“Mencari produk dan material yang mendukung pelestarian hidup binatang akan cukup sulit. Tapi itu bukan menjadi alasan untuk menghindari permasalahan tersebut. Ini adalah pilihan yang tepat. Mempunyai pola pikir progresif serta berkelanjutan berarti memberikan permasalahan yang rumit kepada diri sendiri dan secara aktif mencari solusinya,” tutup Templar. (Uli)