Atlet Angkat Besi Yang Sukses Bergelar PhD Di Bidang Teknik

FOTO: grid.id/indolinear.com
Kamis, 8 Agustus 2019

Indolinear.com, AS – Terjun di bidang pekerjaan yang dikuasai oleh laki-laki bukanlah sesuatu yang mudah bagi wanita.

Apalagi jika pekerjaan tersebut membutuhkan fisik yang kuat seperti olahraga angkat besi.

Tapi gadis berdarah Pakistan – Amerika, Kulsoom Abdullah berhasil menaklukkan cabang  olahraga  tersebut.

Menariknya, Kulsoom Abdullah merupakan seorang muslimah yang berhijab.

Lebih mengejutkan lagi, dia ternyata adalah lulusan PhD jurusan Teknik.

Mengutip dari Grid.id (07/08/2019), Kulsoom adalah satu di antara sedikit muslimah yang berprofesi sebagai atlet angkat besi,

Ia akan menjadi atlet angkat besi muslimah pertama yang mewakili Pakistan di ajang World Championship, Thailand pada September mendatang.

Kulsoom sebelumnya pernah berkompetisi di Olimpiade cabang olahraga angkat besi pada 2010 silam.

Sebelum angkat besi, ia sempat menekuni seni beladiri taekwondo.

Mengingat kembali perjalanannya menuju kejuaraan dunia, Kulsoom mengaku pernah ditolak ikut kompetisi angkat besi pada 2010 karena memakai hijab.

Tapi Kalsoom tidak mau menyerah begitu saja, sehingga ia melawan peraturan hingga bisa masuk tahun berikutnya.

“Itu sangat mengecewakan dan memengaruhi latihanku meskipun aku sudah terbiasa dengan diskriminasi.”

“Aku sudah berlatih dan bersaing di tingkat lokal, jadi ini adalah perasaan yang menggelegar,” kata dia.

Sebelum menekuni cabang olahraga angkat besi, Kulsoom sempat mempelajari seni beladiri taekwondo hingga mendapatkan sabuk hitam.

“Aku tidak tahu apa angkat besi ketika aku masih kecil.”

“Aku tidak punya role model atau berpikir bahwa aku akan menjadi atlet, aku tidak pernah mengejar cita-cita di bidang olahraga,” ujarnya.

Dia mengaku tertarik dengan angkat besi setelah lulus sekolah.

Kulsoom pun membangun daya tahan dan kekuatannya sendiri karena wanita yang terjun ke cabang olahraga itu masih relatif sedikit.

“Aku suka aktif dan ingin terus menjaga kekuatanku bahkan setelah menyelesaikan PhDku.”

“Itulah yang menuntunku ke olahraga angka besi,” lanjutnya.

Pastinya membutuhkan kedisplinan dan kerja keras untuk menyeimbangkan antara urusan akademik dengan pekerjaan.

“Itu tantangan. Ketika masih di sekolah pascasarjana, aku berlatih taekwondo. Pada dasarnya aku tidur, makan, belajar, bekerja, berlatih, lalu tidur lagi.”

“Kemudian, dengan angkat besi, aku berusaha memastikan bahwa aku merawat diri sendiri dan beristirahat selama liburan sehingga aku bisa mengembalikan energiku. ‘

“Sekarang ini, bekerja di industri lebih fleksibel daripada di universitas, jadi aku hanya menganggap angkat beban sebagai bagian dari rutinitasku untuk menjaga diri sendiri,” kata dia.

Keluarga Kulsoom sangat mendukungnya untuk menekuni cabang olahraga angkat besi meskipun itu masih terbilang tidak lazim.

Tapi dia tidak terlalu peduli dengan komentar orang tentang dirinya.

“Aku biasanya ditanya apakah aku panas karena mengenakan pakaian tertutup.”

“Jawabannya adalah ya, panas ketika musim panas dan tidak ada AC tetapi di musim dingin aku baik-baik saja,” jawabnya santai. (Uli)

INDOLINEAR.TV