Asean Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise 2018 Dimulai

FOTO: portal.cilegon.go.id/indolinear.com
Kamis, 8 November 2018

Indolinear.com, Cilegon- Badan Nasional penanggulangan Bencana (BNPB) dan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA Centre) resmi membuka Asean Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise atau Ardex yang ketujuh, yang diadakan di Hotel the Royal Krakatau Cilegon, Senin (05/11/2018).

Pembukaan Ardex turut dihadiri oleh sekretaris Jendral ASEAN, Dato Lim Jock Hoi, Gubernur Banten dan Plt Walikota Cilegon , Edi Ariadi. Kegiatan ini melibatkan ratusan profesional kebencanaan dari 10 negara anggota Asean yang bertanggung jawab menerapkan kebijakan manajemen bencana di tingkat nasional maupun regional.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menyampaikan bahwa Ardex merupakan upaya sebagai solidaritas satu ASEAN untuk meningkatkan kesiapan, mitigasi, dan kesiapsiagaan di kawasan Asia Tenggara.

“ Ardex juga sebagai wadah untuk meningkatkan kapasitas bersama dan membagikan gagasan demi pencapaian penanggulangan bencana yang terbaik,” kata Willem dalam pembukaan Ardex.

Willem juga berharap, kegiatan ini bisa meningkatkan kerjasama dalam mengurangi kerugian bencana.

“Saya berharap bahwa kegiatan ini berlanjut untuk menanamkan kepada kita terhadap pentingnya kerjasama dalam mengurangi kerugian bencana dan meningkatkan upaya kolektif terhadap bencana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Kawasan,” harapnya.

Direktur Eksekutif AHA Centre, Adelina Kamal menegaskan bahwa Wilayah Asean bisa dikategorikan sebagai salah satu kawasan yang rentan bencana, namun pengalaman bertahun-tahun menghadapi bencana alam juga membangun kekuatan dan kesiapsiagaan bersama.

“ Bencana umumnya bisa memengaruhi siapapun, tanpa melihat latar belakang profesi atau kewarganegaraan, dengan memahami dan melatih mekanisme kerjasama internasional untuk manajemen bencana yang sudah ada, kita sudah selangkah lebih dekat mewujudkan Asean yang tangguh, Ardex membantu setiap peserta untuk mengeksplorasi dan mengakui kapasitas masing-masing negara ASEAN saat berhadapan dengan kondisi sesungguhnya,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Walikota Cilegon saat diwawancarai mengakatan bahwa selain di sosialisasikan kepada masyarakat juga bisa disosialisasikan kepada anak-anak sekolah melalui kegiatan ekstrakulikuler di sekolah terkait penanganan bencana.

“Saya sangat mendukung kegiatan Ardex ini, semoga bisa bermanfaat bagi warga Cilegon Cilegon menjadi wilayah rawan bencana industri. Setelah acara ini, masyarakat jadi tahu bagaimana proses penyelamatan diri ketika terjadi bencana. Tapi, kami selalu berharap di Cilegon tidak terjadi bencana,” kata Edi dilansir dari portal.cilegon.go.id.

Hadir pada Ardex 2018 ini 170 delegasi internasional dari negara ASEAN, Uni Eropa, Australia, Kanada, Selandia Baru, Norwegia, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Inggris, ASEAN Sekretariat, PBB, dan AHA Centre. Ardex 2018 yang akan diselenggarakan di Kota Cilegon nanti diharapkan menjadi capaian bersama untuk membangun kawasan regional yang tangguh menghadapi bencana.

Berdasarkan analisis resiko dari pemerintah dan para ilmuan, Kota Cilegon merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko tinggi dari bencana gempa bumi dan tsunami.

Di sisi lain, sebagai konta industri, Kota Cilegon tidak hanya memiliki risiko terhadap bencana gempa bumi dan tsunami tetapi juga berpotensi mengalami bencana industri. Latar belakang tersebut mendorong BNPB untuk melaksanakan simulasi/latihan penanggulangan bencana di wilayah Kota Cilegon, Provinsi Banten.(pit)

%d blogger menyukai ini: