Asal Usul Gua Kiskendo: Kerajaan Manusia Berkepala Kerbau

FOTO: yogya.inews.id/indolinear.com
Sabtu, 18 Desember 2021

Indolinear.com, Jakarta – Cerita rakyat Yogyakarta kali ini berhubungan dengan asal usul sebuah objek wisata Gua Kiskendo di Kulonprogo.

Mungkin sebagian besar masyarakat sudah tidak asing dengan gua tersebut.  Terlebih bagi Anda yang mempelajari mitologi Hindu, istilah Mahesa Sura dan Lembu Sura yang merupakan sosok laki-laki berkepala kerbau dan sapi tentu terdengar akrab di telinga Anda.

Menurut cerita, Gua Kiskendo ini merupakan tempat tinggal atau kerajaan dari sosok raja berkepala kerbau dan lembu itu. Terbentuknya Gua Kiskendo juga dilatarbelakangi dengan perang perebutan kekuasaan antara Subali-Sugriwa dengan Mahesa-Lembu.

Lalu bagaimana kelanjutan kisah pertarungan tersebut? Mari simak ulasan cerita rakyat Yogyakarta mengenai asal usul Gua Kiskendo ini.

Diceritakan pada zaman dahulu di Pegunungan Menoreh, terdapat sebuah gua yang merupakan tempat tinggal Mahesa Sura dan Lembu Sura. Mereka adalah penguasa di wilayah tersebut yang mempunyai kesaktian yang amat luar biasa.

Di mana jika salah satu dari keduanya meninggal, kemudian saudaranya melangkahi dirinya, maka ia akan kembali hidup begitu pun sebaliknya. Mereka tidak akan mati jika salah satu dari mereka masih hidup, justru akan membantunya untuk hidup kembali.

Saat malam tiba, Mahesa Sura bermimpi bahwa dirinya telah menikah dengan Dewi Tara, seorang putri dari Bathara Indra di negeri Kahyangan. Keesokan paginya, dengan tekad kuat, ia akan mewujudkan apa yang dimimpikannya semalam.

Apapun yang terjadi, ia harus mewujudkannya. Kemudian ia menyuruh Lembu Sura selaku adiknya untuk melamar sang dewi, dilansir dari Yogya.inews.id (17/12/2021).

Sebenarnya, sang adik telah memperingati Mahesa bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Namun, Mahesa tetap bersikeras untuk memperjuangkan mimpinya itu.

Tak dapat berkata lagi, Lembu Sura segera pergi ke negeri Kahyangan dan menemui para dewa. Benar saja dugaannya. Para dewa menolak dengan tegas lamaran Mahesa Sura. Mendengar kabar tersebut, Mahesa marah besar.

“Aku tidak terima! Awas saja, aku harus segera memberi pelajaran kepada mereka!” amuknya.  Bergegas ia mengajak sang adik untuk menyerang tanah Kahyangan. Karena kesaktian mereka, tak satupun para dewa yang mampu mengalahkan mereka.

Akhirnya, Mahesa berhasil membawa Dewi Tara untuk turun ke bumi dan berniat menikahinya. Dewi pun hanya dapat pasrah, karena kekuatannya tak sebanding dengan kesaktian Mahesa.

Setelah Dewi Tara dibawa ke bumi oleh Mahesa, para dewa di bumi Kahyangan terus berpikir bagaimana cara agar Dewi Tara dapat kembali lagi ke Kahyangan.

Akhirnya terbesit dalam pikiran mereka untuk menggunakan kesaktian Aji Pancasona yang hanya dapat digunakan oleh orang yang suci, berhati luhur, serta dapat mengendalikan nafsu.

Dengan segera para dewa sepakat untuk menumpahkan kesaktian Aji Pancasona kepada Subali, putra Resi Gotama yang sedang menjalankan pertapaannya sejak bertahun-tahun lalu di Surya Pringga. Tanpa berpikir panjang, Bathara Guru segera menemui Sabali dan memberikan sebuah tawaran yang diikuti oleh perintah.

“Wahai, Subali! Aku akan mengabulkan segala permintaanmu. Namun, dengan syarat, kau harus menumpas angkara murka yang bersemayam di dalam tubuh Mahesa Sura dan Lembu Sura. Dan bawalah Dewi Tara kembali ke Kahyangan,” ujar Bathara Guru kepada Subali.

Merasa tertarik dengan tawaran yang diberikan, Subali kemudian menyanggupinya. Dengan segera Bathara Guru memberikan kesaktian Aji Pancasona pada diri Subali dan berpesan untuk mempergunakan kesaktian ini untuk misi perdamaian.

Subali mengangguk tanda setuju. Setelah menerima kesaktian itu, ia mengajak adiknya, Sugriwa untuk membantunya melawan Mahesa dan Lembu Sura. Segeralah mereka turun ke bumi. Tak selang lama, Subali dapat merampas Dewi Tara dari tangan Mahesa dan Lembu.

Kemudian dibawanya Dewi Tara ke mulut gua dan meminta adiknya, Sugriwa untuk menjaganya karena ia akan kembali ke dalam gua untuk membunuh angkara murka yang terdapat dalam tubuh kedua penguasa kerajaan di gua tersebut.

Sebelum Subali menginjakkan kakinya kembali ke dalam gua, ia berpesan kepada Sugriwa, “Adikku, aku memintamu untuk menjaga Dewi Tara disini.

Jika nanti darah yang mengalir dari dalam gua ini berwarna merah, maka akulah yang menang. Namun, jikalau darah yang mengalir berwarna putih, maka akulah yang kalah dan segeralah kau tutup mulut gua ini dengan batu besar!” Kemudian Subali bergegas kembali ke dalam gua.

Terjadilah pertarungan sengit antara kakak beradik yang sakti itu dengan Subali. Dengan kekuatan Aji Pancasona, Subali berhasil menghempaskan Lembu Sura. Namun, ia terkejut Lembu Sura kembali hidup setelah Mahesa Sura melangkahi tubuhnya.

Subali terkejut dengan kesaktian keduanya. Ketika Lembu Sura berhasil dibinasakannya maka sang saudara, Mahesa, segera melangkahi jasadnya. Begitupun sebaliknya. Subali memutar cara bagaimana dirinya mampu membinasakan kedua manusia berkepala kerbau dan sapi ini.

Subali yang bertubuh kecil kemudian menggunakan kesaktian Aji Pancasona untuk mengubah dirinya menjadi raksasa seperti tubuh musuh yang ada di hadapannya saat ini.

Tanpa berpikir dua kali, Subali segera memegang tanduk yang ada di kepala keduanya dan membenturkan kepala kakak beradik itu hingga kepala musuhnya itu pecah dan bercucuran darah merah yang bercampur dengan otak yang berwarna putih ke arah mulut gua.

Sugriwa yang melihat warna kedua darah yang mengalir itu mengira bahwa kakaknya, Subali, ikut tewas bersama Mahesa dan Lembu. Kemudian Sugriwa segera menutup mulut gua dan membawa Dewi Tara kembali ke Kahyangan.

Para Dewa menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Sang Dewa memberikan hadiah kepada Sugriwa yang berhasil membawa Dewi Tara kembali. Hadiah tersebut adalah menjadi suami dari Dewi Tara.

Pada awalnya, Sugriwa merasa tidak pantas mendapatkan hadiah tersebut karena sejatinya kakaknya lah yang berhasil melepaskan Dewi tara dari tangan Mahesa dan Lembu. Tetapi, karena ia yakin bahwa kakaknya telah tewas, maka ia menerima hadiah tersebut dan pesta pernikahan keduanya pun dilaksanakan.

Di lain sisi, Subali terkejut melihat pintu Gua Kiskendo yang tertutup rapat. Ia merasa dikhianati oleh adiknya sendiri. Ia marah dan menendang batu besar yang menutupi mulut gua. Setelah berhasil, ia segera terbang kembali ke Kahyangan.

Betapa terkejutnya Subali, setibanya disana ia justru disodorkan oleh pernikahan sang adik dengan Dewi Tara. Subali tak mampu lagi menahan amarahnya. Segera ia menghajar Sugriwa dan berujung pada pertarungan sengit di antara keduanya.

Meskipun sang ayah ada di tempat itu, Resi Gotama tak melerai kedua anaknya. Setelah dirasa amarah kedua anaknya mulai reda, ia meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.  Mendengar penjelasan dari Subali, justru Resi Gotama marah kepada Subali.

Ia merasa malu karena anaknya mengaku berdarah putih. Karena sifat takabur putranya tersebut, ia mengutuk Subali, kelak dirinya akan mati di tangan Prabu Rama Wijaya. Meskipun sempat terjadi kericuhan dalam pernikahan Sugriwa, dia tetap mendapat restu dari sang ayah untuk melanjutkan pernikahannya dengan Dewi Tara.

Setelah keduanya mengikrarkan sumpah pernikahan di hadapan para dewa, Sugriwa kemudian memberikan hadiah kepada sang permaisuri nya sebuah kerajaan yang terletak di Gua Kiskendo yang dinamakan Kerajaan Pancawati.

Seperti itulah kisah dibalik Gua Kiskendo yang menjadi salah satu cerita rakyat Yogyakarta yang berkaitan dengan mitologi. Baiknya jika Anda ingin menengok kisah tersebut, Anda dapat mengunjungi Gua Kiskendo dan nikmati teater artistik yang tergambar dari relief pada stalaktit gua. (Uli)