AS Dan Uni Soviet Sepakat Musnahkan Senjata Kimia

liputan6com/indolinear.com
Rabu, 8 November 2017
loading...

Indolinear.com, Washington DC – Tepat 27 tahun lalu, yakni pada 1 Juni 1990, Presiden Amerika Serikat George H.W. Bush dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Grobachev, menandatangani kesepakatan untuk penghentian produksi senjata kimia.

Melalui kesepakatan ‘Agreement on Destruction and Non-production of Chemical Weapons and on Measures to Facilitate the Multilateral Convention on Banning Chemical Weapons’ yang dilangsungkan di Washington DC, kedua negara juga harus menghancurkan 80 persen persediaan senjata kimianya.

“Dalam sebuah acara yang penuh dengan kekuatan dan kemegahan, Bush dan Gorbachev hadir di East Room Gedung Putih…,” tulis The New York Times kala itu.

Senjata kimia pertama kali dikembangkan selama Perang Dunia I dan digunakan secara luas dalam konflik masa itu. Pada 1990, banyak negara memiliki teknologi yang memadai untuk mengembangkan senjata kimia sangat mematikan.

Di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, Irak menggunakan senjata kimia selama perang dengan Iran. Dilansir dari Liputan6.com (06/11/2017), catatan sejarah tersebut membantu meyakinkan Presiden George W. Bush bahwa Irak masih memiliki senjata pemusnah massal, di mana catatan itu berperan sebagai pendorong invasi yang dipimpin AS pada 2003.

Melalui kesepakatan itu, AS dan Rusia mulai menghancurkan senjata kimia mereka. Masing-masing negara mengirimkan pengawasnya untuk memastikan, baik AS dan Rusia mematuhi kesepakatan itu.

Pada 1992, Senator Dick Lugar dan mantan Senator Sam Nunn membuat program ‘Cooperative Threat Reduction’. Di bawah program tersebut, Amerika Serikat menghabiskan miliaran dolar untuk melenyapkan beberapa cadangan kimia, biologis dan nuklir milik Uni Soviet, serta meningkatkan keamanan bagi cadangan senjata yang tersisa.

Pada 1993, Amerika Serikat, Rusia, dan 150 negara lainnya, menandatangani sebuah perjanjian komprehensif yang melarang senjata kimia. Senat meratifikasi perjanjian tersebut pada tahun 1997.

Pejabat Rusia mengklaim akan memenuhi kewajiban perjanjian mereka untuk menghancurkan semua senjata kimia pada tahun 2012. Meski demikian, Lugar mengatakan bahwa tujuan Negeri Beruang Merah itu kemungkinan tidak akan terpenuhi.

Selain ditandanganinya perjanjian penghentian produksi senjata kimia, di tanggal yang sama pada 1993, sebanyak 11 orang tewas dan 100 lainnya mengalami luka-luka setelah pasukan Serbia menembakkan artileri ke dalam sebuah pertandingan sepak bola di Bosnia yang dilaksanakan di pinggiran kota Sarajevo, Dobrinja.

Ratusan pria, wanita, dan anak-anak sedang menonton pertandingan tersebut ketika bahan peledak pertama mendarat di lapangan. Ledakan kedua terjadi beberapa menit kemudian dan melukai beberapa orang, termasuk mereka yang bermaksud untuk menolong korban. (Uli)