Arini Subinato Dari Toko Buku Jadi Wanita Terkaya Kedua

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Rabu, 13 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Wanita itu masih terlihat cantik dan awet muda. Padahal dia sudah berumur 51 tahun. Tubuhnya juga langsing bak remaja. Rambut pendeknya terlihat dipotong rapi.

Potongan rambutnya tak berubah sejak lima tahun lalu. Ia merupakan ibu dari dua putera. Ia tak menyukai publikasi. Dan kegaduhan yang timbul bersamanya.

Wanita itu adalah Arini Saraswati Subianto atau akrab dipanggil Arini Subianto.  Tapi dia tak bisa mengelak dari publikasi saat namanya masuk majalah Forbes sebagai salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia lima tahun lalu. Sejak itu namanya selalu bertengger di posisi 50 besar orang terkaya di Indonesia.

Dan pada tahun 2021, dia kembali masuk rangking ke-44 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan harta sebesar U$ 975 juta atau Rp 14,6 triliun ketika dolar U$ hampir menyentuh angka Rp 15.000.

Ia seperti meneruskan tradisi almarhum ayahnya, Benny Subianto, seorang konglomerat yang selalu masuk peringkat orang terkaya Forbes.

Pada tahun 2013, dilansir dari Dream.co.id (11/07/2022), Benny Subianto  masuk peringkat 37 orang terkaya Indonesia versi Forbes dalam usia 71 tahun dengan harta sebesar U$ 790 juta.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 2017, Arini Subinato putri sulung dari konglomerat Benny Subianto ini kemudian didaulat keluarga besarnya untuk memimpin seluruh unit usaha di bawah naungan PT Persada Capital Investama yang didirikan ayahnya.

PT Persada Capital Investama menggarap beberapa sektor industri, mulai perkebunan, pertanian, konstruksi, properti, pertambangan, hingga pelayanan kesehatan. Salah satu sumber pendapatannya adalah dari Adaro Energy Tbk, perusahaan pertambangan dan produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Untuk gelar sebagai orang terkaya di Forbes, Arini dalam sebuah wawancara di Youtube, jujur mengakui sebutan itu sedikit menakutkan.

“ Kalau boleh diperjelas sebenarnya, saya itu hanya mewakili keluarga saya. Jadi kebetulan karena saya berdasar konsorsium keluarga, saya meneruskan pekerjaan saya di holding Persada Capital. Dengan sendirinya nama saya yang keluar,” ujarnya.

“ Tapi to be fair saya mewakili adik-adik saya dan ibu saya. Terus terang makanya bagi saya, satu, saya belum pernah mendapat ekposure seperti ini, jadi agak menakutkan. Karena kita jarang dapat eksposure dan memang lebih baik rasanya jika tidak terlalu terdengar. Kedua bagi saya saya mendapat amanah dari keluarga untuk meneruskan legacy ayah saya. Itu maknanya,” tuturnya.

“ Jadi pertama adanya pengakuan. Kedua, saya sebagai pemegang kendali, saya harus bisa mempertanggungjawabkan dan amanah pada warisan almarhum ayah,” ujarnya.

Meski menakutkan, Arini tak bisa menutupi bahwa dirinya layak atas gelar itu. Paling tidak dia sudah resmi dinobatkan sebagai wanita terkaya kedua di Indonesia.

Arini Saraswati Subianto lahir tanggal 20 Desember 1970 di Jakarta.

Ia menyelesaikan pendikan SD dan SMA di Jakarta.  Pada tahun 1991, setelah menyelesaikan pendirikan SMA-nya dia terbang ke New York, Amerika Serikat, untuk kuliah.

Pada tahun 1994, ia menamatkan kuliah sarjananya dan kemudian mendapat gelar Bachelor of Fine Arts in Fashion Design, di kampus Parsons School of Design, New York City.

Ia lalu melanjutkan kuliah mengambil Master of Business Administration di Fordham University. Ia kuliah dari  tahun 1996-1998.

Setelah tamat dia pulang ke Indonesia.

“ Sebenarnya waktu kembali ke Indonesia tahun 1998 saya tidak tertarik bisnis ayah saya. Tapi ayah saya selalu mendukung keputusan-keputusan saya dan adik-adik saya. Untuk mengikuti keinginan dan passion (hasrat) kita,” ujarnya.

“ Jadi apa pun yang kita ambil dalam mengambil jenjang karir dan sebagainya, ayah saya support full. Kebetulan saya dan dua adik perempuan saya background-nya desain. Saya awalnya buka toko bersama teman-teman di Blok M. Kemudian berkembang menjadi toko buku Aksara,” tuturnya.

Pada tahun 1998. Arini memang memulai karier dengan mendirikan toko suvenir di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Bisnis itu kemudian dikembangkan menjadi toko buku Aksara yang didirikan oleh teman sekolah menengahnya Winfred Hutabarat.

Arini juga menikah dengan Andre J Mamuaya, Direktur Corporate Affair PT Adaro Energy Tbk, perusahaan tempat ayannya Benny Subianto, memiliki saham.

Malang tak dapat dielakkan.  Andre J Mamuaya meninggal dunia dalam kecelakaan saat mengendarai motor Ducati miliknya. Andre meninggal setelah terlibat kecelakaan dengan Kijang Innova di Jalan Sudirman, depan Gedung Plaza Central, Jakarta Selatan, bulan Agustus 2012.

Saat Andre meninggal, dua anak dari buah cintanya dengan Arini Subianto baru berumur 9 tahun dan 7 tahun.

“ Saya secara fisik tinggal dekat dengan ibu saya dan adik-adik saya. Kami tinggal di sebuah kompleks kecil. Semacam mini town house. Jadi pada saat suami saya meninggal mendadak, almhamdulilah seluruh support system dari keluarga langsung merangkul kami bertiga, saya dan dua putera saya,” katanya.

“ Jadi, saya, ibu saya dan adik-adik saya, mengatakan jangan ada perubahan yang dirasakan anak saya, selain tidak adanya suami saya. Semuanya harus berjalan senormal mungkin. Seberapa susah? Kalau gampang mah bukan hidup. Sekarang anak-anak saya sudah dewasa,” ujarnya mengenang masa-masa pahit itu.

Namun, kematian suaminya membuat Arini dan keluarga besarnya tersentak. Ia mulai melihat betapa tak abadinya kehidupan. Setiap orang bisa dipanggil setiap saat oleh Tuhan. Sewaktu-waktu. Tanpa peringatan.

“ Sampai suatu saat suami saya meninggal, di situ baru muncul kesadaran kami akan mortality atau keabadian. Di situ kita baru sadar kita tidak boleh terlena seperti ini. Sukses harus dipikirkan. Dari situ kita bicara di keluarga bagaimana jika suatu saat just in case salah satu dari kami tidak ada,” paparnya .

“ Jadi saat suami saya tidak ada itu adalah wake up call for everyone (peringatan ke semua orang). Jadi pada saat itu ayah saya saat masih hidup, ibu dan dua adik saya, meminta saya menjadi pemimpin pengganti jika nanti terjadi apa-apa,” terangnya.

Dan ternyata persiapan ini memang terbukti benar. Pada Januari 2017 giliran ayahnya Benny Subianto meninggal dunia karena sakit. Maka, Arini pun didapuk sebagai penerus bisnis keluarga.

Ayah Arini, Benny Subianto adalah lulusan teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tidak seperti putrinya, Benny mengikuti jalur karier yang lebih tradisional. Benny, putera seorang pedagang gula dan beras kecil-kecilan, memulai kariernya pada tahun 1969 sebagai salesman di perusahaan alat berat kecil saat itu, Astra International.

Sebagai lulusan teknik mesin, Benny juga pernah ditempatkan di PT United Tractors, anak perusahaan Astra dan dari 1984 hingga 1997 menjadi direktur utamanya. Di Astra International sendiri, Benny pernah jadi wakil direktur utama dari 1990 hingga 1998 dan setelahnya menjadi komisaris.

Sementara Astra tumbuh, Benny membuat namanya dikenal sebagai pengusaha yang dapat dipercaya, berkat keterampilan jaringannya, dan dengan cepat naik pangkat di perusahaan.

Pada tahun 1988, ia memperoleh 5% saham di Astra, tempat ia akhirnya menjabat sebagai wakil presiden.

Benny Subianto baru pensiun dari Astra di tahun 2002 dan kemudian mendirikan perusahaan investasi bernama PT Persada Capital Investama.

Langkah besar Benny Subianto terjadi di tahun 2005. Menurut Forbes, dia kemudian membeli sekitar 12% saham Adaro Energy, yang sekarang menjadi salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia.

Benny Subianto, termasuk lima investor yang ikut mengambil alih sebuah perusahaan tambang Adaro Energy dari pemilik lamanya. Selain Benny, investor lain adalah Garibaldi Thohir, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno dan Teddy Rachmat.

Benny Subianto kemudian dijadikan Komisaris PT Adaro Energy Tbk sambil terus menjadi Presiden Direktur di PT Persada Capital Investama.

Selain di Adaro, dua saham besar lainnya yang dimiliki Persada Capital adalah Triputra Agro Persada, produsen kelapa sawit dan karet, serta produsen karet Kirana Megatara.

Kirana Megatara yang berdiri pada Juni lalu merupakan anak perusahaan Grup Triputra – perusahaan yang didirikan Benny dan rekannya, Teddy P Rachmat, pada 2002. Sebelum IPO, kepemilikan saham Persada Capital Investama di Kirana Megatara mencapai 30,58 persen.

Arah bisnis Persada Capital Investama juga tercatat di PT Surya Semesta Internusa Tbk. Untuk perusahaan yang bergerak di sektor properti, konstruksi, dan perhotelan, Persada Capital memiliki 7,91 persen saham.

Saat ditanya alasannya menjadi pengusaha oleh majalah Forbes, Benny berkata: ” Alasan saya menjadi seorang pengusaha sederhana. Saya ingin tetap pergi ke kantor bahkan pada usia 71 tahun.”

Saat masih hidup,  Benny Subianto juga pernah mengatakan kepada majalah Forbes bahwa dia ingin setidaknya satu dari tiga putrinya mengambil alih bisnisnya.

Keinginannya akhirnya terpenuhi saat putri sulungnya Arini Subianto,  menggantikan peran ayahnya, tak lama setelah Benny meninggal dunia pada Januari 2017.

Arini sekarang adalah Presiden Direktur perusahaan induk keluarga, Persada Capital Investama, dan mengawasi investasi dalam segala hal mulai dari produk pengolahan kayu dan minyak sawit, hingga pengolah karet dan batu bara.

Adik bungsunya, Ardiani, 44 tahun, yang sebelumnya menjadi ibu rumah tangga, sekarang bekerja dengannya di Persada, sementara saudari Armeilia, 48 tahun, menjalankan bisnis desain grafisnya sendiri.

Ini merupakan sedikit perubahan bagi Arini, seorang sosialita terkemuka yang terkenal karena kecintaannya pada buku dan hadiah. Itulah juga alasannya membangun toko buku Aksara.

“ Kami memutuskan untuk membangun sesuatu yang unik di Jakarta, membawa pulang pengalaman ritel yang kami miliki di AS,” kata Arini.

Dari kecintaannya pada buku, oleh sejarah Arini dipaksa memimpin usaha warisan ayahnya. Akibatnya dia menjadi salah satu wanita terkaya di Indonesia dengan harta Rp 14 triliun! Sungguh sebuah jalan berliku yang tak mudah. (Uli)

loading...