Apa Yang Diungkapkan Peta Tentang Kita?

Minggu, 1 November 2015
loading...

Indolinear – Kartografi menghasilkan sejumlah karya seni tetapi apakah hasilnya setepat perkiraan sebelumnya? Prinsipnya, peta tidak bisa selalu dipercaya kebenarannya.

Sebagai anak laki-laki -sama seperti banyak yang lainnya- saya terbiasa mengamati peta. Keluarga saya berlibur musim panas di pantai Dorset, Inggris selatan, dan di dinding rumah itu terdapat peta Ordnance Survey tahun 1963 yang mencatat daerah sekitar dengan skala enam inci per satu mil atau sekitar 15 cm per 1,6 km.

Jika hujan turun -yang seringkali terjadi di Inggris meskipun sedang musim panas- saya mengamati peta hitam putih itu, terpesona dengan sistem tanda dan simbol yang rumit.

Sampai hari inipun, jika berjalan kaki di pedesaan, saya selalu membawa peta OS Explorer yang lebih dapat dipercaya dibanding aplikasi telepon pintar, yang cenderung menghadapi masalah batere habis atau sinyal hilang.

Peta yang dibuat secara ilmiah memang terasa obyektif dan otoritatif, sebagai suatu alat ilmiah yang memungkinkan kita bergerak di dunia. Dan Badan pemetaan terkenal Inggris, Ordnance Survey, masih menganggap dirinya lengkap dan akurat.

Sekarang badan itu telah berkembang menjadi sebuah kekuatan digital yang memiliki informasi pusat data geospasial yang sangat besar. Semua petanya dibuat dari yang disebut ’OS MasterMap’ Inggris, terdiri dari 460 juta lebih fitur geografis yang terus-menerus diperbarui -lebih 10.000 kali per hari- oleh tim yang beranggotakan 270 orang dengan menggunakan teknologi GPS.

“Kami melakukan survei dengan ketepatan sampai ke sentimeter,” kata manajer OS, Elaine Owen, yang juga menegaskan MasterMap adalah sumber sebagian besar data yang diberikan lewat satnav. “Bank data pemetaan kami adalah pusat data geospasial yang paling rinci dan canggih di dunia.”

Cara pandang keliru

Tetapi sebuah buku baru, Map: Exploring the World, terbitan Phaidon, mengisyaratkan peta tidak selalu dapat dipercaya atau obyektif seperti yang kita perkirakan. Hal ini terutama terkait dengan peta sejarah, yang sebagian besar adalah karya seni yang seringkali lebih mengungkapkan pembuatnya daripada tempat yang seharusnya dicatat.

Peta dunia abad pertengahan biasanya menempatkan Jerusalem di pusat rancangannya -yang mewakili arti penting Kristen pada masa itu. Mappa mundi buatan tahun 1.300 dari Hereford Cathedral adalah salah satu contohnya.

Namun petugas pengukur peta canggih untuk geologi Inggris, Skotlandia, dan Wales dari tahun 1815 -William Smith- memiliki dorobgan yang sangat berbeda.

Setelah puluhan tahun melakukan penggalian, Smith mempertanyakan penjelasan pihak keagamaan tentang lapisan batu dan fosil. Dia kemudian terdorong untuk menghasilkan peta geologis pertama dunia tentang sebuah negara. Lapisan baru dikelompokkan dengan menggunakan 20 warna. Petanya menjadi awal dari upaya ilmu pengetahuan mempertanyakan ajaran dasar Kristen abad ke-19.

Banyak juga contoh peta yang terkait dengan kebudayaan tertentu, seperti tabel kayu Marshall Islands, Pasifik Selatan. Peta ini dibuat dengan mengaitkan kerang pada kayu dan menggunakan serat palem. Peta tersebut mencatat lokasi kepulauan, arus dan ombak laut.

Kemudian ada juga Peta Chukchi Sealskin (1870) yang sekarang berada di Pitt Rivers Museum, Oxford. Dia menjadi semacam ensiklopedia tentang cara hidup di samping sebuah peta. Piktografi berbagai hal -seperti walrus, perahu pemburu paus, kayak dan dukun- mewakili perburuan dan kehidupan sehari-hari pedesaan sebagai catatan masa lalu Semenanjung Chukchi, Asia timur laut, di seberang Teluk Bering dari Alaska.

Sedang peta London Underground buatan Harry Beck pada tahun 1933 memperlihatkan kehausan akan inovasi dunia modern di Inggris pada permulaan abad ke-20. Masa itu adalah juga saat ketika Ordnance Survey menjadi lebih santai.

“Baru setelah masa di antara kedua perang, bagian pertama abad ke-20, OS menjadi benar-benar dikaitkan dengan imajinasi masyarakat, sejalan dengan kegemaran akan pendakian,” jelas Rachel Hewitt, penulis Map of a Nation: A Biography of the Ordnance Survey.

“Hal ini karena peta dibuat pada kertas yang indah dan mudah dibawa-bawa, serta dikaitkan dengan kegilaan terhadap keadaan alam Inggris,” tambahnya.

Batas terakhir

Pembuat peta masa kini tidak terlalu memperhatikan jarak dan obyek: mereka lebih mencatat jaringan dan keterkaitannya, termasuk pemakaian media sosial seperti Twitter dan Facebook pada saat itu juga, sehingga peta dapat berubah dari detik ke detik. Peta baru ini mewakili ‘Zaman Informasi’.

Seringkali pula seniman sengaja membuat peta dengan perspektif yang tidak tepat.

 

View of the World from 9th Avenue karya Saul Steinberg yang menjadi kulit muka majalah New Yorker tahun 1976 adalah sebuah ‘peta’ yang terlalu membesar-besarkan Manhattan di bagian depan, sementara di latar belakangnya adalah daerah luas ke arah barat dari Hudson River sampai ke Laut Pasifik dan seterusnya, yang terlihat tidak begitu jelas. Meksiko dan Kanada, misalnya, hanya titik kecil daerah kosong di kiri dan kanan. Steinberg membuat lelucon tentang betapa sempitnya pandangan perseorangan tentang dunia.

Banyak ahli yang saat ini sepakat bahwa kita sekarang hidup pada masa keemasan kartografi.

“Peta yang paling saya gemari adalah buatan Human Connectome Project yang memperlihatkan jaringan benda-putih di otak kita,” kata John Hessler, ahli kartografi modern pada Library of Congress in Washington, DC, yang menulis pendahuluan buku baru terbitan Phaidon.

“Ini adalah jalan bebas hambatan dan garis listrik yang menghubungkan bagian abu-abu pemikiran dan tindakan. Bagi saya, ini memperlihatkan batas terakhir kartografi -yaitu pemetaan tentang diri kita sendiri- dan mewakili proyek pemetaan yang tidak pernah ada dalam sejarah manusia.

Alastair Sooke adalah Kritikus Seni The Daily Telegraph. (uli)

 

 

Sumber: Bbc.com