Apa Saja Bahaya Abu Vulkanik pada Pesawat Terbang?

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 6 Juni 2019

Indolinear.com, Bali – Gunung Agung di Bali kembali erupsi pada Jumat (24/5/2019) malam hingga Sabtu (25/5/2019) dini hari.

Akibatnya, sejumlah jadwal penerbangan dari dan ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali dibatalkan.

Hal ini disebut oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B Pramesti.

“Data kemarin malam memang ada penerbangan dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dibatalkan,” ungkap Polana saat dikonfirmasi.

Sementara itu, saat dihubungi secara terpisah, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali, Elfi Amir menjelaskan sembilan penerbangan yang batal tersebut merupakan penerbangan internasional.

“Semua yang cancel penerbangan internasional Bali-Australia dan sebaliknya,” jawabnya.

Di antaranya Jetstar penerbangan JQ35 Melbourne-Denpasar, JQ36 Denpasar-Melbourne, JQ83 Darwin-Denpasar, JQ82 Denpasar-Darwin, JQ90 Cairns-Denpasar, JQ91 Denpasar-Cairns, JQ127 Adelaide-Denpasar, JQ128 Denpasar-Darwin dan JQ38 Denpasar-Sydney.

Pembatalan penerbangan pun dibenarkan Communication & Legal Section Head PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Arie Ahsanurrohim.

“Bandara masih beroperasi normal pascaerupsi Gunung Agung kemarin. Hanya maskapai rute Australia yang melakukan pembatalan penerbangan,” ungkap Arie.

Sementara itu, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali Elfi Amir menambahkan, selain cancel flight atau pembatalan, juga terdapat flight postpone atau pemunduran jadwal keberangkatan karena menghindari hujan abu vulkanik.

Rute flight postpone yakni Qantas Airlines nomor penerbangan QF46 dan QF44. Pesawat baru diberangkatkan Sabtu siang dari jadwal seharusnya Jumat malam.

Serta Virgin Air dengan nomor penerbangan VA42, VA46, VA34, dan VA36.

Elfi Amir menjelaskan, pada Jumat malam terjadi hujan abu vulkanik ringan dan kondisi masih berlangsung sampai dengan pukul 01.00 WITA, dilansir dari Tribunnews.com (05/06/2019).

Abu vulkanik, kata Amir, terdeteksi pada ketinggian sekitar 4.000-5.000 meter dengan intesitas sedang tapi agak tersebar.

Meski begitu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai masih beroperasi normal.

Mengingat adanya pembatalan atau penundaan penerbangan saat sebuah gunung berapi erupsi, seberapa berbahaya abu vulkanik terhadap pesawat?

Ketika gunung berapi erupsi, sejumlah besar material dimuntahkan ke atmosfer dan mencapai ketinggian yang signifikan.

Hal ini tentu menjadi ancaman terhadap dunia penerbangan.

Abu vulkanik terakumulasi di awan dan ketinggian tertentu dan dapat terbawa oleh angin.

Abu vulkanik ini juga tidak terlihat di radar cuaca atau radar Air Traffic Controller (ATC) karena ukuran partikelnya yang sangat kecil.

Tak hanya itu, abu vulkanik juga menimbulkan risiko tinggi bagi mesin pesawat.

Skenario terburuk yang dapat terjadi adalah kegagalan mesin secara total.

Artinya, mesin jet berukuran jumbo pun bisa terpaksa beralih ke mode gliding hanya dalam waktu beberapa menit.

Abu partike yang didominasi oleh silikat akan melebur dalam mesin, sebab titik lelehnya mencapai 1.100 derajat Celsius.

Titik lebur ini jauh lebih kecil dari suhu operasi inti mesin turbin berpintas tinggi yang, pada pengaturan dorong normal, setidaknya mencapai suhu 1.400 derajat Celsius.

Namun, ketika mesin pesawat mati, itu akan mendingin dengan cepat.

Kemudian apabila mesin dapat dinyalakan kembali, kemungkinan material abu vulkanik yang melebur dan terpadatkan di dalamnya setidaknya akan copot dan mesin dapat berfungsi kembali.

Selain itu, partikel abu vulkanik dapat menyebabkan kerusakan mesin pesawat karena mengendap.

Efek abrasif partikel abu vulkanik juga dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan bagian dalam turbin mesin, yang meski tidak terlalu berdampak pada operasi penerbangan normal, bakal mengurangi konsumsi bahan bakar spesifik dan memperpendek usia mesin.

Partikel abu vulkanik juga dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada permukaan badan pesawat terbang dan lapisan terluar dari kaca depan.

Bahkan dapat membuat kaca depan pesawat buram.

Ada beberapa peristiwa penerbangan yang terjadi saat gunung api erupsi.

Pada malam 24 Juni 1982, pesawat British Airways Flight 9 sedang terbang di ketinggian 37.000 kaki di atas Samudera Hindia ketika melintasi awan abu vulkanik dari Gunung Galunggung di Indonesia..

Akibatnya, keempat mesin mengalami kegagalan dan pesawat langsung meluncur lebih dari 20.000 kaki ke bawah, tepatnya sampai ketinggian 13.500 kaki di atas samudera sebelum akhirnya para kru dapat menyalakan mesin kembali dan mendarat di Jakarta dengan selamat.

Tiga minggu kemudian, sebuah pesawat Singapore Airlines terbang menembus awan abu vulkanik dari Gunung Galunggung dan seketika keempat mesinnya mati.

Lagi-lagi, para pilot berhasil menyalakan mesin kembali di waktu yang tepat hingga bisa mendarat dengan selamat.

Pada 15 Desember 1989, pesawat Boeing 747 milik maskapai KLM sedang terbang menurun ke Anchorage, Alaska.

Pesawat berada di ketinggian sekitar 27.000 kaki ketika terbang menuju abu vulkanik dari Gunung Redoubt yang berjarak sekitar 150 mil jauhnya.

Keempat mesin pun gagal saat berada di atas Pegunungan Talkeetna, yang tingginya 11.000 kaki.

Namun, pesawat kemudian meluncur (gliding) turun hingga ketinggian 13.300 kaki sebelum akhirnya mesin menyala kembali dan dapat mendarat di Anchorage. (Uli)