Anggota MPR Muhammad Idris: Jangan Pernah Berhenti Mencintai Indonesia

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 15 Mei 2019

Indolinear.com, Riau – Pagelaran Wayang kulit yang diselenggarakan di lapangan desa Sei Beras-Beras, Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Dengan lakon ‘Pendowo Sukur’ ini dibawakan oleh dalang Ki Bagus Mudo Darmoko. Terselenggara berkat kerja sama Sekretariat Jenderal MPR dengan pemerintah daerah setempat.

Anggota MPR RI, Ir. H. Muhammad Idris Laena yang hadir pada pagelaran ini menyampaikan bahwa, MPR menggelar wayang kulit ini untuk mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Ini merupakan salah satu metode sosialisasi”, ujar anggota Fraksi Golkar di MPR itu.

Sebagai seni budaya yang popular bagi masyarakat Jawa, Idris Laena menyebut penyampaian Empat Pilar lewat pertunjukan wayang kulit juga digelar di banyak daerah. “Sehingga pementasan seni budaya oleh MPR beragam seperti Bhinneka Tunggal Ika”, ujar pria yang juga menjabat Ketua Badan Penganggaran MPR RI, dilansir dari Tribunnews.com (14/05/2019).

Di hadapan warga desa Sei Beras-Beras, Idris Laena mengatakan Indonesia adalah bangsa yang besar. Untuk itu kebesaran bangsa ini harus dirawat dan dijaga. “Jangan Pernah Berhenti Mencintai Indonesia”, tuturnya.

Salah satu kiat untuk mencintai Indonesia, menurut Idris Laena adalah dengan mengamalkan Pancasila. Dari sinilah maka MPR melakukan sosialisasi hingga wilayah desa. “Sambil nonton wayang kulit, mari kita laksanakan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Pancasila”, tegasnya.

Sebagai tanda resmi sosialisasi Empat Pilar MPR RI melalui pagelaran wayang kulit dimulai, Idris Laena dalam kesempatan itu menyerahkan secara simbolis sosok lakon kepada dalang Ki Bagus Mudo Darmoko.

Ketua Panitia pagelaran ini Rubiyo, dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada Sekretariat Jenderal MPR sudah menyelenggarakan pagelaran wayang kulit ini. “Selain untuk Sosialisasi Empat Pilar juga ikut melestarikan seni budaya daerah asal kami”, tuturnya pria yang berasal dari Yogyakarta ini.

Sosialisasi dan pertunjukan wayang kulit itu tak hanya menarik banyak orang namun juga mengundang ratusan pedagang datang ke lapangan desa. Sehingga malam itu suasana di lapangan desa Sei Beras-Beras menjadi pusat keramaian yang meriah.

Hadir dalam pagelaran itu, jajaran perangkat desa Sei Beras-Beras seperti Camat, Kapolsek, Danramil, Kepala Desa Sei Beras-Beras, serta ratusan masyarakat yang sangat antusias menyaksikan pagelaran ini. (Uli)