Ancaman Siber Semakin Meningkat Banyak Perusahaan Masih Cuek

merdekacom/indolinear.com
Rabu, 8 November 2017
loading...

Indolinear.com – Semakin banyak perusahaan di dunia kian adaptif dengan perkembangan teknologi. Sayangnya, semakin adaptifnya perusahaan terhadap kemutakhiran teknologi, tak dibarengi dengan pemahaman tentang keamanan di dunia siber. Padahal, keamanan siber merupakan faktor terpenting manakala teknologi berkembang.

Dalam sebuah laporan yang berjudul Global State of Information Security Survey (GSISS) 2018, 9.500 pejabat eksekutif senior di bidang bisnis dan teknologi dari 122 negara yang disurvei mengakui ketidakamanan dunia siber makin tinggi. Banyak celah yang memungkinkan disasar serangan siber, dilansir dari Merdeka.com (07/11/2017).

Meskipun sadar akan bahaya itu, faktanya masih ada perusahaan yang tak memiliki strategi keamanan informasi. Survei yang dilakukan oleh PwC itu, menyebutkan bahwa sebanyak 40 persen responden tidak memiliki strategi keamanan informasi yang menyeluruh. Lebih fatalnya lagi, 48 persen responden mengatakan tidak memiliki program pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan, dan 54 persen di antaranya tidak memiliki proses tanggap insiden.

Hal itu tentu saja berimbas terhadap sebagian besar perusahaan yang menjadi korban mengatakan tidak dapat mengidentifikasi pelakunya dengan jelas. Hanya 39 persen dari responden survei yang mengatakan sangat yakin dengan kemampuan atribusi yang dimiliki.

Dalam survei itu disebutkan juga, jumlah organisasi yang memiliki strategi keamanan siber yang menyeluruh menunjukkan angka yang cukup tinggi di Jepang dengan prosentase sebanyak 72 persen. Masalahnya, di Jepang serangan siber dipandang sebagai ancaman keamanan nasional terbesar. Begitu juga dengan Malaysia yang menganggap serangan siber sebagai ancaman besar.

Maka itu, pada bulan Mei 2017, para pemimpin negara-negara G-7 sepakat untuk bekerjasama dengan para mitra lainnya untuk mengatasi serangan siber dan memitigasi dampaknya terhadap infrastruktur yang kritikal.  (Uli)