Anak Begitu Aktif, Orang Tua Ini Kenalkan Gymnastic Ke Putranya

FOTO: haibunda.com/indolinear.com
Rabu, 18 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Ghifari Bambani sudah tujuh tahun menekuni olahraga gymanstic artistik. Anak 11 tahun ini dikenal sebagai pribadi yang tekun dan pekerja keras.

Di usia 4 tahun, Ghifari pertama kali diperkenalkan dengan olahraga gymnastic. Bukan soal prestasi, orang tua Ghifari mengenalkan cabang olahraga ini untuk menyalurkan energi sang putra yang begitu aktif.

Sejak usia tiga tahun, pola tidur Ghifari tak beraturan. Ia sering begadang karena terlalu aktif, Bunda.

“Usia tiga tahun sudah aktif banget. Kadang waktu istirahatnya tidak karuan, tidak mau tidur siang, dan bisa tidur jam 12 atau 1 malam,” kata sang ayah, Arfi Bambani saat dihubungi HaiBunda, dilansir dari Haibunda.com.com (16/05/2022).

“Kita bingung ini anak kenapa ya? Ternyata sederhana, anak ini kelebihan tenaga atau energi. Bukan kategori hiperaktif karena kita pernah konsultasi ke dokter dan katanya ini masih wajar,” sambungnya.

Arfi dan sang istri pun berinisiatif menyalurkan energi sang buah hati di berbagai aktivitas fisik. Sebelum menggeluti dunia gymnastic, Arfi sempat ikut berenang.

Namun, aktivitas ini ternyata tak mengubah kebiasaan tidurnya yang tak beraturan, Bunda. Sang ayah pun akhirnya mengajak Ghifari untuk ikut kelas percobaan gymnastic saat berusia empat tahun.

“Saya lihat di media sosial teman saya, punya anak ikut gymnastic. Lalu saya tanya, di mana latihannya? katanya ada di Senayan dan saya bisa datang ke sana sama anak untuk ikut trial,” ujar Arfi.

Selama mengikuti trial, Ghifari tampak bersemangat. Ia terlihat penasaran dan mengikuti beberapa gerakan senam.

Seluruh energi Ghifari terbuang selama awal latihan itu, Bunda. Alhasil, dia pun bisa langsung tidur ketika selesai latihan trial.

“Habis trial, masuk mobil baru jalan keluar dari Senayan, dia sudah tidur. Sampai rumah, dia bangun untuk mandi, kemudian dia tidur lagi bablas sampai pagi. Saya pikir, ‘Wah, ini bagus, dia bisa tidur sampai pagi’. Jadi, gitu saja sih sederhana alasannya. Akhirnya, keterusan sampai sekarang di gymnastic,” ungkap Arfi.

Menurut sang ayah, Ghifari memang menyukai aktivitas gymnastic sejak pertama kali ikut uji coba. Meski tak memiliki bakat, Arfi percaya anaknya mampu menjalani olahraga ini dengan kerja keras dan latihan.

Benar saja, Bunda. Selama tujuh tahun menggeluti olahraga ini, Ghifari mendapatkan banyak manfaat. Selain tumbuh menjadi sosok pekerja keras, anak semata wayang Arfi Bambani ini belajar menghargai proses.

“Yang paling penting dari gymnastic ini, dia belajar menghargai proses, bekerja keras, dan berani tampil karena sering tanding. Kita enggak pernah menuntut dia harus bisa salto dan dapat medali. Selama dia menyukai, gembira, dan sungguh-sungguh, effort-nya akan terbayar,” kata Arfi.

Berprestasi secara akademis

Manfaat luar biasa dari gymnastic juga berdampak pada prestasi akademis Ghifari, Bunda. Ia sering mendapatkan rangking tiga besar di sekolah lho.

Menurut sang ayah, Ghifari adalah anak yang tekun dan disiplin dalam belajar. Kedua sikap ini didapatkanya dari latihan menjadi atlet gymnastic selama bertahun-tahun.

“Dia beberapa semester itu dapat ranking, kalau enggak ranking 1, 2, atau 3. Secara akademis bagus karena dia biasa disiplin dan ketika melakukan sesuatu, dia itu juga tekun,” ujar Arfi.

Meski masih berusia 11 tahun, Ghifari sudah mampu membagi waktu antara belajar, bermain, dan berlatih. Setelah pulang sekolah, dia akan langsung latihan selama tiga jam. Latihan dilakukan 4 sampai 5 kali seminggu dan di hari Sabtu, dia akan berlatih dua kali sehari.

Seperti anak-anak lainnya, Ghifari pun terkadang sering mengeluh karena aktivitas berlatih gymnastic. Ia pernah menangis karena kesulitan melakukan gerakan baru atau tidak mendapatkan medali di kejuaraan, Bunda.

“Pasti ada mengeluh, kadang menangis kalau ketemu pelatih yang dia bete, atau ada gerakan baru yang kesulitan. Kadang pernah nangis enggak dapat medali, padahal kita tidak menuntut,” kata sang ayah.

Prestasi Ghifari selama menekuni gymnastic

Sejak terjun menjadi atlet gymnastic, Ghifari telah menorehkan prestasi yang membanggakan nih, Bunda. Pada Maret 2021, Ghifari berhasil menorehkan prestasi saat menetap sementara di Singapura.

Ia mendapatkan medali emas di kategori rings untuk level 2 putra usia 7-11 tahun dalam Singapore National Gymnastics Championship. Klub tempat Ghifari berlatih pun mendapatkan juara umum.

Selama di Jakarta dan sebelum pandemi, Ghifari sudah mengikuti banyak lomba gymnastic di Tanah Air. Ia bahkan sudah bertanding saat usia 5 tahun.

“Sebelum Covid itu setiap tahun ada beberapa lomba, seperti Jakarta Open, yang diadakan klub, atau Persani (Persatuan Senam Indonesia). Kita menyimpan beberapa sertifikat dan medali. Dia dari usia 5 tahun sudah ikut tanding,” kata Arfi.

Saat ini, Ghifari masuk dalam atlet binaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di program Pembinaan Olahraga Prestasi Berkelanjutan (POPB). Ia menjadi salah satu atlet muda yang disiapkan untuk bertanding di Olimpiade 2032, Bunda.

Gaya Parenting orang tua Ghifari

Arfi tak punya trik khusus dalam mendidik buah hatinya menjadi atlet berprestasi. Ayah satu anak ini hanya berpesan pada putranya agar selalu bekerja keras dan melakukan terbaik sesuai kemampuan.

“Kita enggak pernah memaksa anak untuk menjadi juara. Kita selalu mengajarkan, ketika kamu melakukan sesuatu, lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Kalau kamu berlatih, maka berlatihlah sebaik mungkin. Lebih baik kamu jatuh bangun, daripada ketika lomba malah kacau. Itu pernah dia alami, waktu latihan malas-malasan, pas tanding hancur banget. Jadi, dia ngerasain kalau latihan harus maksimal.”

Selain sang ayah, ibu Ghifari juga merupakan sosok yang membuat anaknya itu berprestasi. Sang ibunda dikenal cukup ‘strict’ dan memiliki gaya parenting khusus untuk putranya.

“Istri saya menyebut ‘body memory’. Jadi, tubuh ini punya memori. Ketika kita biasa melakukan dengan benar, gerakan itu bisa dilakukan dengan benar saat tanding. Kalau di senam itu, ketepatan gerakan jadi poin besar ya, termasuk postur berdiri itu dinilai,” ujar Arfi.

Gaya parenting lain yang diterapkan adalah hidup tanpa gagdet. Sejak kecil, Ghifari sudah dibiasakan orang tuanya untuk tidak menggunakan gagdet, kecuali untuk keperluan belajar.

Orang tua Ghifari ingin anaknya tidak terkena pengaruh buruk gagdet yang bisa mengganggu emosional dan kesehatan mental, Bunda. Cara ini cukup efektif membuat Ghifari fokus pada aktivitasnya di sekolah dan bidang olahraga. (Uli)