Alasan Mengapa Semua Mamalia Buang Tinja Selama 12 Detik

liputan6com/indolinear.com
Selasa, 21 November 2017
loading...

Indolinear.com, Atlanta – Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa semua mamalia, tak terkecuali manusia, memiliki rata-rata waktu yang sama saat buang air besar.

Dalam penelitan hidrodinamika pembuangan tinja, seluruh mamalia memerlukan 12 detik untuk buang air besar, tidak bergantung kepada ukuran tubuhnya.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Soft Matter dijelaskan bahwa materi lembut yang keluar dari liang dubur gajah, panda, babi hutan, dan anjing meluncur keluar dari usus besar pada lapisan lendir agar waktu pembuangan tinja sesingkat mungkin.

Patricia Yang, seorang insinyur mesin di Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat, mengatakan, “bau tinja menarik pemangsa, sehingga berbahaya bagi hewan-hewan. Jika mereka terlalu lama melakukannya, mereka terpapar dan berisiko ketahuan.”

Seperti dikutip dari Liputan6.com (20/11/2017).  Yang dan rekan-rekannya merekam beberapa gajah, panda, dan babi hutan di kebun binatang setempat. Satu orang lagi merekam anjing-anjing di sebuah taman.

Walaupun massa hewan-hewan itu berkisar antara 4 dan 4000 kilogram, lama waktu pembuangan tinja tetap sama.

Konsistensi di antara beragam hewan mamalia juga tampak dalam beberapa hal lain. Pertama, panjang potongan-potongan tinja sekitar 5 kali diameter liang dubur masing-masing binatang.

Yang juga menemukan bahwa daya tekan normal untuk mendorong tinja itu konstan, tidak bergantung kepada ukuran hewan. Artinya, entah tikus atau manusia, tekanan yang dipakai untuk pembuangan feses secara normal sama saja.

Temuan itu serupa dengan temuan sebelumnya bahwa mamalia memerlukan waktu yang kira-kira sama untuk mengosongkan kemih mereka.

Demikian juga dengan lapisan lendir pada usus besar, yang ternyata memainkan peran penting pada durasi pengeluarannya. Mahluk-mahluk dengan tinja berbentuk silindris, termasuk manusia, tidak menekan materi tinja melalui corong seperti tabung pasta gigi, tapi, menurut Yang, “Lebih seperti sumbat yang melewati corong.”

Yang menjelaskan bahwa hewan-hewan berukuran lebih besar memiliki lendir usus besar yang lebih banyak untuk mempercepat proses.

Konstipasi terjadi ketika lendir itu diserap oleh tinja. Tanpa adanya lapisan licin tersebut, manusia yang tidak mengejan memerlukan sekitar 500 hari untuk mengosongkan liang duburnya.

Menurut Yang lagi, “Hal itu bisa dipersingkat menjadi 6 jam jika orang menerapkan tekanan maksimum, tapi masih perlu memeriksakan diri ke dokter.”

Semua hewan menghasilkan rata-rata dua potong tinja. Hewan yang lebih besar memiliki feses yang lebih panjang, demikian juga dengan usus besarnya. Tapi mereka memiliki lendir yang lebih tebal agar kotoran itu bergerak lebih cepat dan memerlukan waktu luncur yang sama dengan hewan lain.

Mengambang atau Tenggelam?

Tim di bawah pimpinan Yang juga menggunakan video-video hewan sedang menbuang tinja yang ada di YouTube untuk mengukur waktu rata-rata pembuangan feses oleh 23 spesies berbeda.

“Cukup mengejutkan ada banyak video pembuangan tinja di dunia maya. Kebanyakan berasal dari kebun-kebun binatang berdasarkan rekaman-rekaman turis dan kemudian diunggah,” kata Yang.

Mereka mengumpulkan contoh tinja dari 34 spesies dan mendapati bahwa jenis makanan berdampak kepada kepadatan materi feses.

Feses yang mengambang lebih ringan dari air dan dihasilkan oleh panda dan herbivora lain seperti gajah dan kangguru. Hewan-hewan itu menyantap makanan bergizi rendah namun kaya serat sehingga mengeluarkannya dalam bentuk yang sebagian besar belum dicerna.

Tinja yang tenggelam dihasilkan oleh karnivora seperti beruang, macan, dan singa. Mereka menyantap zat makanan yang lebih berat dan tak tercerna, termasuk bulu dan tulang.

Menggunakan perangkat rheometer, yaitu alat yang mengukur cara cairan mengalir di bawah tekanan, Yang mendapati bahwa tinja memiliki hambatan lebih sedikit kalau dipejalkan secara lebih cepat. Itulah sebabnya kotoran anjing terasa licin ketika terinjak seseorang.

Berdasarkan pada hewan-hewan di Kebun Binatang Atlanta, para peneliti mendapati bahwa hewan-hewan memasok pangan seberat kira-kira 8 persen massa tubuh dan membuang 1 persen massa tubuh dalam bentuk tinja.

Pengamatan itu diterapkan pada model matematika untuk memprediksi waktu pembuangan tinja dalam beberapa persoalan sistem pencernaan. Katanya, “Kalau lebih lama dari 12 detik, maka periksakan diri. Tapi jangan menghitung waktu membaca koran.” (Uli)