Alasan Mengapa Sebelum Hujan Kita Merasa Gerah

Selasa, 16 Februari 2016
loading...

Indolinear.com – Saat ini Indonesia tengah mengalami musim hujan, hampir setiap hari guyuran air terus tercurah dari langit. Dan sesaat sebelum hujan, pasti cuaca akan terasa gerah dan panas. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal matahari sedang tertutup mendung.

Mendung itu panas

Dari mana asalnya hujan? Tentu mendung. Bila kita telusuri prosesnya, mendung atau awan itu sejatinya adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari pada laut, sungai, danau, dan tempat berkumpulnya air lain. Mirip seperti kepulan asap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.

Singkatnya, udara panas membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Nah, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, akhirnya bertemulah dia dengan udara dingin.

Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya. Dan panas itu yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu lah hujan akan turun. Ingat, hujan pada dasarnya adalah uap air yang mengembun!

Selain pelepasan panas dari mendung, gerah sebelum hujan juga disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Ya, sebelum hujan uap air akan memenuhi udara di sekitar kita.

Ketika udara sudah sangat penuh dengan uap air, maka tidak ada lagi ruang bagi keringat (yang sudah keluar karena panas dari mendung) untuk menguap. Hal ini mirip seperti saat Anda ditolak masuk ke angkot yang sudah penuh.

Karena keringat tidak bisa menguap, otomatis suhu tubuh akan terus panas. Karena, jika Anda masih ingat pelajaran IPA di SMP, penguapan keringat bisa mendinginkan tubuh kita.

Ada satu lagi teori yang diduga ikut berpengaruh terhadap panas sebelum hujan, yakni efek rumah kaca. Ya, saat mendung menutupi langit, secara otomatis panas matahari tidak bisa terpantulkan lagi dan terjebak di Bumi.

Teori ini dikuatkan oleh komposisi awan yang ternyata sebagian besar terdiri dari udara biasa yang tentu mengandung banyak gas polusi seperti karbondioksida atau gas rumah kaca lain yang bisa menjebak panas matahari. Oleh karena itu, di kawasan perkotaan yang lebih tinggi polusi udaranya, biasanya gerah sebelum hujan bisa sangat parah. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com

loading...