Akui Dapat Pengalaman Berharga, WNI Di Italia: Patuhi Arahan Pemerintah

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 31 Maret 2020

Indolinear.com, Jakarta – Haidir Ali Murtadlo, warga negara Indonesia (WNI) yang sedang menempuh studi di Kota Milan, Italia, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama pandemi virus corona baru atau Covid-19 melanda dunia.

Pria kelahiran Jombang,Jawa Timur, itu mengatakan, penyebaran virus corona baru tak bisa dianggap remeh.

Masyarakat harus waspada. Tapi, tak perlu panik berlebihan.

“Buat yang lagi di Indonesia, sebisa mungkin patuhi arahan pemerintah, dilansir dari Tribunnews.com (30/03/2020)

Bersikap seperti biasa, tapi waspada,” kata Haidir saat diwawancarai Kompas.com melalui aplikasi pesan instan Facebook, Minggu (29/3/2020).

Haidir berada di Italia sejak September 2018. Ia menetap di Kota Milan karena menempuh studi master jurusan mechanical engineering, di Politecnico di Milano.

Menurutnya, kegiatan belajar mengajar di kampusnya dihentikan sejak akhir Februari 2020. Aktivitas itu diganti dengan kuliah daring.

“Kemudian pada awal Maret, keluar imbauan agar masyarakat stay di rumah dan semua pekerjaan diliburkan. Kecuali untuk pelayanan publik,” ujar Haidir.

Haidir mengatakan, tingginya kasus positif Covid-19 di Italia karena masyarakat tak mendengarkan arahan pemerintah.

Meski diimbau tetap tinggal di rumah, masyarakat masih menjalankan aktivitas seperti biasa, lalu lalang di pusat kota.

Pemerintah Italia yang geram dengan sikap masyarakat itu akhirnya mengeluarkan kebijakan ketat untuk membatasi hilir mudik warga.

“Mulai pertengahan Maret, semakin ketat dengan diterapkan hukuman bagi yang keluar rumah tanpa alasan yang urgent,” ungkap putra kedua dari pegawai KUA di Kabupaten Jombang ini.

Merujuk data, Coronavirus Covid-19 Global Cases by the CSSE at Johns Hopkins University, tercatat ada 662.073 kasus hingga Minggu (29/3/2020) pagi.

Adapun di Italia, jumlah kasus postif corona mencapai 92.472 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 10.023 orang meninggal, sedangkan yang sembuh sebanyak 12.384.

Kebijakan Lockdown

Haidir Ali Murtadlo mengungkapkan, sejak diberlakukan pembatasan yang ketat dari pemerintah Italia disertai dengan pemberian sanksi bagi yang keluar rumah tanpa izin, jalanan dan pusat keramaian di Kota Milan menjadi sepi.

Warga Italia dan pendatang di Kota Milan, mulai tinggal di rumah atau apartemen masing-masing.

Selama pemberlakuan lockdown, kata Haidir, warga masih diizinkan membeli bahan makanan.

“Untuk kebutuhan logistik bisa dibeli di supermarket, karena supermarket masih buka dan suplai logistik masih normal sejauh ini,” ujar Haidir.

Di Kota Milan, Haidir tinggal di apartemen milik WNI yang telah menetap di Italia.

Ia mengungkapkan, kebijakan lockdown memberi dampak signifikan bagi semua warga yang tinggal di Italia.

Namun, menurut Haidir, kebijakan lockdown yang dikeluarkan oleh pemerintah Italia, diimbangi dengan pemberian insentif kepada seluruh warga yang terpaksa ‘dirumahkan’ sementara.

Para pegawai pemerintah, ungkap dia, tetap menerima gaji seperti biasanya.

Sedangkan yang bekerja di sektor swasta, penghasilannya diganti oleh pemerintah Italia.

“Demikian pula dengan pemilik toko, kafe maupun sejenisnya.

Mereka menerima insentif dari pemerintah karena usaha mereka tidak boleh berjalan, selama lockdown,” ungkap Haidir.

Insentif untuk warga yang tidak bekerja tersebut, ungkap Haidir, diambil pemerintah Italia dari pajak penghasilan dan dana pensiun.

“Itu diambil dari retribusi pajak dan dana pensiun, karena semua profesi dikenakan pajak,” ujar dia.

Saling Mengingatkan

Pemberlakuan lockdown di Kota Milan, membuat hubungan antarmasyarakat semakin akrab.

Masyarakat memiliki banyak waktu berkumpul dengan keluarga atau sekadar tegur sapa dengan tetangga di apartemennya.

“Sebenarnya sih berat untuk menjalani karantina ini.

Tetapi ya itu tadi, ada sisi positifnya karena jadi lebih banyak waktu untuk kumpul di apartemen,” ujar dia.

Solidaritas antarpenghuni apartemen juga semakin kuat.

“Yang positif lagi, hubungan kita dengan tetangga jadi makin akrab.

Saling sapa lewat balkon masing-masing jadi lebih sering, sehingga kita makin saling mengenal.

Di sini juga saling mengingatkan, saling menguatkan agar mampu menghadapi kondisi seperti ini,” ungkap dia.

Haidir mengaku tak tahu persis jumlah WNI di Italia saat ini. Namun, menurutnya belum ada WNI yang positif Covid-19 di Italia.

“WNI di Italia belum ada informasi terkena corona. Alhamdulillah, aman,” tutur dia.

Pada percakapan akhir, Haidir kembali mengingatkan pentingnya masyarakat di Indonesia untuk disiplin melakukan social distancing dan physical distancing.

Menurutnya, masyarakat di Tanah Air harus menjadikan kejadian di Italia sebagai pelajaran melawan pandemi Covid-19.

“Pesan kami buat yang di Indonesia, jangan abaikan anjuran pemerintah. Tetap waspada tetapi jangan panik,” kata Haidir. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

INDOLINEAR.TV