Aksi Bunuh Diri Kaisar Romawi Nero, Manusia Paling Kejam Di Bumi

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 6 Oktober 2019

Indolinear.com, Jakarta – Kaisar Romawi Nero selamanya akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu manusia paling kejam di muka Bumi. Ia membunuh dua istrinya, bahkan ibu kandungnya, Agrippina the Younger, yang mengantarnya menuju takhta.

Penguasa bernama asli Lucius Domitius Ahenobarbus itu juga dikenal gemar pesta pora, tega membunuh demi melanggengkan kekuasaan, menikahi seorang pemuda, dan punya hasrat pada musik — yang memicu desas-desus bahwa ia memetik kecapinya dan bersorak saat Kota Roma dilanda kebakaran besar pada tahun 64 Masehi.

Rumor beredar bahwa sang kaisar menyulut api untuk membersihkan lahan, demi pembangunan kompleks istana yang baru di Bukit Palatine.

Pada akhirnya, karena khawatir dengan reaksi rakyatnya, Nero pun mencari kambing hitam atas kejadian tersebut: umat Kristiani. Ribuan orang yang tidak bersalah diseret ke arena dan disiksa dengan cara yang sadis dan tak manusiawi.

Namun, sekuat apapapun, kekuasaan manusia ada batasnya. Pada tahun 68 Masehi, kekuatannya redup.

Ia menghadapi masalah keuangan. Pembangunan kembali Roma dan pendirian ‘istana emas’ atau Domus Aurea memaksanya menaikkan pajak dan menyita benda-benda berharga milik rakyat. Di tengah kompleks istana, memerintahkan pembangunan patung dirinya dari bahan perunggu setinggi 100 kaki, Colossus Neronis.

Nero juga mendevaluasi mata uang kekaisaran, menurunkan kandungan perak dari koin denarius sebesar 10 persen.

Kekuasaannya kian digoyang oleh pemberontakan di Inggris dan Yudea, konflik dengan Parthia. Popularitas Nero pun menurun tajam.

Pada tahun 65 konspirasi tingkat tinggi untuk membunuh sang kaisar muncul. Nero pun memerintahkan agar seorang pejabat berpangkat prefek, beberapa senator dan perwira. Penasihatnya, Seneca yang terjebak dalam kasus perselingkuhan dipaksa melakukan bunuh diri.

Saat Romawi dalam kondisi berantakan, Nero justru menjalankan tur panjang ke Yunani. Di sana ia menghibur diri dengan menyaksikan pertunjukan musik dan teater, mengendarai kereta dalam pertandingan Olimpiade, mengumumkan reformasi politik pro-Hellenis, dan meluncurkan proyek yang mahal serta sia-sia: penggalian sebuah kanal di seberang Tanah Genting Korintus.

Sekembalinya ke Roma pada tahun 68, Nero gagal merespons pemberontakan di Gaul, yang mendorong kerusuhan lebih lanjut di Afrika dan di Spanyol.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (04/10/2019), terlebih lagi, Gubernur Galba menyatakan dirinya sebagai utusan Senat dan orang-orang Romawi. Tak lama kemudian, ia menyatakan Nero sebagai musuh rakyat.

Nero tahu benar, rakyatnya ingin dia mati. Dan, ketika para politikus menginginkan hal yang sama, ia merasa kematiannya hanya soal waktu.

Nero sudah berencana melarikan diri dari Roma. Namun, orang-orang Pretorian menolak membantunya dan para pelayannya memilih hengkang.

Saat menerima laporan bahwa tentara Romawi kian mendekat untuk menangkapnya, Nero putus asa. Ia memerintahkan salah satu abdinya untuk menusukkan belati ke lehernya. Sang kaisar tak sudi dihukum cambuk hingga mati di depan ribuan orang yang bersorak-sorai menontonnya.

Sebelum nyawanya tamat, ia sempat mengeluarkan kata-kata terakhirnya, “Qualis artifex pereo” — seorang seniman besar mati bersamaku.”

Kematian Nero mengakhiri pemerintahan Dinasti Julio-Claudian, yang telah memerintah Roma sejak 27 SM. Setelah itu Romawi memasuki “Tahun Empat Kaisar” yang kacau. Bahkan, sejarawan Romawi Tacitus menggambarkannya sebagai “periode yang kaya akan bencana … bahkan dalam damai penuh dengan kengerian.”

Sementara banyak orang merayakan kematian Nero, lainnya memilih bernostalgia pada kemegahan dan keagungan pemerintahannya.

Bertakhta pada Usia 17 Tahun

Nero mewarisi takhta dari paman buyutnya, Kaisar Claudius. Ayahnya, Gnaeus Domitius Ahenobarbus, meninggal dunia saat usia putranya baru berusia dua tahun.

Sang ibu, yang menikahi Claudius menjadi otak di balik penobatan Nero. Dalam lima tahun pertamanya sebagai kaisar, Nero punya reputasi baik karena kedermawanan politiknya.

Ia mendorong pembagian kekuasaan dengan Senat dan mengakhiri persidangan politik tertutup, meskipun ia pada dasarnya mengejar hasratnya sendiri dan menyerahkan pemerintahan kepada tiga penasehat utamanya — Seneca, Burrus, dan Agrippina.

Akhirnya Seneca mendorong Nero untuk keluar dari bayang-bayang ibunya yang mendominasi. Agrippina pun berbalik melawannya, dan mendorong anak tirinya, Britannicus sebagai pewaris tahkta.

Namun, Brittanicus meninggal dalam kondisi mencurigakan. Pada 59 Masehi, setelah sebuah rencana yang gagal untuk menenggelamkannya dalam perahu, Nero memerintahkan Agrippina ditikam hingga tewas di vilanya.

Ratu Octavia diasingkan dan dieksekusi, dan pada 62 Nero menikahi kekasihnya, Poppaea, kemudian, dalam apa yang dijelaskan oleh sejarawan Romawi Tacitus sebagai “ledakan kemarahan”, Nero membunuh Poppea dengan satu tendangan ke perutnya. (Uli)