Akhir Bahagia Bocah Berpakaian Kotor Dapat Belajar Di SD Margabakti

FOTO: detik.com/indolinear.com
Jumat, 28 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Kuningan – Jodi, warga Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, bersemangat menyongsong pagi. Tepatnya, setelah bocah lelaki usia tujuh tahun tersebut terdaftar sebagai peserta didik baru di SD Negeri Margabakti.

Jodi merupakan anak yatim yang tinggal bersama kakek dan neneknya, Rakum (62) dan Sati (60), di Dusun Pahing Desa Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kuningan. Rumah Rakum berada di perbukitan, jaraknya sekitar satu kilometer dari SDN Margabakti.

Kondisinya rumahnya tidak layak huni. Bahkan tak ada kamar mandi. Penerangan rumahnya pun dibantu oleh tetangganya.

Rakum dan Sati tak memiliki pekerjaan tetap. Mereka bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Keluarga tersebut tak pernah mengenyam pendidikan sampai tuntas di sekolah dasar atau putus sekolah. Faktor ekonomi menjadi penyebabnya.

Pihak SD Negeri Margabakti merasa iba dengan kondisi Jodi. Sebelum terdaftar sebagai peserta didik baru, Jodi kerap bermain di sekolah tersebut. Jodi menjadi pembeda, bocah berpakaian seadanya tanpa alas kaki di tengah teman-temannya yang berseragam sekolah.

Hingga akhirnya pihak sekolah berinisiatif mengajak Jodi bersekolah. Ia langsung mengangguk saat mendapat ajakan untuk mengenyam pendidikan sekolah dasar dari Kepala SD Negeri Margabakti Edi Junaedi, dilansir dari Detik.com (26/08/2020).

Kisah Jodi Viral di Media Sosial

Kisah Jodi, bocah berpakaian kotor tanpa alas kaki yang bersemangat untuk bersekolah ini, viral setelah Atu Rohayatun, salah seorang guru di sekolah tersebut, membagikan kisah Jodi di akun Instagram @rohayatun7. Postingan Atun itu dikomentari ratusan warganet.

Rakum bersyukur cucu kesayangannya itu bisa bersekolah. Ia berharap Jodi bisa terus melanjutkan pendidikannya, agar nasibnya tak sama seperti kakaknya Mulya (14) yang tak tamat sekolah dasar.

Ia membenarkan cerita Jodi yang kerap bermain di sekolah. “Iya suka main ke sekolah, terus (setelah dari sekolah) main lagi. Sekarang sudah sekolah, sudah delapan hari. Ya senang,” ucapnya.

Rakum berharap Jodi bisa menjadi orang yang sukses. Ia menginginkan agar Jodi bisa bersekolah hingga penididikan yang tinggi. “Harapannya jadi orang yang berguna untuk agama dan negara,” kata Rakum.

Kebaikan SD Margabakti

Kepala SD Negeri Margabakti Edi Junaedi menceritakan tentang Jodi yang langsung mengangguk saat dibujuk untuk bersekolah. Saat itu, Jodi tengah memungut cengkeh yang berada di halaman sekolah. Edi menaruh harapan terhadap Jodi agar terus memiliki semangat belajar.

“Usianya cukup untuk bersekolah. Awalnya pas waktu PPDB saya tunggu orang tuanya, tapi tidak datang-datang. Pas minggu pertama masuk sekolah, Jodi ini gak main-main ke sekolah, tumben. Nah, minggu ke dua anaknya ada sedang mengambil cengkeh di sekolah. Saya hampiri, saya ajak sekolah. Dia langsung mengangguk,” tutur Edi.

Edi langsung merespons anggukan Jodi. Ia mengambil patahan ranting pohon cengkeh untuk mengukur kaki Jodi. Karena pihak sekolah menyiapkan seragam sekolah lengkap dengan sepatunya untuk Jodi.

“Saya langsung panggil ibu guru, kemudian ukur seragam dan belikan seragam untuk Jodi,” ucapnya.

Menurut Edi, selama ini Jodi sering bermain dengan siswa-siswi SD Negeri Margabakti sebelum terdaftar sebagai peserta didik. Bahkan, Edi kerap memperhatikan Jodi saat memungut cengkeh di halaman sekolah.

“Dia kumpulkan cengkeh yang di taruh di gelas air mineral bekas. Sekarang kita bantu untuk uang jajannya, kita anggarkan Rp 5 ribu per hari. Tujuannya untuk merangsang semangat belajarnya biar nambah,” tutur Edi.

Sementara itu, Atun Rohayatun, yang sempat membagikan kisah bocah tersebut, mengaku kaget saat menghantar pulang Jodi usai hari pertama sekolah. Jarak serta medan tempuh yang begitu jauh membuat Atun geleng-geleng kepala.

Namun Atun mengaku salut dengan semangat Jodi untuk sekolah. “Anaknya nurut. Saya mandikan di sekolah, karena di rumahnya tak ada kamar mandi,” kata Atun. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: