Ada Strawberry Supermoon, Kenali Apa Mitos-mitos Bulan Purnama

FOTO: detk.com/indolinear.com
Rabu, 15 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Bulan Purnama Stroberi (Strawberry Supermoon) menyambangi langit pada 14 Juni sore setelah Matahari terbenam nanti. Kenali mitos-mitos terkait Bulan purnama supaya kalian nggak salah sangka.

Bulan Purnama Stroberi sebenarnya adalah peristiwa purnama umum. Penamaan Stroberi yang demikian, berasal dari kalender petani di Amerika, The Farmer’s Almanac, di mana buah stroberi dipanen setiap bulan Juni. Penamaan ini semata-mata untuk menandai musim yang timbul pada musim-musim tertentu bagi penduduk asli Amerika.

“Purnama Stroberi adalah Bulan purnama yang biasa terjadi di bulan Juni. Tak seperti namanya, bukan berarti Bulan saat Purnama Stroberi warnanya merah dan agak lancip di ujungnya seperti stroberi. Tidak seperti itu,” kata peneliti antariksa BRIN Andi Pangerang seperti dikutip dari laman Edukasi Sains dan Antariksa BRIN.

Orang-orang Barat zaman dulu, menganggap kemunculan Bulan purnama berkaitan dengan mitos, hal-hal berbau mistis, dan sosok manusia serigala jadi-jadian alias werewolf.

Dikutip dari Detik.com (14/06/2022) ilmuwan di berbagai belahan dunia pun banyak yang mencoba mengungkap mitos yang berkaitan dengan Bulan purnama. Hasilnya, beberapa hal berbau tahayul tentang Bulan purnama berhasil terpatahkan.

  1. Kesurupan setan yang memicu kejang-kejang

Orang-orang Eropa zaman dulu kerap menghubungkan kejang-kejang yang terjadi secara tiba-tiba saat Bulan purnama sebagai bentuk serangan kesurupan setan.

Namun penelitian di jurnal Epilepsy & Behavior di tahun 2004 menyatakan, kejang-kejang adalah tanda dari penyakit epilepsi. Lebih lanjut, penelitian itu juga tidak menemukan hubungan antara epilepsi dengan Bulan purnama, meskipun tidak sedikit pasien yang menyatakan serangan epilepsi terjadi saat Bulan penuh muncul.

  1. Membuat hewan jatuh sakit

Berdasarkan penelitian University of Colorado, jumlah pasien rumah sakit hewan dilaporkan meningkat sekitar malam Bulan purnama. Peningkatannya terjadi sebanyak 23% untuk kucing dan 28% untuk anjing.

Namun ilmuwan University of Colorado mengatakan ini bukan indikasi hewan lebih mudah sakit saat Bulan purnama. Peningkatan jumlah hewan yang terluka atau sakit saat Bulan purnama disebutkan terjadi akibat kesalahan si majikan. Saat Bulan bersinar terang, diketahui banyak pemilik hewan membawa piaraan mereka keluar rumah untuk jalan-jalan. Hal itulah yang meningkatkan risiko kecelakaan dan sakit pada hewan.

  1. Anjing menjadi galak

Berdasarkan data England Journal of Medicine pada tahun 2001, diketahui jumlah gigitan hewan pada dokter akan meningkat pesat saat Bulan purnama, bahkan disebut kenaikannya hingga dua kali lipat.

Namun hal itu dibantah oleh penelitian dari Australia. Dari penelitian itu, disimpulkan bahwa jika angka gigitan hewan, terutama anjing relatif sama di setiap malam, meskipun saat Bulan purnama sekalipun.

  1. Bikin manusia jadi gila

Salah satu mitos seputar Bulan purnama yang paling banyak dipercaya orang adalah peningkatan jumlah orang gila dan kunjungan rumah sakit di malam tersebut.

Namun lagi-lagi, hal itu terbantahkan karena berdasarkan hasil dua penelitian di jurnal Psychiatric Services (2005) dan American Journal of Emergency Medicine (1996), tidak ada perbedaan antara jumlah kunjungan pasien di rumah sakit dan psikiater pada malam biasa dan saat Bulan purnama.

Nah, sekarang kalian tahu ya kalau semua mitos itu terbukti secara ilmiah tidak benar. (Uli)

loading...