75 Tahun DPR RI, Tantangan Untuk Memangkas Ruang Berjarak

FOTO: kompas.id/indolinear.com
Senin, 31 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Memasuki usia yang ke-75 tahun, DPR RI dihadapkan oleh tantangan untuk meningkatkan kepercayaan publik. Ruang senggang yang tercipta dengan masyarakat perlu dipangkas guna mendekatkan telinga parlemen dengan riak suara publik.

Masih terciptanya ruang senggang antara parlemen dan publik terekam dalam jajak pendapat Litbang Kompas pada 24-25 Agustus 2020. Publik merasa DPR RI masih berjarak dengan konstituen dan belum sepenuhnya menjadi lembaga yang mewakili suara rakyat.

Ruang berjarak itu dapat diukur dari dua hal. Pertama adalah frekuensi pertemuan antara anggota DPR dan konstituen di masing-masing daerah. Dalam Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD disebutkan, anggota DPR berkewajiban untuk menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. Kunjungan ini dilakukan ketika reses dan hasil pertemuan dengan konstituen dilaporkan secara tertulis kepada partai politik melalui fraksi di DPR.

Namun, sebanyak 68 persen responden mengaku daerah mereka belum pernah dikunjungi oleh anggota DPR dalam satu tahun terakhir. Hal ini diungkapkan oleh responden dari segala kalangan, baik dari pekerja formal, informal, maupun generasi dari berbagai kelompok usia, dilansir dari Kompas.id (30/08/2020).

Banyaknya responden yang belum dikunjungi oleh anggota DPR dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah minimnya informasi kunjungan anggota DPR ke berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, kunjungan yang terpusat pada beberapa lokasi khusus juga berdampak pada belum tersentuhnya beberapa lapisan masyarakat secara langsung.

Selain frekuensi pertemuan, ruang berjarak antara parlemen dan masyarakat juga tecermin dari penilaian tentang keterwakilan di parlemen. Sebanyak 70,3 persen responden menilai bahwa aspirasi yang dimiliki belum terwakili oleh anggota DPR yang berasal dari masing-masing daerah pemilihan.

Hal ini menggambarkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup lebar sebagai pemisah antara masyarakat dan parlemen. Kondisi ini bermuara pada besarnya ketidakpuasan publik (68,2 persen) terhadap kinerja DPR. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: