6 Tahun Tragedi Nahas Pesawat Malaysia MH17 Dirudal di Ukraina

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 17 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Enam tahun lalu pada 17 Juli 2014, sebuah rudal buatan Rusia menembak Malaysia Airlines Flight 17 (MH17). Pesawat penumpang sipil dengan 298 orang di dalamnya, dari langit di atas Ukraina yang tengah berkecamuk perang.

Mengutip dari Liputan6.com (15/08/2020), pekan lalu pemerintah Belanda yang bertindak atas nama 193 warga Belanda dalam penerbangan itu, mengumumkan akan membawa Rusia ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Pengadilan pidana terhadap empat tersangka yang terlibat dalam pengangkutan sistem rudal yang menjatuhkan MH17 dimulai di Amsterdam pada bulan Maret.

Penghancuran MH17 pada 17 Juli 2014, memicu kemarahan dan tuduhan. Rusia – dan separatis Rusia di Ukraina – terus menolak tanggung jawab apa pun. Sementara jaksa penuntut Belanda menuduh Rusia merusak penyelidikan.

17 Juli 2014 menjadi hari nahas bagi pesawat Boeing 777 milik maskapai Malaysia Airlines (MAS) MH17 yang membawa 298 orang. Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan burung besi itu dilaporkan dihantam rudal dan celaka di Ukraina, dekat perbatasan Rusia.

Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan burung besi itu dilaporkan dihantam rudal dan celaka di Ukraina, dekat perbatasan Rusia.

Anton Gerashenko, penasehat itu, dalam laman Facebooknya mengatakan, pesawat nahas tersebut terbang di ketinggian 33.000 kaki saat dihantam rudal yang ditembakkan dari peluncuran di Buk.

Para penyelidik kecelakaan udara Belanda akhirnya merilis laporan awal mengenai tragedi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di wilayah Ukraina timur pada 17 Juli 2014. Apa saja yang diungkap?

Penerbangan MH17 jatuh di area Ukraina timur yang dikontrol separatis pro-Rusia. Seluruh penumpang dan awak, yang berjumlah 298 orang, tewas. Dua pertiganya adalah warga negara Belanda.

Pesawat jatuh di daerah konflik, terbengkalai tanpa penjagaan selama berhari-hari. Meski ada laporan harta benda milik korban dijarah, penyelidik Dewan Keselamatan Belanda (Dutch Safety Board) melaporkan bahwa mereka “tidak menemukan bukti atau indikasi manipulasi alat perekam yang ada dalam pesawat.”

Laporan menyebut tidak ada tanda-tanda peringatan audio, kerusakan pesawat atau malfungsi, juga ekspresi kekhawatiran dari awak pesawat yang terekam alat perekam data penerbangan. Tak ada situasi darurat yang terekam.

Boeing 777 itu, kata penyelidik, “hancur di udara kemungkinan akibat dari kerusakan struktur yang disebabkan sejumlah objek berenergi tinggi yang menembus pesawat dari luar,” kata siaran pers yang menyertai laporan itu.

Benda-benda yang tak diketahui tersebut menusuk dan membentur pesawat dengan kecepatan tinggi. Konsisten dengan anggapan yang menyebut bahwa pesawat disambar pecahan selongsong rudal.

3 Bayi Jadi Korban

Pesawat MH17 terbang dengan 298 penumpang dan awak saat jatuh di Ukraina pada Juli 2014 dalam penerbangan dari Amsterdam, Belanda menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Awalnya terjadi ledakan di langit Ukraina Timur, tepatnya di antara kawasan Krasni Luch, Luhansk dan Shakhtarsk, dekat Donetsk. Asap hitam pekat pun membumbung di udara, ketika potongan-potongan logam bertebaran di sekitarnya.

Sebagian besar korban adalah warga negara Belanda.

Pada hari nahas itu, 15 kru dan 283 penumpang, termasuk 3 bayi berada di dalamnya.

Kode Penerbangan MH17 Pensiun

Menyusul tragedi meledak dan jatuhnya MH17, pihak MAS akhirnya mengumumkan kode penerbangan MH17 ‘pensiun’. Dalam pernyataannya, disebutkan berlaku mulai Jumat 25 Juli 2014.

“Meski demikian, tak ada perubahan frekuensi penerbangan Malaysia Airlines,” demikian pernyataan pihak maskapai negeri jiran seperti Liputan6.com kutip dari MSN Malaysia edisi 21 Juli 2014. “Kami akan terus mengoperasikan layanan penerbangan harian antara Amsterdam, Belanda dan Kuala Lumpur, Malaysia.”

Kode pengganti MH17 adalah MH19. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: