6 Ribu Prajurit Spanyol Kalahkan 100 Ribu Prajurit Meksiko

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 20 Januari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Enam ribu prajurit Spanyol berhasil mengalahkan sekitar 100 ribu revolusioner Meksiko dalam  Pertempuran Jembatan Calderon pada 17 Januari 1811.

Pertempuran Jembatan Calderon adalah satu di antara pertempuran paling menentukan dalam Perang Kemerdekaan Meksiko.

Para revolusioner Meksiko yang dipimpin Ignacio Allende, Juan Aldama, dan lainnya bertempur melawan prajurit royalis Spanyol di tepi Sungai Calderon dekat Zapotlanejo, Jalisco, dilansir dari Tribunnews.com (18/01/2020).

Pihak royalis yang dipimpin Jenderal Felix Maria Calleja del Rey berhasil memenangkan Pertempuran Jembatan Calderon meski kalah jumlah.

Kakalahan di Pertempuran Jembatan Calderon menyebabkan tertundanya kemerdekaan Meksiko selama sepuluh tahun.

Latar belakang

Orang-orang Spanyol mulai menjelajahi Meksiko pada awal abad ke-15 karena dongeng-dongeng yang menyebutkan bahwa daerah itu mempunyai kekayaan yang sangat besar.

Seorang Spanyol bernama Hernan Cortez kemudian berhasil menaklukkan Kekaisaran Aztec di Meksiko pada 1521.

Para penakluk Spanyol memperluas kekuasaannya sampai ke Guatemala dan Honduras dengan menaklukkan suku-suku pribumi.

Meksiko kemudian dimasukkan ke wilayah administrasi Spanyol Baru, dipimpin seorang viceroy yang ditunjuk raja.

Setelah itu, banyak orang Spanyol memutuskan bermigrasi ke Meksiko.

Pemerintahan di Spanyol Baru mengalami perubahan besar ketika terjadi Perang Suksesi Spanyol (1701-1713).

Wangsa Bourbon dari Prancis menggantikan kekuasaan Wangsa Habsburg di Spanyol dan mengenalkan berbagai ide dan praktik Prancis pada administrasi Spanyol yang berada di luar Eropa.

Pada paruh abad ke-18, Meksiko mulai terpengaruh liberalisme politik yang mempertanyakan  kekuasaan raja yang berdasarkan wahyu ilahi.

Kekacauan akibat Perang Napoleon di Eropa memicu keinginan koloni Spanyol di Meksiko untuk memerdekakan diri.

Napoleon menduduki Spanyol pada 1808, memenjarakan Raja Spanyol Ferdinand VII, dan menempatkan Joseph Bonaparte sebagai raja.

Meskipun, Ferdinand akhirnya mendapatkan kembali kekuasaanya, Spanyol kini terpecah secara politik.

Berbagai pemberontakan melawan pemerintah kolonial terjadi di koloni Spanyol di Benua Amerika.

Pada 16 September 1810, ada sebuah pemberontak yang dipimpin Miguel Hidalgo y Costilla, seorang pendeta.

Para pemberontak berusaha mengakhiri pemerintahan Spanyol  di Semenanjung Meksiko,  melakukan emanasipasi ras, dan meredistribusi tanah.

Pertempuran Jembatan Calderon

Para revolusioner sempat menunjukkan perlawanan kuat dalam pemberontakan yang dipimpin Miguel Hidalgo.

Pada 30 Oktober 1810, para pemberontak mendapat perlawanan dari para royalis dalam Pertempuran Monte de las Cruces.

Para pemberontak memenangkan pertempuran itu, tetapi mereka dikalahkan oleh tentara Spanyol bersenjata berat di Kota Meksiko.

Mereka yang selamat dari pertempuran, mengungsi ke Guanajuatu kemudian ke Gudalajara.

Mayoritas para pemberontak adalah petani dan India yang sedikit pelatihan berperang dan menggunakan pisau dan tombak sebagai senjata.

Pihak revolusioner kemudian merencanakan strategi pertahanan di dekat sebuah jembatan yang berada di atas Sungai Calderon.

Pasukan pemberontak yang berjumlah sekitar 100.000 orang sedangkan para royalis hanya 6.000 orang.

Para royalis yang dipimpin Jenderal Felix Maria Calleja del Rey memang kalah jumlah, tetapi mereka adalah prajurit profesional dan memilik persenjataan lebih baik, didukung kavaleri dan artileri.

Para royalis juga bertempur dengan sangat berani.

Pada 16 Januarai 1811, Alleja dan pasukannya sudah mencapai jembatan dan berencana menyerang keesokan harinya.

Alleja berhasil meledakkan timbunan amunisi milik para pemberontak dan melukai mereka.

Peristiwa ini memberikan dampak psikologis yang hebat untuk para pemberontak, memaksanya mundur ke utara.

Royalis Spanyol membunuh para pemberontak yang berusaha kabur.

Hidalgo, Allende, dan para pemimpin pemberontakan lari ke perbatasan Mexico – Amerika Serikat.

Kelanjutan

Hidalgo melepaskan jabatannya sebagai pemimpin pemberontakan dan digantikan Allende.

Para pemberontak menerima undangan untuk bertemu Jenderal Ignacio di Coanhuila dan berharap dapat membeli persenjataan.

Namun, ternyata itu adalah tipuan dan mereka segera ditangkap untuk diadili di Chihuahua.

Allende, Aldama, dan Jimenez dieksekusi pada 26 Juni 1811 sementara Hidalgo dan Abasolo dipenjara seumur hidup di Cadiz, Spanyol.

Meksiko akhirnya merdeka pada 1821 dan Jembatan Calderon dinyatakan sebagai monumen historis pada 1932. (Uli)

INDOLINEAR.TV